Tawadhu’??

Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku, hendaklah kalian tawadhu (merendahkan hati) hingga seseorang tidak bersikap sombong kepada yang lain dan tidak ada seseorang yang berbuat zalim kepada yang lain. (HR Muslim)

Tawadhu menurut fudhail bin iyadh ialah engkau menundukkan dirimu untuk menerima kebenaran dan mematuhinya meskipun engkau mendengarnya dari anak kecil atau dari orang yang paling bodoh, dan engkau tetap menerimanya.

Abdul malik bin marwan pun berkata bahwa orang yang paling utama adalah yang bersikap tawadhu  ketika memiliki kedudukan tinggi, bersikap zuhud (sederhana) ketika kaya dan mengalah ketika kuat.

orang yang paling tinggi kedudukannya ialah orang yang tidak melihat kelebihan pada dirinya dan orang yang paling banyak keutamaannya ialah orang yang tidak melihat keutamaannya. (imam syafi’i)

Tawadhu, salah satu kata yang mudah diucapkan namun susah untuk dilakukan,.

Ya Allah,

Hidupkanlah aku dalam keadaan khusu’ dan tawadhu’

matikanlah aku dalam keadaan khusu’ dan tawadhu

kumpulkanlah aku dalam barisan orang-orang yang khusu’ dan tawadhu’

(HR ibnu majah dan at-tirmidzi)

Kenalilah Masalahmu, Wahai Anak Muda

Mengenali masalah adalah sebagian dari solusi. Adapun kelemahan umum yang menonjol dari para aktivis da’wah kampus adalah:
1. Ta’ashub dan masalah keikhlashan yang kronis dikarenakan tazkiyatunnafs yang lemah.

menjadi masalah besar ketika kebenaran dimonopoli, kebenaran hanya ada pada kelompoknya dan tidak ada pada kelompok lainnya.
pun masalahnya menjadi lebih kronis, ketika mereka yang dilabeli sebagai aktivis dakwah lemah dalam tazkiyatunnafs, memiliki ego yang tinggi dan tidak peka pada kebenaran yang datang padanya.

2. Lemahnya tradisi ilmu.

harus mampu membuat prioritas dalam keilmuan dan mencarinya sampai akhir hayat, sayang sekali, worldview islam terkait ilmu masih belum tertanam dengan baik

3. Hilangnya adab terhadap diri, ilmu, ustadz, ‘ulama, dan sesama pengemban da’wah.

bener-bener, setidaknya ga boleh lupa untuk mendoakan yang terbaik bagi mereka

4. Manajemen dan organisasi yang buruk.

etos kerja lembek, kurang disiplin dan konsisten.

5. Tergesa-gesa namun tidak istimrar dan istiqamah.

pengennya serba instant kek mie, mesti banyak belajar lagi emang

6. Militansi yang mudah meletup dan mudah juga melentur.

galau tingkat tinggi, mesti sering-sering diingatkan

-dikembangkan dari nasehat pak usep PIMPIN BDG-

Hidup untuk dakwah? semoga…^^

Sekali Lagi Tentang Dakwah

Engkau yang membuatku terikat.
Engkau pula yang membuatku terpikat.
Walau kutahu
Jalan padamu jauh, sukar, sepi, menanjak lagi berduri
tapi ya itu, ini terkait rasa,
dimana aku telah erat terikat dan dalam terpikat,
padamu…

semoga aku bisa selalu bisa bersamamu,
sampai hela nafas terakhirku…
amin

begitulah,

kadang ketidaktahuan atas suatu hal

itu lebih menenangkan

dan jauh lebih sederhana

sesederhana aku dan kamu

yang tidak saling mengetahui

Kerinduan dan Keyakinan Itu, Adakah Ia dalam Benakmu?

