Terasa Indahkah Dalam Hatimu??

Dalam salah satu buku induk gerakan ikhwanul muslimin, majmuatur rasail (risalah pergerakan) yang langsung ditulis oleh ideolognya, hasan al bana, dijelaskan bahwasanya hal yang menjadi prioritas pertama dalam membangkitkan kembali peradaban islam adalah pembentukan pribadi muslim. Beliau memberikan 10 muwashofat (karakter) yang seharusnya dimiliki seorang muslim dalam rangka pembentukan pribadinya. Isitilah karakter memang sedang booming, apalagi pemerintah kita satu dasawarsa terakhir terus mensosialisasikan istilah pendidikan karakter ini, dengan objektif, bisa dikatakan pemerintahan kita keduluan 80-an tahun dari pendidikan karakter (muwashofat) yang gerakan ikhwanul muslimin lakukan. Belum lagi dengan pendidikan karakter yang pemerintah kita adopsi, terlihat masih gamang dan setengah-setengah, wajar saja hal ini terjadi jika pendidikan karakter tidak digali dari alquran dan sunnah.

Kesepuluh karakter tersebut adalah :

  1. Berfisik kuat
  2. Beakhlak kukuh
  3. Berwawasan luas
  4. Berusaha mandiri
  5. Beraqidah luruh
  6. Beribadah benar
  7. Mengekang hawa nafsu
  8. Mengatur waktu
  9. Disiplin dalam segala hal
  10. Bermanfaat bagi orang lain

Dalam tulisan ini tidak akan dibahas panjang mengenai tahapan prioritas maupun kesepuluh muwashofat diatas, semua bisa dibaca langsung dibuku risalah pergerakan beliau ataupun buku RUKUN AMAL karya ali abdul halim mahmud, insyaAllah masih relevan dengan kondisi kekinian dan sudah dalam pembahasannya.

Membentuk karakter-karakter tersebut diatas memang tidak semudah menggaruk kepala yang gatal, melainkan memerlukan proses yang panjang, sulit dan terkadang berliku. Oleh karenanya diperlukan suatu sistem dan proses yang baik dan terukur agar karakter tersebut bisa terwujud. Salah satu keluaran nyata (output) dari karakter-karakter diatas adalah amalan harian (amalan yaumiah) yang kemudian dikontrol dengan seksama (mutabaah). Mengapa kita harus tahu mengenai hal ini? Karena eh karena, kontrol yang paling utama dan pertama, sebenarnya, terletak pada MASING-MASING INDIVIDU SENDIRI.

 

Kinerja, Standar dan Potensi dalam Amalan Pribadi Muslim

Dalam melakukan kontrol harus dilihat dulu apakah amalan harian tersebut diukur secara kualitatif (mutu) ataukah secara kuantitatif (jumlah). Umumnya, pengukuran secara kuantitatif jauh lebih mudah daripada kualitatif. Pengukuran ini berpengaruh terhadap kontrol yang dilakukan.

Setidaknya ada 3 hal yang perlu diketahui dalam melakukan kontrol (mutabaah) amalan harian. Hal yang pertama adalah kinerja. Kinerja bisa diartikan sebagai kondisi eksisting dari amalan harian yang biasa dilakukan. Kedua adalah standar yang diartikan sebagai batas atau kriteria minimal dari suatu amalan harian. Dan ketiga adalah potensi yaitu kenerja maksimal dari setiap amalan yang bisa dilakukan.

Sebagai gambaran mengenai ketiga hal tersebut, bisa dilihat pada contoh dibawah.

