Arsip untuk Januari, 2013

Pewaris Para Nabi

Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” 
(Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud. Dishahihkan oleh Al-Albani)

Sesungguhnya para ulama dan cendikiawanlah yang telah berperan menjalankan tugas mereka untuk kita. Merekalah yang membuka wawasan kita yang tertutup serta menggerakan nalar kita yang selama ini jauh dari ‘langit’ nilai-nilai ilahiyah yang selalu berotasi di garis orbit Al-Qur’an. Mereka tidak pernah alpa terhadap segala rahasia yang terkandung dibalik jagat raya, manusia dan kehidupan. Mereka selalu menjadi suri teladan bagi umat beragama karena merekalah yang terus mengimplementasikan semua perintah agama secara maksimal. Merek selalu menjaga hal-hal pokok (ushul) sembari tetap menempuh jalan kebenaran dengan mengikuti perintah syar’i untuk selalu mencari yang mudah, pas dan toleran. Merekalah yang mengobati semua penyakit akut yang diterima umat islam selama berabad-abad dengan menggunakan kekuatan ilmu dan perenungan atas otoritas ajaran islam beserta segala penafsirannya.

Para ulamalah yang telah mengubah semua tempat, baik sekolah maupun masjid, baik jalan umum maupun rumah menjadi tempat-tempat perenungan terhadap hakikat kebenaran yang terkandung dibalik entitas, kehidupan dan manusia. Mereka berhasil membuka jendela menuju penglihatan transendental yang telah tertutup selama berabad-abad. Merekalah yang membangun ‘bala tentara islam’ yang mampu menerapkan ajaran syariat pada seluruh aspek kehidupan. Mereka mampu mengasah sensitifitas pada diri umat hingga mereka mampu menemukan cara yang tepat untuk mencapai tujuan tertentu. Dan mereka mampu melakukan olah batin dan olah nalar dengan baik. Mereka itulah yang telah membantu umat islam untuk melakukan pembaruan serta mengajarkan kepada kita semua landasan terpenting yang dibutuhkan dalam kehidupan akhirat yang kekal.

Para ulama dan cendikiawanlah yang berperan menjadi ‘otak’ bagi ‘tubuh’ masyarakat muslim. Mereka akan selalu berdialog dengan semua ‘anggota tubuh’ yang lain untuk kemudian menyampaikan arahan yang tepat bagi seluruh ‘sel’ di tubuh umat. Merekalah yang membisikkan spiritualitas dan nilai moral kepada umat sejak dulu dan semakin menggiat  saat ini untuk kemudian berlanjut ke masa mendatang.

Merekalah orang-orang yang berkhidmat demi seluruh umat. Mereka sigap mengasuh dan menanamkan nilai-nilai akhlak pada anak-anak kita disekolah sebagaimana mereka juga siap mengayomi anak-anak terlantar yang terlunta-lunta dijalanan. Merekalah yang menuangkan kebenaran kedalam hati setiap kita. Merekalah yang membekali kita dengan berbagai hal bermanfaat dan keterampilan hidup demi mengangkat harkat kemanusiaan setiap orang menuju kesempurnaan sebagai insan yang suci dari noda sejarah melalui sekolah, perguruan tinggi, tempat ibadah dan berbagai sarana lainnya.

Merekalah yang selalu mengisi surat kabar, majalah, radio, televisi dan berbagai bentuk media massa lainnya untuk menjadikan semua itu sebagai corong dakwah islam yang disatu sisi berfungsi sebagai pembimbing masyarakat luas agar mereka dapat menghindari berbagai pengaruh buruk yang menyebar luas ditengah mereka.

Merekalah orang-orang yang menyelenggarakan proses pendidikan dan pengajaran yang dinamis serta selalu berubah mengikuti perkembangan untuk menghadapi tantangan zaman baik dari luar maupun dari dalam. Melalui pendidikan, mereka menanamkan nilai-nilai ajaran islam yang luhur dan kemudian menjabarkannya agar dapat menjawab tantangan zaman yang selalu berubah mengikuti laju sejarah. Semua itu mereka lakukan agar semua institusi pendidikan islam dapat menjadi lembaga yang memiliki tujuan serta cita-cita yang jelas, lengkap dengan program, langkah-langkah serta metodologi pengajaran yang baik.

Muhammad Fethullah Gullen, Bangkitnya Spiritualitas islam

Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673)

Jika engkau bisa, maka jadilah seorang ulama
Jika engkau tidak bisa menjadi seorang ulama, maka jadilah pencari ilmu
Jika engkau tidak bisa menjadi seorang pencari ilmu, maka cintailah mereka
Jika engkau tidak bisa mencintai mereka, maka janganlah engkau membenci mereka
-Umar bin Abdul Aziz-

Barisan Pengganti Qishasmu

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa setelah dekat waktu wafatnya, Rasulullah memerintahkan Bilal supaya azan. Memanggil manusia untuk sholat berjama’ah. Maka berkumpulah kaum Muhajirin dan Anshor ke Masjid Rasulullah. Setelah selesai sholat dua raka’at yang ringan kemudian beliau naik ke atas mimbar lalu mengucapkan puji dan sanjung kepada Allah swt, dan kemudian beliau membawakan khutbahnya yang berkesan, membuat hati terharu dan menangis mencucurkan air mata.