Sebagai umat islam, kita pasti akan berhasil menegakkan sebuah tatanan baru ditengah masyarakat dunia. Kita tidak pernah bisa mempercayai bahwa akan ada tatanan baru yang lahir dari rahim kapitalisme, komunisme, sosialisme, demokrasi atau liberalisme. Karena pada dasarnya, jika memang kelak nanti akan muncul sebuah tatanan dunia baru yang sempurna maka itu adalah tatanan dunia islam yang akan dialami oleh generasi masa depan sebagai era kebangkitan islam.

Adalah sebuah ‘kelahiran baru’ ketika seluruh masyarakat dunia akan kembali menimba ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral dari islam. Bahkan dari islam pula mereka akan mempelajari pemahaman baru terhadap seni sehingga mereka akan menemukan sebuah seni sejati yang sama sekali berbeda dengan seni yang kita kenal saat ini. Pada saat itu seluruh dunia akan mendengar alunan musik yang kita mainkan dengan perasaan dan romantisme yang sama. Pada saat itu, umat islam akan memiliki pendirian yang sangat kokoh dalam segala bidang, baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun seni, baik bidang pemikiran maupun akhlak, sebab kitalah yang akan menjamin masa depan dunia.

Dalam meniti kemajuan ini yang menjadi semboyan kita adalah persatuan dan kemajuan, sementara sumber kekuatan kita adalah iman dan kebenaran. Selama ini, semua golongan selain kita yang menempuh jalan lain selalu gagal memberi obat bagi umat manusia karena mereka tidak memiliki iman dan akhlak. Kitalah yang kini menerima kemuliaan dari Allah sehingga kita tetap menjadi orang-orang yang mulia dihadapanNya. Semua itu dapat terwujud berkat anugerah Allah yang telah mempersatukan hati kita dan karena kita selalu bernaung dibawah sikap berserah diri kepadaNya serta karena ketulusan kita menjadikan umat sebagai hal terpenting melebihi semua perkara dunia lainnya.

Berapa banyak orang yang bersama dengan kita, tapi bukan bagian dari kita
Dan berapa banyak orang yang bagian dari kita, tapi tidak bersama kita ..
Berjam’aah itu berkumpul di atas al-haq … apapun label nya …
Saya selalu yakin, mereka yang punya kerinduan yang sama, yaitu :
(1) tegaknya agama Allah di dunia, dan
(2) berkumpul di syurga kelak
pasti akan dipertemukan jalannya untuk bersatu dan bertaut, 
demikianlah sunnah-Nya … 
“Ruh-ruh adalah seperti tentara yang berbaris-baris, maka yang saling mengenal akan bersatu dan yang saling mengingkari akan berselisih.” (bahasanya Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, riwayat Bukhori)
jadi tugas kita saat ini sederhana saja, meluruskan kerinduan dan terus mencari kebenaran (al-haq).

Pewaris Para Nabi

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” 
(Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Sesungguhnya para ulama dan cendikiawanlah yang telah berperan menjalankan tugas mereka untuk kita. Merekalah yang membuka wawasan kita yang tertutup serta menggerakan nalar kita yang selama ini jauh dari ‘langit’ nilai-nilai ilahiyah yang selalu berotasi di garis orbit Al-Qur’an. Mereka tidak pernah alpa terhadap segala rahasia yang terkandung dibalik jagat raya, manusia dan kehidupan. Mereka selalu menjadi suri teladan bagi umat beragama karena merekalah yang terus mengimplementasikan semua perintah agama secara maksimal. Merek selalu menjaga hal-hal pokok (ushul) sembari tetap menempuh jalan kebenaran dengan mengikuti perintah syar’i untuk selalu mencari yang mudah, pas dan toleran. Merekalah yang mengobati semua penyakit akut yang diterima umat islam selama berabad-abad dengan menggunakan kekuatan ilmu dan perenungan atas otoritas ajaran islam beserta segala penafsirannya.

Para ulamalah yang telah mengubah semua tempat, baik sekolah maupun masjid, baik jalan umum maupun rumah menjadi tempat-tempat perenungan terhadap hakikat kebenaran yang terkandung dibalik entitas, kehidupan dan manusia. Mereka berhasil membuka jendela menuju penglihatan transendental yang telah tertutup selama berabad-abad. Merekalah yang membangun ‘bala tentara islam’ yang mampu menerapkan ajaran syariat pada seluruh aspek kehidupan. Mereka mampu mengasah sensitifitas pada diri umat hingga mereka mampu menemukan cara yang tepat untuk mencapai tujuan tertentu. Dan mereka mampu melakukan olah batin dan olah nalar dengan baik. Mereka itulah yang telah membantu umat islam untuk melakukan pembaruan serta mengajarkan kepada kita semua landasan terpenting yang dibutuhkan dalam kehidupan akhirat yang kekal.

Para ulama dan cendikiawanlah yang berperan menjadi ‘otak’ bagi ‘tubuh’ masyarakat muslim. Mereka akan selalu berdialog dengan semua ‘anggota tubuh’ yang lain untuk kemudian menyampaikan arahan yang tepat bagi seluruh ‘sel’ di tubuh umat. Merekalah yang membisikkan spiritualitas dan nilai moral kepada umat sejak dulu dan semakin menggiat  saat ini untuk kemudian berlanjut ke masa mendatang.

Merekalah orang-orang yang berkhidmat demi seluruh umat. Mereka sigap mengasuh dan menanamkan nilai-nilai akhlak pada anak-anak kita disekolah sebagaimana mereka juga siap mengayomi anak-anak terlantar yang terlunta-lunta dijalanan. Merekalah yang menuangkan kebenaran kedalam hati setiap kita. Merekalah yang membekali kita dengan berbagai hal bermanfaat dan keterampilan hidup demi mengangkat harkat kemanusiaan setiap orang menuju kesempurnaan sebagai insan yang suci dari noda sejarah melalui sekolah, perguruan tinggi, tempat ibadah dan berbagai sarana lainnya.

Merekalah yang selalu mengisi surat kabar, majalah, radio, televisi dan berbagai bentuk media massa lainnya untuk menjadikan semua itu sebagai corong dakwah islam yang disatu sisi berfungsi sebagai pembimbing masyarakat luas agar mereka dapat menghindari berbagai pengaruh buruk yang menyebar luas ditengah mereka.

Merekalah orang-orang yang menyelenggarakan proses pendidikan dan pengajaran yang dinamis serta selalu berubah mengikuti perkembangan untuk menghadapi tantangan zaman baik dari luar maupun dari dalam. Melalui pendidikan, mereka menanamkan nilai-nilai ajaran islam yang luhur dan kemudian menjabarkannya agar dapat menjawab tantangan zaman yang selalu berubah mengikuti laju sejarah. Semua itu mereka lakukan agar semua institusi pendidikan islam dapat menjadi lembaga yang memiliki tujuan serta cita-cita yang jelas, lengkap dengan program, langkah-langkah serta metodologi pengajaran yang baik.

Muhammad Fethullah Gullen, Bangkitnya Spiritualitas islam

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Jika engkau bisa, maka jadilah seorang ulama
Jika engkau tidak bisa menjadi seorang ulama, maka jadilah pencari ilmu
Jika engkau tidak bisa menjadi seorang pencari ilmu, maka cintailah mereka
Jika engkau tidak bisa mencintai mereka, maka janganlah engkau membenci mereka
-Umar bin Abdul Aziz-

Barisan Pengganti Qishasmu

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa setelah dekat waktu wafatnya, Rasulullah memerintahkan Bilal supaya azan. Memanggil manusia untuk sholat berjama’ah. Maka berkumpulah kaum Muhajirin dan Anshor ke Masjid Rasulullah. Setelah selesai sholat dua raka’at yang ringan kemudian beliau naik ke atas mimbar lalu mengucapkan puji dan sanjung kepada Allah swt, dan kemudian beliau membawakan khutbahnya yang berkesan, membuat hati terharu dan menangis mencucurkan air mata.

Beliau berkata :

“Sesungguhnya saya ini adalah Nabimu, pemberi nasihat dan da’i yang menyeru manusia ke jalan Allah dengan izin-Nya. Aku ini bagimu bagaikan saudara yang penyayang dan ayah yang pengasih. Siapa yang merasa teraniaya olehku di antara kamu semua, hendaklah dia bangkit berdiri sekarang juga untuk melakukan qishas kepadaku sebelum dia melakukannya di hari Kiamat nanti”.

Sekali dua kali beliau mengulangi kata-katanya itu, dan baru pada ketiga kalinya, berdiri seorang laki-laki bernama Ukasyah Ibnu Muhsin. Ia berdiri di hadapan Nabi  sambil berkata: “Ibuku dan ayahku menjadi tebusanmu ya Rasullah. Kalau tidaklah karena engkau telah berkali-kali menuntut kami supaya berbuat sesuatu atas dirimu, tidaklah aku akan berani tampil untuk memperkenankannya sesuai dengan permintaanmu. Dulu, aku pernah bersamamu di medan perang Badar sehingga untaku berdampingan sekali dengan untamu, maka aku pun turun dari atas untaku dan aku menghampiri engkau, lantas aku pun mencium paha engkau. Kemudian engkau mengangkat cambuk memukul untamu supaya berjalan cepat, tetapi engkau sebenarnya telah memukul tulang rusuk ku, saya tidak tahu apakah itu dengan engkau sengaja atau tidak ya Rasul Allah, ataukah barangkali maksudmu dengan itu hendak memukul untamu sendiri? ´Rasulullah berkata: “Wahai ‘Ukasyah, Rasulullah sengaja memukul kamu.”

Kemudian Nabi menyuruh Bilal supaya pergi ke rumah Fatimah. Bilal segera ke luar Masjid dengan tangannya diletakkan di atas kepala. Dia heran dan tak habis fikir. Diketuknya pintu rumah Fatimah, tuan rumah menyahut dari dalam : “Siapakah di luar?”, “Saya datang kepadamu untuk mengambil cambuk Rasulullah” jawab Bilal. “Duhai bilal, apakah yang akan dilakukan ayahku dengan cambuk ini?” tanya Fatimah kepada Bilal.”Ya Fatimah! Ayahmu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengambil qishas terhadap dirinya.” Bilal menegaskan.

“Siapakah pula gerangan orang itu yang sampai hati mengqishas Rasulullah?” tanya Fatimah keheranan. Biarlah saya saja yang menjadi ganti untuk dicambuk.” Bilal r.a. tidak menjawab pertanyaan Fatimah r.a., Fatimah r.a. memberikan cambuk tersebut, Bilal pun mengambil cambuk tersebut dan membawanya masuk Masjid, lalu diberikannya kepada Rasulullah, dan Rasulullah pun menyerahkannya ke tangan Ukasyah.

Suasana mulai tegang. Semua sahabat bergerak. Semua berdiri. Jangankan dicambuk, dicolek saja, ia akan berhadapan dengan kami. Mungkin begitu mereka bicara dalam hati. Semua mata merenung. Memandang Ukasyah dan sebilah cambuk. Saat itulah, Abu Bakar dan Umar r.a. bicara, “Hai Ukasyah! kami sekarang berada di hadapanmu, pukul qishaslah kami berdua, dan jangan sekali-kali engkau pukul Rasulullah!” Saat itu Umar mulai meraba pedangnya. Seandainya saja dia diizinkanakan memenggal kepala orang yang menyakiti Rasulullah. Rasulullah menahan dua sahabatnya. Berkata sang pemimpin yang dicintai ini: “Duhai sahabatku, duduklah kalian berdua, Allah telah mengetahui kedudukan kamu berdua!”

Kemudian berdiri pula Ali bin Abi Tholib sambil berkata lebih garang dari sahabat Abu Bakar : “Hai Ukasyah! Aku ini sekarang masih hidup di hadapan Nabi Aku tidak sampai hati melihat kalau engkau akan mengambil kesempatan qishas memukul Rasulullah. “Inilah punggungku, maka qishaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tangan engkau sendiri!”

Ali tampil ke muka. Memberikan punggungnya dan jiwa serta cintanya buat orang yang dicintainya. Subhanallah, dia tak rela sang Rasul disakiti. Ia merelakan berkorban nyawa untuk sang pemimpin. Nabi pun menahan. “Allah swt telah tahu kedudukanmu dan niatmu, wahai Ali!” Ali surut, bergantianlah kemudian tampil dua kakak beradik, Hasan dan Husein. “Hai Ukasyah! Bukankah engkau telah mengetahui, bahwa kami berdua ini adalah cucu kandung Rasulullah, dan qishaslah kami dan itu berarti sama juga dengan mengqishas Rasulullah sendiri!” Tetapi Rasulullah menegur pula kedua cucunya itu dengan berkata. Duduklah kalian berdua, duhai penyejuk mataku.”

Dan akhirnya Nabi berkata: Hai Ukasyah! pukullah aku jika engkau berhasrat mengambil qishas!” “Ya Rasul Allah! sewaktu engkau memukul aku dulu, kebetulan aku sedang tidak lekat kain di badanku,” Kata Ukasyah. Kembali suasana semakin panas dan tegang. Semua orang berfikir, apa maunya si Ukasyah ini. Sudah berniat mencambuk Rasul, dia malah meminta Rasul membuka baju. Kurang ajar sekali si Ukasyah ini. Apa maunya orang ini. Tanpa bicara.Tanpa kata. Rasulullah membuka bajunya. Semua yang hadir menahan nafas. Banyak yang berteriak sambil menangis. Tak terkecuali, Ukasyah , Ada yang tertahan di dadanya.

Ukasyah segera maju melangkah, melepas cambuknya dan kejadian selanjutnya, tatkala dia melihat tubuh Rasulullah dan tanda kenabian beliau, ia segera mendekap tubuh Nabi sepuas-puasnya berkata sambil berlinang air mata : “Tebusanmu adalah Rohku ya Rasullallah, siapakah yang  sampai hatinya untuk  mengqishas engkau ya Rasul Allah? Saya sengaja berbuat demikian hanyalah karena berharap agar supaya tubuhku dapat menyentuh tubuh engkau yang mulia, dan agar supaya Allah swt dengan kehormatan engkau dapat menjagaku dari sentuhan api neraka.”

Akhirnya berkatalah Nabi saw, “Ketahuilah wahai para sahabat! barangsiapa yang ingin melihat penduduk Syurga, maka melihatlah kepada lelaki ini.” Lantas bangkit berdirilah kaum Muslimin beramai-ramai mencium Ukasyah di antara kedua matanya. semua rasa yang ada dihati mereka yang bercampur aduk, kini menyisakan rasa cinta dan penghormatan yang luar biasa satu dengan yang lainnya.

Allahumma sholli ‘ala Muhammad, Yaa Robbi sholli ‘alaihi wassalim 

 

Adakah diri ini berada dalam barisan itu?

Barisan pengganti qishasmu

Tak relakah diri menyaksikan engkau terluka?

Berdirikah kaki  tuk rela mengganti dirimu?

Keluarkah kata-kata cinta untuk melisankan keinginanku?

Siapkah badan ini menanggung luka demi cinta padamu?

Melelehkah mata ini membayangkan engkau menyerih karena lukamu ?

Iya, ya Rasul

Diri ini siap tuk berdiri memasang badan, berbicara lantang berurai air mata

Menanggung semuanya

Kamilah, barisan pengganti qishasmu