Archive for the ‘ islam ’ Category

Sebaik -baik Perempuan

sebaik baik perempuan mungkin ada dipalestina
sembilan bulan mengusung kehamilan
diterik siang dan beku malam bukan untuk tujuan lainnya
tapi lahirkan penjaga-penjaga tanah para nabi

sebaik baik perempuan mungkin ada dipalestina
merawat hidup sambil tetap tersenyum
dan tak lupa berjaga dengan senjata
barangkali ada yang menggempur tiba-tiba

sebaik baik perempuan mungkin ada dipalestina
tiap kelahiran mereka didik dengan hapalan quran
sebab hanya ayat suci
yang mampu gentarkan kebiadaban tak berperi

sebaik baik perempuan mungkin ada dipalestina
tak tidur tak makan itu hal kecil terlalu biasa
berpuasa tak hanya dibulan suci
demi mendoakan perjuangan para kekasih hatinya

sebaik baik perempuan mungkin ada dipalestina
bukan hanya tentang perang atau mengusung senjata saat kehamilan
bukan hanya tentang lapar atau bertempur dengan keberanian
namun jiwa-jiwa ikhlas melepas semua yang tercinta
mengantar nyawa bertemu RasuNya, syahid…

sebaik baik perempuan mungkin ada dipalestina…

-liat di tvone,15072014, by peggy melati sukma-

96f5b7a4b52af4376a2f4cb606393647

Subhanallah, yang pusing…pusing… aja bisa jadi kek gini,.
Mardhotillah yaa Rob, mardhotillah…

Iklan

Seberapa Jauh Langkahmu?

bukan satu dua hari seperti perjalanan yang biasa kita lakukan,
melainkan butuh waktu hingga satu bulan perjalanan.
bukan padang ilalang dan pepohonan rindang yang biasa kau temukan,
melainkan gurun kering membakar menembus tulang.

bukan sepatu gunung anti slip yang biasa kau kenakan,
melainkan kaki kering terkelupas tiap tepian.
bukan satu tas penuh pakaian yang biasa kau siapkan,
melainkan hanya apa yang menempel dibadan.

bukan sekantung makanan yang biasa kau selipkan,
melainkan kurma kering yang hanya mampu dikecup selama perjalanan.
bukan berbotol air yang bisa kau minum tiap kali haus datang,
melainkan air yang bahkan untuk meminumnya harus menunggu terpanggang bibir dan tenggorokan.

bukan harta dan kampung halaman yang kau risaukan,
melainkan keadaan kekasihmu yang tak kunjung menyusul datang.
bukan karena apapun perjalanan yang mereka lakukan,
melainkan hanya karena mendalamnya keimanan.

bukan kenyamanan setelah kau sampai ditujuan,
melainkan peperangan untuk mempertahankan keimanan.
bukan musuh tak dikenal yang kemudian diacungkan pedang,
melainkan saudara dan ayah yang dulu mengecupmu ketika dalam buaian.

bukan cerita fiktif hasil rekaan,
melainkan kenyataan adanya generasi terbaik buah bibir ditiap peradaban.
bukan tentang fasilitas, pakaian, kendaraan atau kekayaan minim milik kalian,
melainkan teladan ketika hati merasakan indah keimanan.

 

lalu, seberapa jauh imanmu mampu membuatmu melangkah?

Do’a 15 Tahun Yang Lalu

Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya.

Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami. Rukunkan antar hati kami.
Tunjuki kami jalan keselamatan.
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang.
Jadikan kumpulan kami jama’ah orang muda yang menghormati orang tua.
Dan jama’ah orang tua yang menyayangi orang muda.
Jangan Engkau tanamkan di hati kami
kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman.
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan,
pengkhianatan dan kedengkian.

Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar.
Wahai yang menyambung segala yang patah.
Wahai yang menemani semua yang tersendiri.
Wahai pengaman segala yang takut.
Wahai penguat segala yang lemah.
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah.
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran.
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak.
Engkau Maha Tahu dan melihatnya.

Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu.
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu.
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur.
Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus.
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami.
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami,
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara.
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana pada kami.
“ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih”

Ya ALLAH, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu.
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu.
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu. Adil pasti atas kami keputusan-Mu.
Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu. Dengan semua nama yang jadi milik-Mu.
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu.
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu.
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu.
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib.

Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
sebagai musim bunga hati kami.
Cahaya hati kami.
Pelipur sedih dan duka kami.
Pencerah mata kami.

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh
dari taufan yang menenggelamkan dunia.
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim
dari api kobaran yang marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa
dari kejahatan Fir’aun dan laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa
dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam
dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat,
pasukan sekutu Ahzab angkara murka
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus
dari gelap lautan, malam, dan perut ikan
Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara

Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya

Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami
dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami
Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami.
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri.
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba
dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti.
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu
yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu.
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab.
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi
yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami,
ummati ummati, ummatku ummatku.
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan
semua kekayaan demi perjuangan.
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera.
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan

Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu
Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman.
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala.
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah.
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran.
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini kepada generasi berikut kami.
Jangan jadikan kami pengkhianat
yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini.
Dengan sikap malas dan enggan berda’wah.
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa.

Doa ini dilantunkan oleh K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Partai Keadilan, di Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 09 Agustus 1998, yang diiringi oleh tetesan air mata hadirin…

Tawadhu’??

Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku, hendaklah kalian tawadhu (merendahkan hati) hingga seseorang tidak bersikap sombong kepada yang lain dan tidak ada seseorang yang berbuat zalim kepada yang lain. (HR Muslim)

Tawadhu menurut fudhail bin iyadh ialah engkau menundukkan dirimu untuk menerima kebenaran dan mematuhinya meskipun engkau mendengarnya dari anak kecil atau dari orang yang paling bodoh, dan engkau tetap menerimanya.

Abdul malik bin marwan pun berkata bahwa orang yang paling utama adalah yang bersikap tawadhu  ketika memiliki kedudukan tinggi, bersikap zuhud (sederhana) ketika kaya dan mengalah ketika kuat.

orang yang paling tinggi kedudukannya ialah orang yang tidak melihat kelebihan pada dirinya dan orang yang paling banyak keutamaannya ialah orang yang tidak melihat keutamaannya. (imam syafi’i)

Tawadhu, salah satu kata yang mudah diucapkan namun susah untuk dilakukan,.

Ya Allah,

Hidupkanlah aku dalam keadaan khusu’ dan tawadhu’

matikanlah aku dalam keadaan khusu’ dan tawadhu

kumpulkanlah aku dalam barisan orang-orang yang khusu’ dan tawadhu’

(HR ibnu majah dan at-tirmidzi)

Kerinduan dan Keyakinan Itu, Adakah Ia dalam Benakmu?

Sebagai umat islam, kita pasti akan berhasil menegakkan sebuah tatanan baru ditengah masyarakat dunia. Kita tidak pernah bisa mempercayai bahwa akan ada tatanan baru yang lahir dari rahim kapitalisme, komunisme, sosialisme, demokrasi atau liberalisme. Karena pada dasarnya, jika memang kelak nanti akan muncul sebuah tatanan dunia baru yang sempurna maka itu adalah tatanan dunia islam yang akan dialami oleh generasi masa depan sebagai era kebangkitan islam.

Adalah sebuah ‘kelahiran baru’ ketika seluruh masyarakat dunia akan kembali menimba ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral dari islam. Bahkan dari islam pula mereka akan mempelajari pemahaman baru terhadap seni sehingga mereka akan menemukan sebuah seni sejati yang sama sekali berbeda dengan seni yang kita kenal saat ini. Pada saat itu seluruh dunia akan mendengar alunan musik yang kita mainkan dengan perasaan dan romantisme yang sama. Pada saat itu, umat islam akan memiliki pendirian yang sangat kokoh dalam segala bidang, baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun seni, baik bidang pemikiran maupun akhlak, sebab kitalah yang akan menjamin masa depan dunia.

Dalam meniti kemajuan ini yang menjadi semboyan kita adalah persatuan dan kemajuan, sementara sumber kekuatan kita adalah iman dan kebenaran. Selama ini, semua golongan selain kita yang menempuh jalan lain selalu gagal memberi obat bagi umat manusia karena mereka tidak memiliki iman dan akhlak. Kitalah yang kini menerima kemuliaan dari Allah sehingga kita tetap menjadi orang-orang yang mulia dihadapanNya. Semua itu dapat terwujud berkat anugerah Allah yang telah mempersatukan hati kita dan karena kita selalu bernaung dibawah sikap berserah diri kepadaNya serta karena ketulusan kita menjadikan umat sebagai hal terpenting melebihi semua perkara dunia lainnya.

Berapa banyak orang yang bersama dengan kita, tapi bukan bagian dari kita
Dan berapa banyak orang yang bagian dari kita, tapi tidak bersama kita ..
Berjam’aah itu berkumpul di atas al-haq … apapun label nya …
Saya selalu yakin, mereka yang punya kerinduan yang sama, yaitu :
(1) tegaknya agama Allah di dunia, dan
(2) berkumpul di syurga kelak
pasti akan dipertemukan jalannya untuk bersatu dan bertaut, 
demikianlah sunnah-Nya … 
“Ruh-ruh adalah seperti tentara yang berbaris-baris, maka yang saling mengenal akan bersatu dan yang saling mengingkari akan berselisih.” (bahasanya Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, riwayat Bukhori)
jadi tugas kita saat ini sederhana saja, meluruskan kerinduan dan terus mencari kebenaran (al-haq).