Shalat

–          5 waktu jamaah (5*15’)

–          Qiyamullail 11 rakaat (30’)

–          Rawatib 12 rakaat (6*3’)

–          Dhuha 4 rakaat (15’)

Zikr dan alquran

–          Tilawah 1 juz (45’)

–          Murajaah hafalan (30’)

–          Alma’rsurat (2*15’)

Membaca (paralel)

Infaq sedekah (paralel)

Menjaga Wudhu (paralel)

Shaum sunnah (2*paralel)/pekan

Majelis ilmu (2*120’)/pekan

Pembinaann (5*90’)/pekan

Riyadoh (2*60’)/pekan

Menulis (1*120’)/pekan

Mabit (1*180’)/bulan

Toko buku (1*120’)/bulan

Pengukuran kualitatif bisa dilakukan dengan menghitung frekuensi amalan yang dilakukan maupun dengan durasi dari amalan tersebut. Misalnya, amalan-amalan diatas adalah STANDAR yang kita tetapkan, standar yang kita tetapkan sebaiknya tidak terlampau jauh dengan kinerja eksisting yang biasa kita lakukan (biar tidak kaget), dan ketika standar yang ada dirasa kurang mengakomodir setelah kurun waktu tertentu (misal pertiga bulan), standar yang ada bisa kita tingkatkan terus. Bukankah ini yang kita sebut istiqomah?

Sedangkan contoh kinerja yang dilakukan adalah sebagai berikut.

Shalat

–          4 waktu jamaah 1 munfarid (5*15’)

–          Qiyamullail 5 rakaat (15’)

–          Rawatib 10 rakaat (6*3’)

–          Dhuha 4 rakaat (15’)

Zikr dan alquran

–          Tilawah 0,5 juz (30’)

–          Murajaah hafalan (30’)

–          Alma’rsurat (2*15’)

Membaca (paralel)

Infaq sedekah (paralel)

Shaum sunnah (1*paralel)/pekan

Majelis ilmu (3*120’)/pekan

Pembinaann (5*90’)/pekan

Riyadoh (1*60’)/pekan

Menulis (2*120’)/pekan

Mabit (1*180’)/bulan

Toko buku (1*120’)/bulan

Hal ini berarti, ada beberapa kinerja amalan yang masih di bawah standar dan ada yang sudah diatas standar. Memang, musuh utama mengejar standar yang kita tetapkan adalah diri sendiri ( sifat malas) seolah-olah tidak yakin dengan janji-janji yang Allah berikan dan tidak mengetahui keutamaan setiap amalan. Padahal, jika dihitung berdasarkan durasi dibagi rata perhari, contoh standar diatas hanya menghabiskan waktu sekitar 6,5 jam dari 24 jam waktu kita, waktu yang mungkin jauh lebih sedikit dari waktu on line didunia maya.

Sedangkan potensi yang bisa dilakukan adalah pengukuran nilai maksimal dari setiap amalan yang ada, selama nilai tertinggi tersebut masih sesuai dangan aturan main (syariat) yang berlaku, tidak berlebihan.

Terasa Indahkah dalam Hatimu?

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekefiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.”

(QS. Al-Hujurat (49) : 7)

A : ustad, kenapa walaupun kita tahu terkait keutamaan-keutamaan suatu amalan, namun terkadang berat untuk melaksanakannya?

Z : (dibacakan surat alhujurat :7  diatas), mungkin iman yang antum punya belum terasa indah dihati, sebab bagi mereka yang merasakan keindahan iman dalam hatinya akan bersegera dalam setiap kebaikan yang terhampar didepannya.

A : *dan ternyata memang demikian

 

Yaa Allah,..Yaa Robb,..

Wahai Sang Penguasa Hati

Jadikanlah hati kami cinta terhadap keimanan

Dan jadikanlah iman itu terasa indah dihati kami

Serta jadikanlah hati ini benar-benar benci

Benci terhadap segala bentuk kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan

Sehingga kami bisa semakin dekat

Dan berharap Engkau akan mendekap erat

Dengan rahmat dan karuniaMu yang senantiasa kami harap

Betapa inginnya seperti mereka yang mampu menetapkan standar yang tepat pada dirinya, memiliki kinerja yang memuaskan atas apa yang diyakininya serta terus mengembangkan potensi dirinya dalam menghamba, ahh seandainya semudah menggaruk kepala yang tak gatal ini.

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: