Archive for the ‘ pemikiran ’ Category

Kerinduan dan Keyakinan Itu, Adakah Ia dalam Benakmu?

Sebagai umat islam, kita pasti akan berhasil menegakkan sebuah tatanan baru ditengah masyarakat dunia. Kita tidak pernah bisa mempercayai bahwa akan ada tatanan baru yang lahir dari rahim kapitalisme, komunisme, sosialisme, demokrasi atau liberalisme. Karena pada dasarnya, jika memang kelak nanti akan muncul sebuah tatanan dunia baru yang sempurna maka itu adalah tatanan dunia islam yang akan dialami oleh generasi masa depan sebagai era kebangkitan islam.

Adalah sebuah ‘kelahiran baru’ ketika seluruh masyarakat dunia akan kembali menimba ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral dari islam. Bahkan dari islam pula mereka akan mempelajari pemahaman baru terhadap seni sehingga mereka akan menemukan sebuah seni sejati yang sama sekali berbeda dengan seni yang kita kenal saat ini. Pada saat itu seluruh dunia akan mendengar alunan musik yang kita mainkan dengan perasaan dan romantisme yang sama. Pada saat itu, umat islam akan memiliki pendirian yang sangat kokoh dalam segala bidang, baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun seni, baik bidang pemikiran maupun akhlak, sebab kitalah yang akan menjamin masa depan dunia.

Dalam meniti kemajuan ini yang menjadi semboyan kita adalah persatuan dan kemajuan, sementara sumber kekuatan kita adalah iman dan kebenaran. Selama ini, semua golongan selain kita yang menempuh jalan lain selalu gagal memberi obat bagi umat manusia karena mereka tidak memiliki iman dan akhlak. Kitalah yang kini menerima kemuliaan dari Allah sehingga kita tetap menjadi orang-orang yang mulia dihadapanNya. Semua itu dapat terwujud berkat anugerah Allah yang telah mempersatukan hati kita dan karena kita selalu bernaung dibawah sikap berserah diri kepadaNya serta karena ketulusan kita menjadikan umat sebagai hal terpenting melebihi semua perkara dunia lainnya.

Berapa banyak orang yang bersama dengan kita, tapi bukan bagian dari kita
Dan berapa banyak orang yang bagian dari kita, tapi tidak bersama kita ..
Berjam’aah itu berkumpul di atas al-haq … apapun label nya …
Saya selalu yakin, mereka yang punya kerinduan yang sama, yaitu :
(1) tegaknya agama Allah di dunia, dan
(2) berkumpul di syurga kelak
pasti akan dipertemukan jalannya untuk bersatu dan bertaut, 
demikianlah sunnah-Nya … 
“Ruh-ruh adalah seperti tentara yang berbaris-baris, maka yang saling mengenal akan bersatu dan yang saling mengingkari akan berselisih.” (bahasanya Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, riwayat Bukhori)
jadi tugas kita saat ini sederhana saja, meluruskan kerinduan dan terus mencari kebenaran (al-haq).

Iklan

Pewaris Para Nabi

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” 
(Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Sesungguhnya para ulama dan cendikiawanlah yang telah berperan menjalankan tugas mereka untuk kita. Merekalah yang membuka wawasan kita yang tertutup serta menggerakan nalar kita yang selama ini jauh dari ‘langit’ nilai-nilai ilahiyah yang selalu berotasi di garis orbit Al-Qur’an. Mereka tidak pernah alpa terhadap segala rahasia yang terkandung dibalik jagat raya, manusia dan kehidupan. Mereka selalu menjadi suri teladan bagi umat beragama karena merekalah yang terus mengimplementasikan semua perintah agama secara maksimal. Merek selalu menjaga hal-hal pokok (ushul) sembari tetap menempuh jalan kebenaran dengan mengikuti perintah syar’i untuk selalu mencari yang mudah, pas dan toleran. Merekalah yang mengobati semua penyakit akut yang diterima umat islam selama berabad-abad dengan menggunakan kekuatan ilmu dan perenungan atas otoritas ajaran islam beserta segala penafsirannya.

Para ulamalah yang telah mengubah semua tempat, baik sekolah maupun masjid, baik jalan umum maupun rumah menjadi tempat-tempat perenungan terhadap hakikat kebenaran yang terkandung dibalik entitas, kehidupan dan manusia. Mereka berhasil membuka jendela menuju penglihatan transendental yang telah tertutup selama berabad-abad. Merekalah yang membangun ‘bala tentara islam’ yang mampu menerapkan ajaran syariat pada seluruh aspek kehidupan. Mereka mampu mengasah sensitifitas pada diri umat hingga mereka mampu menemukan cara yang tepat untuk mencapai tujuan tertentu. Dan mereka mampu melakukan olah batin dan olah nalar dengan baik. Mereka itulah yang telah membantu umat islam untuk melakukan pembaruan serta mengajarkan kepada kita semua landasan terpenting yang dibutuhkan dalam kehidupan akhirat yang kekal.

Para ulama dan cendikiawanlah yang berperan menjadi ‘otak’ bagi ‘tubuh’ masyarakat muslim. Mereka akan selalu berdialog dengan semua ‘anggota tubuh’ yang lain untuk kemudian menyampaikan arahan yang tepat bagi seluruh ‘sel’ di tubuh umat. Merekalah yang membisikkan spiritualitas dan nilai moral kepada umat sejak dulu dan semakin menggiat  saat ini untuk kemudian berlanjut ke masa mendatang.

Merekalah orang-orang yang berkhidmat demi seluruh umat. Mereka sigap mengasuh dan menanamkan nilai-nilai akhlak pada anak-anak kita disekolah sebagaimana mereka juga siap mengayomi anak-anak terlantar yang terlunta-lunta dijalanan. Merekalah yang menuangkan kebenaran kedalam hati setiap kita. Merekalah yang membekali kita dengan berbagai hal bermanfaat dan keterampilan hidup demi mengangkat harkat kemanusiaan setiap orang menuju kesempurnaan sebagai insan yang suci dari noda sejarah melalui sekolah, perguruan tinggi, tempat ibadah dan berbagai sarana lainnya.

Merekalah yang selalu mengisi surat kabar, majalah, radio, televisi dan berbagai bentuk media massa lainnya untuk menjadikan semua itu sebagai corong dakwah islam yang disatu sisi berfungsi sebagai pembimbing masyarakat luas agar mereka dapat menghindari berbagai pengaruh buruk yang menyebar luas ditengah mereka.

Merekalah orang-orang yang menyelenggarakan proses pendidikan dan pengajaran yang dinamis serta selalu berubah mengikuti perkembangan untuk menghadapi tantangan zaman baik dari luar maupun dari dalam. Melalui pendidikan, mereka menanamkan nilai-nilai ajaran islam yang luhur dan kemudian menjabarkannya agar dapat menjawab tantangan zaman yang selalu berubah mengikuti laju sejarah. Semua itu mereka lakukan agar semua institusi pendidikan islam dapat menjadi lembaga yang memiliki tujuan serta cita-cita yang jelas, lengkap dengan program, langkah-langkah serta metodologi pengajaran yang baik.

Muhammad Fethullah Gullen, Bangkitnya Spiritualitas islam

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Jika engkau bisa, maka jadilah seorang ulama
Jika engkau tidak bisa menjadi seorang ulama, maka jadilah pencari ilmu
Jika engkau tidak bisa menjadi seorang pencari ilmu, maka cintailah mereka
Jika engkau tidak bisa mencintai mereka, maka janganlah engkau membenci mereka
-Umar bin Abdul Aziz-

Terasa Indahkah Dalam Hatimu??

Dalam salah satu buku induk gerakan ikhwanul muslimin, majmuatur rasail (risalah pergerakan) yang langsung ditulis oleh ideolognya, hasan al bana, dijelaskan bahwasanya hal yang menjadi prioritas pertama dalam membangkitkan kembali peradaban islam adalah pembentukan pribadi muslim. Beliau memberikan 10 muwashofat (karakter) yang seharusnya dimiliki seorang muslim dalam rangka pembentukan pribadinya. Isitilah karakter memang sedang booming, apalagi pemerintah kita satu dasawarsa terakhir terus mensosialisasikan istilah pendidikan karakter ini, dengan objektif, bisa dikatakan pemerintahan kita keduluan 80-an tahun dari pendidikan karakter (muwashofat) yang gerakan ikhwanul muslimin lakukan. Belum lagi dengan pendidikan karakter yang pemerintah kita adopsi, terlihat masih gamang dan setengah-setengah, wajar saja hal ini terjadi jika pendidikan karakter tidak digali dari alquran dan sunnah.

Kesepuluh karakter tersebut adalah :

  1. Berfisik kuat
  2. Beakhlak kukuh
  3. Berwawasan luas
  4. Berusaha mandiri
  5. Beraqidah luruh
  6. Beribadah benar
  7. Mengekang hawa nafsu
  8. Mengatur waktu
  9. Disiplin dalam segala hal
  10. Bermanfaat bagi orang lain

Dalam tulisan ini tidak akan dibahas panjang mengenai tahapan prioritas maupun kesepuluh muwashofat diatas, semua bisa dibaca langsung dibuku risalah pergerakan beliau ataupun buku RUKUN AMAL karya ali abdul halim mahmud, insyaAllah masih relevan dengan kondisi kekinian dan sudah dalam pembahasannya.

Membentuk karakter-karakter tersebut diatas memang tidak semudah menggaruk kepala yang gatal, melainkan memerlukan proses yang panjang, sulit dan terkadang berliku. Oleh karenanya diperlukan suatu sistem dan proses yang baik dan terukur agar karakter tersebut bisa terwujud. Salah satu keluaran nyata (output) dari karakter-karakter diatas adalah amalan harian (amalan yaumiah) yang kemudian dikontrol dengan seksama (mutabaah). Mengapa kita harus tahu mengenai hal ini? Karena eh karena, kontrol yang paling utama dan pertama, sebenarnya, terletak pada MASING-MASING INDIVIDU SENDIRI.

 

Kinerja, Standar dan Potensi dalam Amalan Pribadi Muslim

Dalam melakukan kontrol harus dilihat dulu apakah amalan harian tersebut diukur secara kualitatif (mutu) ataukah secara kuantitatif (jumlah). Umumnya, pengukuran secara kuantitatif jauh lebih mudah daripada kualitatif. Pengukuran ini berpengaruh terhadap kontrol yang dilakukan.

Setidaknya ada 3 hal yang perlu diketahui dalam melakukan kontrol (mutabaah) amalan harian. Hal yang pertama adalah kinerja. Kinerja bisa diartikan sebagai kondisi eksisting dari amalan harian yang biasa dilakukan. Kedua adalah standar yang diartikan sebagai batas atau kriteria minimal dari suatu amalan harian. Dan ketiga adalah potensi yaitu kenerja maksimal dari setiap amalan yang bisa dilakukan.

Sebagai gambaran mengenai ketiga hal tersebut, bisa dilihat pada contoh dibawah.

Shalat

–          5 waktu jamaah (5*15’)

–          Qiyamullail 11 rakaat (30’)

–          Rawatib 12 rakaat (6*3’)

–          Dhuha 4 rakaat (15’)

Zikr dan alquran

–          Tilawah 1 juz (45’)

–          Murajaah hafalan (30’)

–          Alma’rsurat (2*15’)

Membaca (paralel)

Infaq sedekah (paralel)

Menjaga Wudhu (paralel)

Shaum sunnah (2*paralel)/pekan

Majelis ilmu (2*120’)/pekan

Pembinaann (5*90’)/pekan

Riyadoh (2*60’)/pekan

Menulis (1*120’)/pekan

Mabit (1*180’)/bulan

Toko buku (1*120’)/bulan

Pengukuran kualitatif bisa dilakukan dengan menghitung frekuensi amalan yang dilakukan maupun dengan durasi dari amalan tersebut. Misalnya, amalan-amalan diatas adalah STANDAR yang kita tetapkan, standar yang kita tetapkan sebaiknya tidak terlampau jauh dengan kinerja eksisting yang biasa kita lakukan (biar tidak kaget), dan ketika standar yang ada dirasa kurang mengakomodir setelah kurun waktu tertentu (misal pertiga bulan), standar yang ada bisa kita tingkatkan terus. Bukankah ini yang kita sebut istiqomah?

Sedangkan contoh kinerja yang dilakukan adalah sebagai berikut.

Shalat

–          4 waktu jamaah 1 munfarid (5*15’)

–          Qiyamullail 5 rakaat (15’)

–          Rawatib 10 rakaat (6*3’)

–          Dhuha 4 rakaat (15’)

Zikr dan alquran

–          Tilawah 0,5 juz (30’)

–          Murajaah hafalan (30’)

–          Alma’rsurat (2*15’)

Membaca (paralel)

Infaq sedekah (paralel)

Shaum sunnah (1*paralel)/pekan

Majelis ilmu (3*120’)/pekan

Pembinaann (5*90’)/pekan

Riyadoh (1*60’)/pekan

Menulis (2*120’)/pekan

Mabit (1*180’)/bulan

Toko buku (1*120’)/bulan

Hal ini berarti, ada beberapa kinerja amalan yang masih di bawah standar dan ada yang sudah diatas standar. Memang, musuh utama mengejar standar yang kita tetapkan adalah diri sendiri ( sifat malas) seolah-olah tidak yakin dengan janji-janji yang Allah berikan dan tidak mengetahui keutamaan setiap amalan. Padahal, jika dihitung berdasarkan durasi dibagi rata perhari, contoh standar diatas hanya menghabiskan waktu sekitar 6,5 jam dari 24 jam waktu kita, waktu yang mungkin jauh lebih sedikit dari waktu on line didunia maya.

Sedangkan potensi yang bisa dilakukan adalah pengukuran nilai maksimal dari setiap amalan yang ada, selama nilai tertinggi tersebut masih sesuai dangan aturan main (syariat) yang berlaku, tidak berlebihan.

Terasa Indahkah dalam Hatimu?

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekefiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.”

(QS. Al-Hujurat (49) : 7)

A : ustad, kenapa walaupun kita tahu terkait keutamaan-keutamaan suatu amalan, namun terkadang berat untuk melaksanakannya?

Z : (dibacakan surat alhujurat :7  diatas), mungkin iman yang antum punya belum terasa indah dihati, sebab bagi mereka yang merasakan keindahan iman dalam hatinya akan bersegera dalam setiap kebaikan yang terhampar didepannya.

A : *dan ternyata memang demikian

 

Yaa Allah,..Yaa Robb,..

Wahai Sang Penguasa Hati

Jadikanlah hati kami cinta terhadap keimanan

Dan jadikanlah iman itu terasa indah dihati kami

Serta jadikanlah hati ini benar-benar benci

Benci terhadap segala bentuk kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan

Sehingga kami bisa semakin dekat

Dan berharap Engkau akan mendekap erat

Dengan rahmat dan karuniaMu yang senantiasa kami harap

Betapa inginnya seperti mereka yang mampu menetapkan standar yang tepat pada dirinya, memiliki kinerja yang memuaskan atas apa yang diyakininya serta terus mengembangkan potensi dirinya dalam menghamba, ahh seandainya semudah menggaruk kepala yang tak gatal ini.

Komitmen Muslim Sejati part 1

Bismillah,

Bada tahmid dan shalawat

Kadang bingung, ada seseorang yang baru mengenal islam (muallaf) beberapa tahun tapi kemudian mengalami akseerasi pemahaman keislaman yang luar biasa, namun ada juga yang islam dari kecil tapi pemahaman terkait agamanya pas-pasan,bahkan bisa dibilang minim. Kenapa ya kira-kira??

Misalkan saja, tokoh-tokoh muallaf indonesia, felix y siaw dan thufail al ghifari, mereka ‘baru’ mengenal islam sekitar 10 tahun, tapi pemahamannya bahkan melampaui mereka yang mengaku islam dari kecil yang sekarang sudah senja.

Muncullah satu argumentasi menarik yang disampaikan fathi yakin dalam bukunya komitmen muslim sejati, bahwa hal-hal seperti ini bisa terjadi karena ada dan tidak adanya KOMITMEN. Contoh orang-orang diatas adalah mereka yang mampu memahami komitmen yang ada pada dirinya terhadap agamanya.

Lalu, apa komitmen muslim sejati itu? Komitmen yang katanya segelintir umat islam saja yang paham. Dalam bukunya, fathi yakan membaginya menjadi dua bagian, komitmen terhadap islam dan komitmen terhadap jamaah (afiliasi pergerakan islam).

KOMITMEN TERHADAP ISLAM

Islam adalah agama yang sangat modern dan intelek sekaligus sangat mudah dipahami. Desain dan konstruksinya tidak usah repot membuat tinggal meniru pihak yang mempunyai otoritas untuk membuatnya, Muhammad Rasullullah. Dan sebagai umat islam, bersyukurlah karena akan selalu ada para ulama dan dai yang meneruskan risalah Muhammad sampai kiamat nanti.

Dan inilah, konstruksi yang saya pahami dari beberapa sumber, sepersis mungkin meniru konstruksi yang nabi kita bangun. konstruksi yang terdiri dari tiga lantai dengan pilar-pilar di tiap lantainya. sekali-kali nulis pakai bahasa civil engineer lah yaa.

1. 4 pilar (kolom) Lantai pertama

Lantai ini merupakan dasar dari setiap muslim untuk manjalankan agamanya.

Pilar pertama adalah ilmu, pemahaman yang benar terkait ilmu yang sumbernya sangat jelas, Alquran dan assunnah (hadits). Ilmu ini bisa didapatkan melalui mejelis-majelis ilmu (taklim), membaca, maupun diskusi. Ilmu menjadi BASIC seorang muslim untuk kemudian berkomitmen terhadap islam.

Pilar kedua adalah amal (perbuatan), bagi yang muda-muda kek kita, kaidahnya  mudah saja, mengamalkan ilmu dan mengilmui amal. Bagian-bagian dari dien ini yang sudah kita ketahui, semaksimal mungkin diamalkan, dan bagian-bagian dari dien yang teramalkan harus dicari ilmunya. Syarat dari amal ini cuman dua, yang pertama adalah ittiba (mengikuti rasul), bisa juga kita sebut tahu dasar yang pertama (ilmu) dan yang kedua adalah ikhlas, lillahi ta’ala, bagian pertama mungkin tinggal search gugel  klo lagi butuh (kek tulisan ini), tapi bagian yang kedua, mesti dilatih. (jadi keingetan petuah bang deddy mizwar di film kiamat sudah dekat tentang ilmu ikhlas, kurang lebih seperti itulah)

Pilar yang ketiga adalah dakwah, mengajak kepada kebaikan islam dan mencegah dari kemungkaran, mengajak kepada ISLAM karena ALLAh. Setiap muslim berkewajiban melakukannya sesuai dengan kemampuan dan kesaggupannya. Bisa berhari-hari jika kita membicarakan hal yang satu ini.

Pilar yang keempat adalah SABAR. Sabar dalam menjalani ketiga pilar diatas, karena memang banyak sekali godaan dan alasan untuk bisa membangun ketiga pilar diatas sehingga bisa kokoh dan tahan lama. Jadi ya idealnya, orang yang istiqomah adalah orang yang keempat pilar tadi semakin kuat dan meningkat dari waktu ke waktu. Semoga yang membuat dan membaca tulisan ini termasuk didalamnya.

 

2. 3 pilar lantai kedua

Lantai kedua adalah bagian (domain) dari agama kita. Bagian ini terdiri dari tiga pilar domain yang sebenarnya sudah kita ketahuin dari jaman SD.

Pilar pertama adalah aqidah. Aqidah adalah sistem kepercayaan atau keimanan yang tidak ada keraguan sedikitpun bagi yang mempercayainya. Pilar inilah yang kemudian secara fundamental membedakan islam dengan agama yang lain. Bagian-bagian dari aqidah misalnya adalah tauhid (pengesaan Allah yang merupakan Konsepsi ketuhanan) yang biasa dijabarkan menjadi  tiga bagian, tauhid rububiyah (Allah sebagai pencipta, pengatur, pemelihara, pemberi rizki, pemberi manfaat dan penjaga alam semesta), tauhid uluhiyah (Allah sebagai satu-satunya dzat yang disembah atau diibadahi) dan  tauhid asma wa sifat (nama dan karakterisitik Allah yang disampaikan melalui wahyu). Bagian yang lain dari aqidah adalah keyakinan terhadap hal-hal yang ghaib, adanya surga dan neraka serta adanya Rasul-rasul Allah yang mempunyai otoritas langit menyampaikan wahyu.

Pilar kedua adalah syariat. Syariat adalah ketentuan yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat muslim. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dari perkara masuk WC sampai perkara negara. Dari aturan individual sampai aturan komunal. Jika Allah dan RasulNya sudah menetapkan suatu perkara, maka umat islam TIDAK DIPERKENANKAN mengambil ketentuan lain. Karena memang terkait dengan ketentuan dan hukum, syariat islam tidak akan pernah lepas dari syarat dan rukun yang akhirnya membuat jelas apakah suatu perkara hukumnya wajib,  sunnah, mubah, makruh atau haram. fiqih-fiqih yang kita kenal juga bagian dari syariat islam. Seperti thaharoh (bersuci), shalat, zakat, puasa, HUDUD (hukum pidana), muamalah (ekonomi), nikah sampai jihad. Tingkatan selanjutnya setelah memahami hal fiqih-fiqih dasar diatas adalah mencoba memahami ushul fiqh, fiqh muwazanah (pertimbangan), fiqh ikhtilaf (perbedaan) dan fiqh awlawiyat (prioritas), karena kadang implementasi dilapangan yang mempunyai kendala yang beragam. Pelaksanaan menyeluruh syariat islamlah yang paling ‘susah’ untuk dilakukan dibandingkan domain yang lain, sehingga sering sekali syariat islam menjadi pars prototo dari islam itu sendiri.

Pilar ketiga adalah akhlak. Akhlak adalah tingkat laku, habit yang melekat pada diri seseorang. Akhlak juga bisa disebut karakter atau sifat yang dimiliki individu. Beruntung, sebagai muslim kita mempunyai standar terbaik dalam perkara akhlak yaitu baginda Rasul Muhammad SAW. Jujur, perilaku baik, malu, rendah hati dan sabar adalah bagian dari akhlak. Banyak yang bilang berislam cukup berakhlak baik saja, padahal itu tidak cukup, dua domain sebelumnya juga harus dipahami dan dilaksanakan.

3. Tiga pilar lantai 3

Lantai selanjutnya adalah manhaj (sistem pemahaman dan pengenalan, recognize). Manhaj islam terdiri dari tiga pilar. Yaitu komprehensif, seimbang dan memudahkan.

Pilar pertama adalah manhaj komprehensif/paripurna/syumul. Manhaj ini mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dalam dimensi panjang (rentang waktu dari kelahiran sampai kematian), lebar (aspek-aspek kehidupan) dan dalam (akal dan ruh, lahir dan batin, ucapan,perbuatan dan niat).

Pilar kedua adalah manhaj yang seimbang/ pertengahan/moderat. Manhaj ini mencakup keseimbangan antara ruh dan jasad, akal dan kalbu, dunia dan akherat, alam ghaib dan kasatmata, kebebasan dan tanggung jawab, perorangan dan kelompok, ittiba dan ibtida (tidak ada contoh dari rasul).

Pilar ketiga adalah manhaj yang memudahkan/meringankan/melapangkan. Manhaj ini mencakup keringanan-keringanan yang melekat dalam islam.

Ketiga hal inilah yang merupakan karakteristik manhaj islam.

Komitmen kepada islam, dimulai dengan pemahaman yang utuh dan benar tentang dien ini, yang dijaman sekarang, hampir tidak pernah sepi akan fitnah bahkan hujatan. Tapi yakinlah, akan selalu ada manusia-manusia yang membela dengan gagah dan cerdas dien ini, manusia-manusia yang kemudian terikat kuat dengan komitmen, komitmen dirinya sebagai muslim sejati.

 

 

 

Sekolah Kehidupan

Di tulis dari para pejuang
Dari nafas setiap butir peluru dan nyanyian batu
Inilah kisah semangat yang lahir dari setiap butiran debu
Yang meronta taklukan pertempuran sejarah kalbu
Yang bertahan diantara lusinan tank baja para penjajah
Perampas moral pembual dari ukiran amis darah tirani bebal
Inilah Diskografi Kesturi Bumi Yang Ditulis bersama darah

Ringkihan tetesan airmata saksi tanah syuhada
Pada bab per bab perjuangan yang tak kenal lelah
Disetiap gerilya para mujahidin yang tak pernah gentar
Membakar sejarah kebohongan media boneka zion
Ketika tesis konspirasi coba rangkai shiffin di wajah kaderisasi para syuhada
Tapi kami telah bersumpah untuk takkan menyerah
Merangkai tirai kebangkitan Islam apapun resikonya

Inilah kemuliaan hidup yang diperjuangkan
Terjaga dalam semangat Islam yang harus tetap bertahan
Dalam stabilitas harapan dan konsistensi
Menuju kesuksesan akhir yang signifikan
Kita pernah belajar
Tentang Khalifah Umar yang membawa Islam ke ujung Andalusia
Atau ibnu sina dan pelopor kecerdasan Umat Manusia
Hingga Khawarijmi dan angka matematika yang menginspirasi sepanjang massa

Di sekolah kehidupan ini
Pendaftaran dirimu dimulai dari komitmen dan ketulusan hati
Kualitas ikhlas dan keteguhan yang hakiki
Dimulai dari kepekaan hati yang bersih
Untuk mereka yang mau belajar dalam cinta sang Penguasa Semesta
Yang menciptakan siang dan malam dalam keseimbangan yang begitu mempesona
Pengibur setiap keistiqomahan jiwa yang tak kenal lelah

Dari Jakarta hingga Jalur Gaza
Dari setiap tanah yang dirampas kepalsuan media
Terhimpit zaman dan pengkhianatan norma
Jeruji besi dan kontradiksi pro kontra demokrasi
Generasi jembatan harokah adalah generasi solusi
Pengikat Mata hati jiwa yang menyimpan energi sehati
Dirangkai dari alunan syair ukhuwah yang takkan mati

Dalam setiap sketsa kisah baris – baris petuah Ibnu Khaldun
Dan gerilya nusantara Ibnu Batutah
Saudaraku, jagalah semangatmu ke Surga
Disana telah bersemayam janji Alloh sepanjang masa
Bergeraklah  dan jangan pernah menyerah
Pada dua umar sepatutnya nafas jiwa belajar
Untuk tak pernah gentar pada lusinan benteng bar bar
Meniti jejak hingga kita berjumpa kembali di telaga Al Kautsar

(Thufail Algifari)

Sesungguhnya Alloh telah membeli dari orang beriman diri dan harta mereka dengan surgaNya (QS Attaubah :111)

Shinichi Kudo aja bingung

The heart of the girl who one likes

How can one accurately deduce that

(shinichi kudo)

Sembilan puluh persen dari seluruh hukum yang berhubungan dengan kehidupan rumah tangga yang sampai ke tangan kita bersumber dari para istri Rasullullah SAW. (Fethullah Gulen)

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu: “Jika kamu sekalian mengingini kehidupan dunia dan perhiasannya, maka marilah supaya kuberikan kepadamu mut´ah dan aku ceraikan kamu dengan cara yang baik. Dan jika kamu sekalian menghendaki (keridhaan) Allah dan Rasulnya-Nya serta (kesenangan) di negeri akhirat, maka sesungguhnya Allah menyediakan bagi siapa yang berbuat baik diantaramu pahala yang besar.
(QS. Al-Ahzab : 28-29)

Dan yang saya tahu, MEREKA SEMUA memilih pilihan yang kedua, tidak ada yang salah pilih.

Sepertinya saya menemukan satu jurus jitu bagian yang bahkan sinichi kudou ga bisa menyimpulkan terlalu dalam, lebih banyak membaca dan mencoba memahami kisah istri-istri nabi Muhammad SAW.

(mencoba lebih memahami setiap gerak-gerik ibu, kakak, saudara yang cewe dan temen-temen akhwati yang saya punya, yang kadang-kadang aneh bin ajaib dimata saya)

Karena wanita ingin dimengerti.

Yakin ga yaaa???

Bismillah,.

Dari perbincangan menarik bersama teman-teman seperjuangan, didapatkan kesimpulan, setidaknya ada tiga prinsip keyakinan yang mesti dimiliki menjelang pernikahan:

– Prinsip keyakinan bahwasanya jika memang ianya adalah jodoh kita, maka akan tiba juga di ujungnya,mitsaqon ghalido. Biarpun tersendat disana-sini namun terasa lancar begitu saja dan biarpun susah minta ampun akan terasa mudah. Ga bakal tertuker dan salah alamat.

– Prinsip keyakinan bahwasanya Allah akan membukakan hati setiap pihak yang terlibat hingga nanti bisa sampai di ujungnya, mitsaqon gholido. Pertama, mungkin hati ikhwannya yang dibuka untuk kemudian memulai prosesnya. Setelahnya, mungkin hati akhwatnya. Dan seterusnya. Sehingga ada ketersalingan antar keduanya. Jangan terlalu memaksakan jika memang tidak ada ketersalingan didalamnya. Buat apa memperjuangkan seseorang yang tidak mau untuk diperjuangkan??

– Prinsip keyakinan bahwasanya tujuan yang ingin dicapai adalah kebaikan yang lebih besar tanpa menghancurkan kebaikan yang lain. Jangan sampai kemudian karena satu dan lain hal, membuat persahabatan, ukhuwah dan silaturahim yang telah dijalin sedemikian rupa menjadi hancur. Sayang banget kalau peluang kebaikan yang besar dimasa depan kemudian menjadi hilang karena asumsi-asumsi perasaan yang ada. Seolah-olah hubungan yang dijalin hanya sebatas waktu yang pendek saja. Bahkan bagi kita, orientasi hubungan bukan hanya didunia, tapi sampai ke jannahNya. Apapun ikatannya, tidak harus ikatan pernikahan bukan??

Maka beruntunglah mereka yang memahami arti cinta kemudian mempersiapkan diri sebaik-baiknya serta selalu memperbaiki diri sebenar-benarnya sampai nanti waktunya tiba untuk saling memperjuangkan satu sama lainnya.