Barisan Pengganti Qishasmu

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa setelah dekat waktu wafatnya, Rasulullah memerintahkan Bilal supaya azan. Memanggil manusia untuk sholat berjama’ah. Maka berkumpulah kaum Muhajirin dan Anshor ke Masjid Rasulullah. Setelah selesai sholat dua raka’at yang ringan kemudian beliau naik ke atas mimbar lalu mengucapkan puji dan sanjung kepada Allah swt, dan kemudian beliau membawakan khutbahnya yang berkesan, membuat hati terharu dan menangis mencucurkan air mata.

Beliau berkata :

“Sesungguhnya saya ini adalah Nabimu, pemberi nasihat dan da’i yang menyeru manusia ke jalan Allah dengan izin-Nya. Aku ini bagimu bagaikan saudara yang penyayang dan ayah yang pengasih. Siapa yang merasa teraniaya olehku di antara kamu semua, hendaklah dia bangkit berdiri sekarang juga untuk melakukan qishas kepadaku sebelum dia melakukannya di hari Kiamat nanti”.

Sekali dua kali beliau mengulangi kata-katanya itu, dan baru pada ketiga kalinya, berdiri seorang laki-laki bernama Ukasyah Ibnu Muhsin. Ia berdiri di hadapan Nabi  sambil berkata: “Ibuku dan ayahku menjadi tebusanmu ya Rasullah. Kalau tidaklah karena engkau telah berkali-kali menuntut kami supaya berbuat sesuatu atas dirimu, tidaklah aku akan berani tampil untuk memperkenankannya sesuai dengan permintaanmu. Dulu, aku pernah bersamamu di medan perang Badar sehingga untaku berdampingan sekali dengan untamu, maka aku pun turun dari atas untaku dan aku menghampiri engkau, lantas aku pun mencium paha engkau. Kemudian engkau mengangkat cambuk memukul untamu supaya berjalan cepat, tetapi engkau sebenarnya telah memukul tulang rusuk ku, saya tidak tahu apakah itu dengan engkau sengaja atau tidak ya Rasul Allah, ataukah barangkali maksudmu dengan itu hendak memukul untamu sendiri? ´Rasulullah berkata: “Wahai ‘Ukasyah, Rasulullah sengaja memukul kamu.”

Kemudian Nabi menyuruh Bilal supaya pergi ke rumah Fatimah. Bilal segera ke luar Masjid dengan tangannya diletakkan di atas kepala. Dia heran dan tak habis fikir. Diketuknya pintu rumah Fatimah, tuan rumah menyahut dari dalam : “Siapakah di luar?”, “Saya datang kepadamu untuk mengambil cambuk Rasulullah” jawab Bilal. “Duhai bilal, apakah yang akan dilakukan ayahku dengan cambuk ini?” tanya Fatimah kepada Bilal.”Ya Fatimah! Ayahmu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengambil qishas terhadap dirinya.” Bilal menegaskan.

“Siapakah pula gerangan orang itu yang sampai hati mengqishas Rasulullah?” tanya Fatimah keheranan. Biarlah saya saja yang menjadi ganti untuk dicambuk.” Bilal r.a. tidak menjawab pertanyaan Fatimah r.a., Fatimah r.a. memberikan cambuk tersebut, Bilal pun mengambil cambuk tersebut dan membawanya masuk Masjid, lalu diberikannya kepada Rasulullah, dan Rasulullah pun menyerahkannya ke tangan Ukasyah.

Suasana mulai tegang. Semua sahabat bergerak. Semua berdiri. Jangankan dicambuk, dicolek saja, ia akan berhadapan dengan kami. Mungkin begitu mereka bicara dalam hati. Semua mata merenung. Memandang Ukasyah dan sebilah cambuk. Saat itulah, Abu Bakar dan Umar r.a. bicara, “Hai Ukasyah! kami sekarang berada di hadapanmu, pukul qishaslah kami berdua, dan jangan sekali-kali engkau pukul Rasulullah!” Saat itu Umar mulai meraba pedangnya. Seandainya saja dia diizinkanakan memenggal kepala orang yang menyakiti Rasulullah. Rasulullah menahan dua sahabatnya. Berkata sang pemimpin yang dicintai ini: “Duhai sahabatku, duduklah kalian berdua, Allah telah mengetahui kedudukan kamu berdua!”

Kemudian berdiri pula Ali bin Abi Tholib sambil berkata lebih garang dari sahabat Abu Bakar : “Hai Ukasyah! Aku ini sekarang masih hidup di hadapan Nabi Aku tidak sampai hati melihat kalau engkau akan mengambil kesempatan qishas memukul Rasulullah. “Inilah punggungku, maka qishaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tangan engkau sendiri!”

Ali tampil ke muka. Memberikan punggungnya dan jiwa serta cintanya buat orang yang dicintainya. Subhanallah, dia tak rela sang Rasul disakiti. Ia merelakan berkorban nyawa untuk sang pemimpin. Nabi pun menahan. “Allah swt telah tahu kedudukanmu dan niatmu, wahai Ali!” Ali surut, bergantianlah kemudian tampil dua kakak beradik, Hasan dan Husein. “Hai Ukasyah! Bukankah engkau telah mengetahui, bahwa kami berdua ini adalah cucu kandung Rasulullah, dan qishaslah kami dan itu berarti sama juga dengan mengqishas Rasulullah sendiri!” Tetapi Rasulullah menegur pula kedua cucunya itu dengan berkata. Duduklah kalian berdua, duhai penyejuk mataku.”

Dan akhirnya Nabi berkata: Hai Ukasyah! pukullah aku jika engkau berhasrat mengambil qishas!” “Ya Rasul Allah! sewaktu engkau memukul aku dulu, kebetulan aku sedang tidak lekat kain di badanku,” Kata Ukasyah. Kembali suasana semakin panas dan tegang. Semua orang berfikir, apa maunya si Ukasyah ini. Sudah berniat mencambuk Rasul, dia malah meminta Rasul membuka baju. Kurang ajar sekali si Ukasyah ini. Apa maunya orang ini. Tanpa bicara.Tanpa kata. Rasulullah membuka bajunya. Semua yang hadir menahan nafas. Banyak yang berteriak sambil menangis. Tak terkecuali, Ukasyah , Ada yang tertahan di dadanya.

Ukasyah segera maju melangkah, melepas cambuknya dan kejadian selanjutnya, tatkala dia melihat tubuh Rasulullah dan tanda kenabian beliau, ia segera mendekap tubuh Nabi sepuas-puasnya berkata sambil berlinang air mata : “Tebusanmu adalah Rohku ya Rasullallah, siapakah yang  sampai hatinya untuk  mengqishas engkau ya Rasul Allah? Saya sengaja berbuat demikian hanyalah karena berharap agar supaya tubuhku dapat menyentuh tubuh engkau yang mulia, dan agar supaya Allah swt dengan kehormatan engkau dapat menjagaku dari sentuhan api neraka.”

Akhirnya berkatalah Nabi saw, “Ketahuilah wahai para sahabat! barangsiapa yang ingin melihat penduduk Syurga, maka melihatlah kepada lelaki ini.” Lantas bangkit berdirilah kaum Muslimin beramai-ramai mencium Ukasyah di antara kedua matanya. semua rasa yang ada dihati mereka yang bercampur aduk, kini menyisakan rasa cinta dan penghormatan yang luar biasa satu dengan yang lainnya.

Allahumma sholli ‘ala Muhammad, Yaa Robbi sholli ‘alaihi wassalim 

 

Adakah diri ini berada dalam barisan itu?

Barisan pengganti qishasmu

Tak relakah diri menyaksikan engkau terluka?

Berdirikah kaki  tuk rela mengganti dirimu?

Keluarkah kata-kata cinta untuk melisankan keinginanku?

Siapkah badan ini menanggung luka demi cinta padamu?

Melelehkah mata ini membayangkan engkau menyerih karena lukamu ?

Iya, ya Rasul

Diri ini siap tuk berdiri memasang badan, berbicara lantang berurai air mata

Menanggung semuanya

Kamilah, barisan pengganti qishasmu

 

Apa Kabar Jiwa??

Jiwa, mengalami saat-saat bersemangat dan saat-saat loyo sehingga terkadang engkau melihatnya bersemangat mengerjakan ketaatan, amalan-amalan akherat, giat membaca Al-Qur’an, bangun malam, berzikir, berdoa, membaca berbagai macam buku, menulis yang bermanfaat, mengunjungi orang-orang shaleh, memenuhi kebutuhan kaum muslimin, bersegera mengerjakan kebajikan dan sebagainya. Namun, terkadang engkau mendapatinya dalam kondisi tidak bersemangat mengerjakan amalan-amalan tersebut.

Seorang mukmin yang cerdik adalah yang bisa memanfaatkan saat-saat semangatnya dengan sebaik-baiknya dan tidak lengah dengan kesempatan tersebut kapanpun datangnya. Ia juga tidak membiarkan ada peluang bagi setan memanfaatkannya. Kecerdikan semacam ini tidak dimiliki kecuali oleh sedikir orang yang selalu menyibukkan diri mendidik dirinya.

Oleh karenanya, wajib bagi penempuh jalan ini meletakkan pada diri mereka siasat pendidikan yang bijak untuk bisa bermuamalah dengan diri mereka sendiri sehingga bisa mensucikan dan membersihkan hatinya hingga jernih.

-Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in-

Tanyakanlah selalu kabar jiwamu, karena ia mudah sekali tertipu, terpedaya dan terlupa dari hakikat keberadaanya