Pewaris Para Nabi

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” 
(Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Sesungguhnya para ulama dan cendikiawanlah yang telah berperan menjalankan tugas mereka untuk kita. Merekalah yang membuka wawasan kita yang tertutup serta menggerakan nalar kita yang selama ini jauh dari ‘langit’ nilai-nilai ilahiyah yang selalu berotasi di garis orbit Al-Qur’an. Mereka tidak pernah alpa terhadap segala rahasia yang terkandung dibalik jagat raya, manusia dan kehidupan. Mereka selalu menjadi suri teladan bagi umat beragama karena merekalah yang terus mengimplementasikan semua perintah agama secara maksimal. Merek selalu menjaga hal-hal pokok (ushul) sembari tetap menempuh jalan kebenaran dengan mengikuti perintah syar’i untuk selalu mencari yang mudah, pas dan toleran. Merekalah yang mengobati semua penyakit akut yang diterima umat islam selama berabad-abad dengan menggunakan kekuatan ilmu dan perenungan atas otoritas ajaran islam beserta segala penafsirannya.

Para ulamalah yang telah mengubah semua tempat, baik sekolah maupun masjid, baik jalan umum maupun rumah menjadi tempat-tempat perenungan terhadap hakikat kebenaran yang terkandung dibalik entitas, kehidupan dan manusia. Mereka berhasil membuka jendela menuju penglihatan transendental yang telah tertutup selama berabad-abad. Merekalah yang membangun ‘bala tentara islam’ yang mampu menerapkan ajaran syariat pada seluruh aspek kehidupan. Mereka mampu mengasah sensitifitas pada diri umat hingga mereka mampu menemukan cara yang tepat untuk mencapai tujuan tertentu. Dan mereka mampu melakukan olah batin dan olah nalar dengan baik. Mereka itulah yang telah membantu umat islam untuk melakukan pembaruan serta mengajarkan kepada kita semua landasan terpenting yang dibutuhkan dalam kehidupan akhirat yang kekal.

Para ulama dan cendikiawanlah yang berperan menjadi ‘otak’ bagi ‘tubuh’ masyarakat muslim. Mereka akan selalu berdialog dengan semua ‘anggota tubuh’ yang lain untuk kemudian menyampaikan arahan yang tepat bagi seluruh ‘sel’ di tubuh umat. Merekalah yang membisikkan spiritualitas dan nilai moral kepada umat sejak dulu dan semakin menggiat  saat ini untuk kemudian berlanjut ke masa mendatang.

Merekalah orang-orang yang berkhidmat demi seluruh umat. Mereka sigap mengasuh dan menanamkan nilai-nilai akhlak pada anak-anak kita disekolah sebagaimana mereka juga siap mengayomi anak-anak terlantar yang terlunta-lunta dijalanan. Merekalah yang menuangkan kebenaran kedalam hati setiap kita. Merekalah yang membekali kita dengan berbagai hal bermanfaat dan keterampilan hidup demi mengangkat harkat kemanusiaan setiap orang menuju kesempurnaan sebagai insan yang suci dari noda sejarah melalui sekolah, perguruan tinggi, tempat ibadah dan berbagai sarana lainnya.

Merekalah yang selalu mengisi surat kabar, majalah, radio, televisi dan berbagai bentuk media massa lainnya untuk menjadikan semua itu sebagai corong dakwah islam yang disatu sisi berfungsi sebagai pembimbing masyarakat luas agar mereka dapat menghindari berbagai pengaruh buruk yang menyebar luas ditengah mereka.

Merekalah orang-orang yang menyelenggarakan proses pendidikan dan pengajaran yang dinamis serta selalu berubah mengikuti perkembangan untuk menghadapi tantangan zaman baik dari luar maupun dari dalam. Melalui pendidikan, mereka menanamkan nilai-nilai ajaran islam yang luhur dan kemudian menjabarkannya agar dapat menjawab tantangan zaman yang selalu berubah mengikuti laju sejarah. Semua itu mereka lakukan agar semua institusi pendidikan islam dapat menjadi lembaga yang memiliki tujuan serta cita-cita yang jelas, lengkap dengan program, langkah-langkah serta metodologi pengajaran yang baik.

Muhammad Fethullah Gullen, Bangkitnya Spiritualitas islam

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Jika engkau bisa, maka jadilah seorang ulama
Jika engkau tidak bisa menjadi seorang ulama, maka jadilah pencari ilmu
Jika engkau tidak bisa menjadi seorang pencari ilmu, maka cintailah mereka
Jika engkau tidak bisa mencintai mereka, maka janganlah engkau membenci mereka
-Umar bin Abdul Aziz-

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: