Archive for the ‘ dakwah ’ Category

Puisi Ramadhan

Terhentak dadaku
saat terbayang olehku akan dosa-dosaku
tak tahan ku menahan kesedihanku
terbayang akan amal ibadahku setahun belakangan

Cukupkah AMALAN-ku tuk menebus DOSA-ku
Cukupkah SHODAQOH-ku tuk membuka TAUBAT-ku
Cukupkah SHOLAT-ku tuk meneguhkan IMAN-ku
Cukupkah PUASA-ku tuk membersihkan HATI-ku

Rasanya semua akan berat kurengkuh
Namun Ramadhan Mu telah tiba
Kan kuraih segalanya tuk memenuhi pundi-pundi amalku
Marhaban ya Ramadhan
Marhaban syahru syiam
Sebuah pesan bijak :
Jika semua HARTA adalah RACUN maka ZAKAT-lah penawarnya
Jika seluruh UMUR adalah DOSA maka TAQWA & TAUBAT-lah obatnya
Jika seluruh BULAN adalah NODA maka RAMADHAN-lah pemutihnya
-Rahmat Abdullah-
Namun Ramadhan Mu telah tiba
Kan kuraih segalanya tuk memenuhi pundi-pundi amalku…
Iklan

Do’a 15 Tahun Yang Lalu

Ya ALLAH, berikan taqwa kepada jiwa-jiwa kami dan sucikan dia.
Engkaulah sebaik-baik yang mensucikannya.
Engkau pencipta dan pelindungnya.

Ya ALLAH, perbaiki hubungan antar kami. Rukunkan antar hati kami.
Tunjuki kami jalan keselamatan.
Selamatkan kami dari kegelapan kepada terang.
Jadikan kumpulan kami jama’ah orang muda yang menghormati orang tua.
Dan jama’ah orang tua yang menyayangi orang muda.
Jangan Engkau tanamkan di hati kami
kesombongan dan kekasaran terhadap sesama hamba beriman.
Bersihkan hati kami dari benih-benih perpecahan,
pengkhianatan dan kedengkian.

Ya ALLAH, wahai yang memudahkan segala yang sukar.
Wahai yang menyambung segala yang patah.
Wahai yang menemani semua yang tersendiri.
Wahai pengaman segala yang takut.
Wahai penguat segala yang lemah.
Mudah bagimu memudahkan segala yang susah.
Wahai yang tiada memerlukan penjelasan dan penafsiran.
Hajat kami kepada-Mu amatlah banyak.
Engkau Maha Tahu dan melihatnya.

Ya ALLAH, kami takut kepada-Mu.
Selamatkan kami dari semua yang tak takut kepada-Mu.
Jaga kami dengan Mata-Mu yang tiada tidur.
Lindungi kami dengan perlindungan-Mu yang tak tertembus.
Kasihi kami dengan kudrat kuasa-Mu atas kami.
Jangan binasakan kami, karena Engkaulah harapan kami,
Musuh-musuh kami dan semua yang ingin mencelakai kami
Tak akan sampai kepada kami, langsung atau dengan perantara.
Tiada kemampuan pada mereka untuk menyampaikan bencana pada kami.
“ALLAH sebaik baik pemelihara dan Ia paling kasih dari segala kasih”

Ya ALLAH, kami hamba-hamba-Mu, anak-anak hamba-Mu.
Ubun-ubun kami dalam genggaman Tangan-Mu.
Berlaku pasti atas kami hukum-Mu. Adil pasti atas kami keputusan-Mu.
Ya ALLAH, kami memohon kepada-Mu. Dengan semua nama yang jadi milik-Mu.
Yang dengan nama itu Engkau namai diri-Mu.
Atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu.
Atau Engkau ajarkan kepada seorang hamba-Mu.
Atau Engkau simpan dalam rahasia Maha Tahu-Mu akan segala ghaib.

Kami memohon-Mu agar Engkau menjadikan Al Qur’an yang agung
sebagai musim bunga hati kami.
Cahaya hati kami.
Pelipur sedih dan duka kami.
Pencerah mata kami.

Ya ALLAH, yang menyelamatkan Nuh
dari taufan yang menenggelamkan dunia.
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Ibrahim
dari api kobaran yang marak menyala
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Musa
dari kejahatan Fir’aun dan laut yang mengancam nyawa
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Isa
dari Salib dan pembunuhan oleh kafir durjana
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Muhammad alaihimusshalatu wassalam
dari kafir Quraisy durjana, Yahudi pendusta, munafik khianat,
pasukan sekutu Ahzab angkara murka
Ya ALLAH, yang menyelamatkan Yunus
dari gelap lautan, malam, dan perut ikan
Ya ALLAH, yang mendengar rintihan hamba lemah teraniaya
Yang menyambut si pendosa apabila kembali dengan taubatnya
Yang mengijabah hamba dalam bahaya dan melenyapkan prahara

Ya ALLAH, begitu pekat gelap keangkuhan, kerakusan dan dosa
Begitu dahsyat badai kedzaliman dan kebencian menenggelamkan dunia
Pengap kehidupan ini oleh kesombongan si durhaka yang membuat-Mu murka
Sementara kami lemah dan hina, berdosa dan tak berdaya

Ya ALLAH, jangan kiranya Engkau cegahkan kami
dari kebaikan yang ada pada-Mu karena kejahatan pada diri kami
Ya ALLAH, ampunan-Mu lebih luas dari dosa-dosa kami.
Dan rahmah kasih sayang-Mu lebih kami harapkan daripada amal usaha kami sendiri.
Ya ALLAH, jadikan kami kebanggaan hamba
dan nabi-Mu Muhammad SAW di padang mahsyar nanti.
Saat para rakyat kecewa dengan para pemimpin penipu
yang memimpin dengan kejahilan dan hawa nafsu.
Saat para pemimpin cuci tangan dan berlari dari tanggung jawab.
Berikan kami pemimpin berhati lembut bagai Nabi
yang menangis dalam sujud malamnya tak henti menyebut kami,
ummati ummati, ummatku ummatku.
Pemimpin bagai para khalifah yang rela mengorbankan
semua kekayaan demi perjuangan.
Yang rela berlapar-lapar agar rakyatnya sejahtera.
Yang lebih takut bahaya maksiat daripada lenyapnya pangkat dan kekayaan

Ya ALLAH, dengan kasih sayang-Mu
Engkau kirimkan kepada kami da’i penyeru iman.
Kepada nenek moyang kami penyembah berhala.
Dari jauh mereka datang karena cinta mereka kepada da’wah.
Berikan kami kesempatan dan kekuatan, keikhlasan dan kesabaran.
Untuk menyambung risalah suci dan mulia ini kepada generasi berikut kami.
Jangan jadikan kami pengkhianat
yang memutuskan mata rantai kesinambungan ini.
Dengan sikap malas dan enggan berda’wah.
Karena takut rugi dunia dan dibenci bangsa.

Doa ini dilantunkan oleh K.H. Rahmat Abdullah pada Deklarasi Partai Keadilan, di Lapangan Masjid Agung Al-Azhar Jakarta, 09 Agustus 1998, yang diiringi oleh tetesan air mata hadirin…

Kenalilah Masalahmu, Wahai Anak Muda

Mengenali masalah adalah sebagian dari solusi. Adapun kelemahan umum yang menonjol dari para aktivis da’wah kampus adalah:
1. Ta’ashub dan masalah keikhlashan yang kronis dikarenakan tazkiyatunnafs yang lemah.

menjadi masalah besar ketika kebenaran dimonopoli, kebenaran hanya ada pada kelompoknya dan tidak ada pada kelompok lainnya.
pun masalahnya menjadi lebih kronis, ketika mereka yang dilabeli sebagai aktivis dakwah lemah dalam tazkiyatunnafs, memiliki ego yang tinggi dan tidak peka pada kebenaran yang datang padanya.

2. Lemahnya tradisi ilmu.

harus mampu membuat prioritas dalam keilmuan dan mencarinya sampai akhir hayat, sayang sekali, worldview islam terkait ilmu masih belum tertanam dengan baik

3. Hilangnya adab terhadap diri, ilmu, ustadz, ‘ulama, dan sesama pengemban da’wah.

bener-bener, setidaknya ga boleh lupa untuk mendoakan yang terbaik bagi mereka

4. Manajemen dan organisasi yang buruk.

etos kerja lembek, kurang disiplin dan konsisten.

5. Tergesa-gesa namun tidak istimrar dan istiqamah.

pengennya serba instant kek mie, mesti banyak belajar lagi emang

6. Militansi yang mudah meletup dan mudah juga melentur.

galau tingkat tinggi, mesti sering-sering diingatkan

-dikembangkan dari nasehat pak usep PIMPIN BDG-

Hidup untuk dakwah? semoga…^^

Sekali Lagi Tentang Dakwah

Engkau yang membuatku terikat.
Engkau pula yang membuatku terpikat.
Walau kutahu
Jalan padamu jauh, sukar, sepi, menanjak lagi berduri
tapi ya itu, ini terkait rasa,
dimana aku telah erat terikat dan dalam terpikat,
padamu…

semoga aku bisa selalu bisa bersamamu,
sampai hela nafas terakhirku…
amin

Kerinduan dan Keyakinan Itu, Adakah Ia dalam Benakmu?

Sebagai umat islam, kita pasti akan berhasil menegakkan sebuah tatanan baru ditengah masyarakat dunia. Kita tidak pernah bisa mempercayai bahwa akan ada tatanan baru yang lahir dari rahim kapitalisme, komunisme, sosialisme, demokrasi atau liberalisme. Karena pada dasarnya, jika memang kelak nanti akan muncul sebuah tatanan dunia baru yang sempurna maka itu adalah tatanan dunia islam yang akan dialami oleh generasi masa depan sebagai era kebangkitan islam.

Adalah sebuah ‘kelahiran baru’ ketika seluruh masyarakat dunia akan kembali menimba ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral dari islam. Bahkan dari islam pula mereka akan mempelajari pemahaman baru terhadap seni sehingga mereka akan menemukan sebuah seni sejati yang sama sekali berbeda dengan seni yang kita kenal saat ini. Pada saat itu seluruh dunia akan mendengar alunan musik yang kita mainkan dengan perasaan dan romantisme yang sama. Pada saat itu, umat islam akan memiliki pendirian yang sangat kokoh dalam segala bidang, baik dalam bidang ilmu pengetahuan maupun seni, baik bidang pemikiran maupun akhlak, sebab kitalah yang akan menjamin masa depan dunia.

Dalam meniti kemajuan ini yang menjadi semboyan kita adalah persatuan dan kemajuan, sementara sumber kekuatan kita adalah iman dan kebenaran. Selama ini, semua golongan selain kita yang menempuh jalan lain selalu gagal memberi obat bagi umat manusia karena mereka tidak memiliki iman dan akhlak. Kitalah yang kini menerima kemuliaan dari Allah sehingga kita tetap menjadi orang-orang yang mulia dihadapanNya. Semua itu dapat terwujud berkat anugerah Allah yang telah mempersatukan hati kita dan karena kita selalu bernaung dibawah sikap berserah diri kepadaNya serta karena ketulusan kita menjadikan umat sebagai hal terpenting melebihi semua perkara dunia lainnya.

Berapa banyak orang yang bersama dengan kita, tapi bukan bagian dari kita
Dan berapa banyak orang yang bagian dari kita, tapi tidak bersama kita ..
Berjam’aah itu berkumpul di atas al-haq … apapun label nya …
Saya selalu yakin, mereka yang punya kerinduan yang sama, yaitu :
(1) tegaknya agama Allah di dunia, dan
(2) berkumpul di syurga kelak
pasti akan dipertemukan jalannya untuk bersatu dan bertaut, 
demikianlah sunnah-Nya … 
“Ruh-ruh adalah seperti tentara yang berbaris-baris, maka yang saling mengenal akan bersatu dan yang saling mengingkari akan berselisih.” (bahasanya Rasulullah shallaLlahu ‘alayhi wa sallam, riwayat Bukhori)
jadi tugas kita saat ini sederhana saja, meluruskan kerinduan dan terus mencari kebenaran (al-haq).

Pewaris Para Nabi

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” 
(Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Sesungguhnya para ulama dan cendikiawanlah yang telah berperan menjalankan tugas mereka untuk kita. Merekalah yang membuka wawasan kita yang tertutup serta menggerakan nalar kita yang selama ini jauh dari ‘langit’ nilai-nilai ilahiyah yang selalu berotasi di garis orbit Al-Qur’an. Mereka tidak pernah alpa terhadap segala rahasia yang terkandung dibalik jagat raya, manusia dan kehidupan. Mereka selalu menjadi suri teladan bagi umat beragama karena merekalah yang terus mengimplementasikan semua perintah agama secara maksimal. Merek selalu menjaga hal-hal pokok (ushul) sembari tetap menempuh jalan kebenaran dengan mengikuti perintah syar’i untuk selalu mencari yang mudah, pas dan toleran. Merekalah yang mengobati semua penyakit akut yang diterima umat islam selama berabad-abad dengan menggunakan kekuatan ilmu dan perenungan atas otoritas ajaran islam beserta segala penafsirannya.

Para ulamalah yang telah mengubah semua tempat, baik sekolah maupun masjid, baik jalan umum maupun rumah menjadi tempat-tempat perenungan terhadap hakikat kebenaran yang terkandung dibalik entitas, kehidupan dan manusia. Mereka berhasil membuka jendela menuju penglihatan transendental yang telah tertutup selama berabad-abad. Merekalah yang membangun ‘bala tentara islam’ yang mampu menerapkan ajaran syariat pada seluruh aspek kehidupan. Mereka mampu mengasah sensitifitas pada diri umat hingga mereka mampu menemukan cara yang tepat untuk mencapai tujuan tertentu. Dan mereka mampu melakukan olah batin dan olah nalar dengan baik. Mereka itulah yang telah membantu umat islam untuk melakukan pembaruan serta mengajarkan kepada kita semua landasan terpenting yang dibutuhkan dalam kehidupan akhirat yang kekal.

Para ulama dan cendikiawanlah yang berperan menjadi ‘otak’ bagi ‘tubuh’ masyarakat muslim. Mereka akan selalu berdialog dengan semua ‘anggota tubuh’ yang lain untuk kemudian menyampaikan arahan yang tepat bagi seluruh ‘sel’ di tubuh umat. Merekalah yang membisikkan spiritualitas dan nilai moral kepada umat sejak dulu dan semakin menggiat  saat ini untuk kemudian berlanjut ke masa mendatang.

Merekalah orang-orang yang berkhidmat demi seluruh umat. Mereka sigap mengasuh dan menanamkan nilai-nilai akhlak pada anak-anak kita disekolah sebagaimana mereka juga siap mengayomi anak-anak terlantar yang terlunta-lunta dijalanan. Merekalah yang menuangkan kebenaran kedalam hati setiap kita. Merekalah yang membekali kita dengan berbagai hal bermanfaat dan keterampilan hidup demi mengangkat harkat kemanusiaan setiap orang menuju kesempurnaan sebagai insan yang suci dari noda sejarah melalui sekolah, perguruan tinggi, tempat ibadah dan berbagai sarana lainnya.

Merekalah yang selalu mengisi surat kabar, majalah, radio, televisi dan berbagai bentuk media massa lainnya untuk menjadikan semua itu sebagai corong dakwah islam yang disatu sisi berfungsi sebagai pembimbing masyarakat luas agar mereka dapat menghindari berbagai pengaruh buruk yang menyebar luas ditengah mereka.

Merekalah orang-orang yang menyelenggarakan proses pendidikan dan pengajaran yang dinamis serta selalu berubah mengikuti perkembangan untuk menghadapi tantangan zaman baik dari luar maupun dari dalam. Melalui pendidikan, mereka menanamkan nilai-nilai ajaran islam yang luhur dan kemudian menjabarkannya agar dapat menjawab tantangan zaman yang selalu berubah mengikuti laju sejarah. Semua itu mereka lakukan agar semua institusi pendidikan islam dapat menjadi lembaga yang memiliki tujuan serta cita-cita yang jelas, lengkap dengan program, langkah-langkah serta metodologi pengajaran yang baik.

Muhammad Fethullah Gullen, Bangkitnya Spiritualitas islam

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Jika engkau bisa, maka jadilah seorang ulama
Jika engkau tidak bisa menjadi seorang ulama, maka jadilah pencari ilmu
Jika engkau tidak bisa menjadi seorang pencari ilmu, maka cintailah mereka
Jika engkau tidak bisa mencintai mereka, maka janganlah engkau membenci mereka
-Umar bin Abdul Aziz-

Terasa Indahkah Dalam Hatimu??

Dalam salah satu buku induk gerakan ikhwanul muslimin, majmuatur rasail (risalah pergerakan) yang langsung ditulis oleh ideolognya, hasan al bana, dijelaskan bahwasanya hal yang menjadi prioritas pertama dalam membangkitkan kembali peradaban islam adalah pembentukan pribadi muslim. Beliau memberikan 10 muwashofat (karakter) yang seharusnya dimiliki seorang muslim dalam rangka pembentukan pribadinya. Isitilah karakter memang sedang booming, apalagi pemerintah kita satu dasawarsa terakhir terus mensosialisasikan istilah pendidikan karakter ini, dengan objektif, bisa dikatakan pemerintahan kita keduluan 80-an tahun dari pendidikan karakter (muwashofat) yang gerakan ikhwanul muslimin lakukan. Belum lagi dengan pendidikan karakter yang pemerintah kita adopsi, terlihat masih gamang dan setengah-setengah, wajar saja hal ini terjadi jika pendidikan karakter tidak digali dari alquran dan sunnah.

Kesepuluh karakter tersebut adalah :

  1. Berfisik kuat
  2. Beakhlak kukuh
  3. Berwawasan luas
  4. Berusaha mandiri
  5. Beraqidah luruh
  6. Beribadah benar
  7. Mengekang hawa nafsu
  8. Mengatur waktu
  9. Disiplin dalam segala hal
  10. Bermanfaat bagi orang lain

Dalam tulisan ini tidak akan dibahas panjang mengenai tahapan prioritas maupun kesepuluh muwashofat diatas, semua bisa dibaca langsung dibuku risalah pergerakan beliau ataupun buku RUKUN AMAL karya ali abdul halim mahmud, insyaAllah masih relevan dengan kondisi kekinian dan sudah dalam pembahasannya.

Membentuk karakter-karakter tersebut diatas memang tidak semudah menggaruk kepala yang gatal, melainkan memerlukan proses yang panjang, sulit dan terkadang berliku. Oleh karenanya diperlukan suatu sistem dan proses yang baik dan terukur agar karakter tersebut bisa terwujud. Salah satu keluaran nyata (output) dari karakter-karakter diatas adalah amalan harian (amalan yaumiah) yang kemudian dikontrol dengan seksama (mutabaah). Mengapa kita harus tahu mengenai hal ini? Karena eh karena, kontrol yang paling utama dan pertama, sebenarnya, terletak pada MASING-MASING INDIVIDU SENDIRI.

 

Kinerja, Standar dan Potensi dalam Amalan Pribadi Muslim

Dalam melakukan kontrol harus dilihat dulu apakah amalan harian tersebut diukur secara kualitatif (mutu) ataukah secara kuantitatif (jumlah). Umumnya, pengukuran secara kuantitatif jauh lebih mudah daripada kualitatif. Pengukuran ini berpengaruh terhadap kontrol yang dilakukan.

Setidaknya ada 3 hal yang perlu diketahui dalam melakukan kontrol (mutabaah) amalan harian. Hal yang pertama adalah kinerja. Kinerja bisa diartikan sebagai kondisi eksisting dari amalan harian yang biasa dilakukan. Kedua adalah standar yang diartikan sebagai batas atau kriteria minimal dari suatu amalan harian. Dan ketiga adalah potensi yaitu kenerja maksimal dari setiap amalan yang bisa dilakukan.

Sebagai gambaran mengenai ketiga hal tersebut, bisa dilihat pada contoh dibawah.

Shalat

–          5 waktu jamaah (5*15’)

–          Qiyamullail 11 rakaat (30’)

–          Rawatib 12 rakaat (6*3’)

–          Dhuha 4 rakaat (15’)

Zikr dan alquran

–          Tilawah 1 juz (45’)

–          Murajaah hafalan (30’)

–          Alma’rsurat (2*15’)

Membaca (paralel)

Infaq sedekah (paralel)

Menjaga Wudhu (paralel)

Shaum sunnah (2*paralel)/pekan

Majelis ilmu (2*120’)/pekan

Pembinaann (5*90’)/pekan

Riyadoh (2*60’)/pekan

Menulis (1*120’)/pekan

Mabit (1*180’)/bulan

Toko buku (1*120’)/bulan

Pengukuran kualitatif bisa dilakukan dengan menghitung frekuensi amalan yang dilakukan maupun dengan durasi dari amalan tersebut. Misalnya, amalan-amalan diatas adalah STANDAR yang kita tetapkan, standar yang kita tetapkan sebaiknya tidak terlampau jauh dengan kinerja eksisting yang biasa kita lakukan (biar tidak kaget), dan ketika standar yang ada dirasa kurang mengakomodir setelah kurun waktu tertentu (misal pertiga bulan), standar yang ada bisa kita tingkatkan terus. Bukankah ini yang kita sebut istiqomah?

Sedangkan contoh kinerja yang dilakukan adalah sebagai berikut.

Shalat

–          4 waktu jamaah 1 munfarid (5*15’)

–          Qiyamullail 5 rakaat (15’)

–          Rawatib 10 rakaat (6*3’)

–          Dhuha 4 rakaat (15’)

Zikr dan alquran

–          Tilawah 0,5 juz (30’)

–          Murajaah hafalan (30’)

–          Alma’rsurat (2*15’)

Membaca (paralel)

Infaq sedekah (paralel)

Shaum sunnah (1*paralel)/pekan

Majelis ilmu (3*120’)/pekan

Pembinaann (5*90’)/pekan

Riyadoh (1*60’)/pekan

Menulis (2*120’)/pekan

Mabit (1*180’)/bulan

Toko buku (1*120’)/bulan

Hal ini berarti, ada beberapa kinerja amalan yang masih di bawah standar dan ada yang sudah diatas standar. Memang, musuh utama mengejar standar yang kita tetapkan adalah diri sendiri ( sifat malas) seolah-olah tidak yakin dengan janji-janji yang Allah berikan dan tidak mengetahui keutamaan setiap amalan. Padahal, jika dihitung berdasarkan durasi dibagi rata perhari, contoh standar diatas hanya menghabiskan waktu sekitar 6,5 jam dari 24 jam waktu kita, waktu yang mungkin jauh lebih sedikit dari waktu on line didunia maya.

Sedangkan potensi yang bisa dilakukan adalah pengukuran nilai maksimal dari setiap amalan yang ada, selama nilai tertinggi tersebut masih sesuai dangan aturan main (syariat) yang berlaku, tidak berlebihan.

Terasa Indahkah dalam Hatimu?

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekefiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.”

(QS. Al-Hujurat (49) : 7)

A : ustad, kenapa walaupun kita tahu terkait keutamaan-keutamaan suatu amalan, namun terkadang berat untuk melaksanakannya?

Z : (dibacakan surat alhujurat :7  diatas), mungkin iman yang antum punya belum terasa indah dihati, sebab bagi mereka yang merasakan keindahan iman dalam hatinya akan bersegera dalam setiap kebaikan yang terhampar didepannya.

A : *dan ternyata memang demikian

 

Yaa Allah,..Yaa Robb,..

Wahai Sang Penguasa Hati

Jadikanlah hati kami cinta terhadap keimanan

Dan jadikanlah iman itu terasa indah dihati kami

Serta jadikanlah hati ini benar-benar benci

Benci terhadap segala bentuk kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan

Sehingga kami bisa semakin dekat

Dan berharap Engkau akan mendekap erat

Dengan rahmat dan karuniaMu yang senantiasa kami harap

Betapa inginnya seperti mereka yang mampu menetapkan standar yang tepat pada dirinya, memiliki kinerja yang memuaskan atas apa yang diyakininya serta terus mengembangkan potensi dirinya dalam menghamba, ahh seandainya semudah menggaruk kepala yang tak gatal ini.