Beliau berkata :

“Sesungguhnya saya ini adalah Nabimu, pemberi nasihat dan da’i yang menyeru manusia ke jalan Allah dengan izin-Nya. Aku ini bagimu bagaikan saudara yang penyayang dan ayah yang pengasih. Siapa yang merasa teraniaya olehku di antara kamu semua, hendaklah dia bangkit berdiri sekarang juga untuk melakukan qishas kepadaku sebelum dia melakukannya di hari Kiamat nanti”.

Sekali dua kali beliau mengulangi kata-katanya itu, dan baru pada ketiga kalinya, berdiri seorang laki-laki bernama Ukasyah Ibnu Muhsin. Ia berdiri di hadapan Nabi  sambil berkata: “Ibuku dan ayahku menjadi tebusanmu ya Rasullah. Kalau tidaklah karena engkau telah berkali-kali menuntut kami supaya berbuat sesuatu atas dirimu, tidaklah aku akan berani tampil untuk memperkenankannya sesuai dengan permintaanmu. Dulu, aku pernah bersamamu di medan perang Badar sehingga untaku berdampingan sekali dengan untamu, maka aku pun turun dari atas untaku dan aku menghampiri engkau, lantas aku pun mencium paha engkau. Kemudian engkau mengangkat cambuk memukul untamu supaya berjalan cepat, tetapi engkau sebenarnya telah memukul tulang rusuk ku, saya tidak tahu apakah itu dengan engkau sengaja atau tidak ya Rasul Allah, ataukah barangkali maksudmu dengan itu hendak memukul untamu sendiri? ´Rasulullah berkata: “Wahai ‘Ukasyah, Rasulullah sengaja memukul kamu.”

Kemudian Nabi menyuruh Bilal supaya pergi ke rumah Fatimah. Bilal segera ke luar Masjid dengan tangannya diletakkan di atas kepala. Dia heran dan tak habis fikir. Diketuknya pintu rumah Fatimah, tuan rumah menyahut dari dalam : “Siapakah di luar?”, “Saya datang kepadamu untuk mengambil cambuk Rasulullah” jawab Bilal. “Duhai bilal, apakah yang akan dilakukan ayahku dengan cambuk ini?” tanya Fatimah kepada Bilal.”Ya Fatimah! Ayahmu memberikan kesempatan kepada orang lain untuk mengambil qishas terhadap dirinya.” Bilal menegaskan.

“Siapakah pula gerangan orang itu yang sampai hati mengqishas Rasulullah?” tanya Fatimah keheranan. Biarlah saya saja yang menjadi ganti untuk dicambuk.” Bilal r.a. tidak menjawab pertanyaan Fatimah r.a., Fatimah r.a. memberikan cambuk tersebut, Bilal pun mengambil cambuk tersebut dan membawanya masuk Masjid, lalu diberikannya kepada Rasulullah, dan Rasulullah pun menyerahkannya ke tangan Ukasyah.

Suasana mulai tegang. Semua sahabat bergerak. Semua berdiri. Jangankan dicambuk, dicolek saja, ia akan berhadapan dengan kami. Mungkin begitu mereka bicara dalam hati. Semua mata merenung. Memandang Ukasyah dan sebilah cambuk. Saat itulah, Abu Bakar dan Umar r.a. bicara, “Hai Ukasyah! kami sekarang berada di hadapanmu, pukul qishaslah kami berdua, dan jangan sekali-kali engkau pukul Rasulullah!” Saat itu Umar mulai meraba pedangnya. Seandainya saja dia diizinkanakan memenggal kepala orang yang menyakiti Rasulullah. Rasulullah menahan dua sahabatnya. Berkata sang pemimpin yang dicintai ini: “Duhai sahabatku, duduklah kalian berdua, Allah telah mengetahui kedudukan kamu berdua!”

Kemudian berdiri pula Ali bin Abi Tholib sambil berkata lebih garang dari sahabat Abu Bakar : “Hai Ukasyah! Aku ini sekarang masih hidup di hadapan Nabi Aku tidak sampai hati melihat kalau engkau akan mengambil kesempatan qishas memukul Rasulullah. “Inilah punggungku, maka qishaslah aku dengan tanganmu dan deralah aku dengan tangan engkau sendiri!”

Ali tampil ke muka. Memberikan punggungnya dan jiwa serta cintanya buat orang yang dicintainya. Subhanallah, dia tak rela sang Rasul disakiti. Ia merelakan berkorban nyawa untuk sang pemimpin. Nabi pun menahan. “Allah swt telah tahu kedudukanmu dan niatmu, wahai Ali!” Ali surut, bergantianlah kemudian tampil dua kakak beradik, Hasan dan Husein. “Hai Ukasyah! Bukankah engkau telah mengetahui, bahwa kami berdua ini adalah cucu kandung Rasulullah, dan qishaslah kami dan itu berarti sama juga dengan mengqishas Rasulullah sendiri!” Tetapi Rasulullah menegur pula kedua cucunya itu dengan berkata. Duduklah kalian berdua, duhai penyejuk mataku.”

Dan akhirnya Nabi berkata: Hai Ukasyah! pukullah aku jika engkau berhasrat mengambil qishas!” “Ya Rasul Allah! sewaktu engkau memukul aku dulu, kebetulan aku sedang tidak lekat kain di badanku,” Kata Ukasyah. Kembali suasana semakin panas dan tegang. Semua orang berfikir, apa maunya si Ukasyah ini. Sudah berniat mencambuk Rasul, dia malah meminta Rasul membuka baju. Kurang ajar sekali si Ukasyah ini. Apa maunya orang ini. Tanpa bicara.Tanpa kata. Rasulullah membuka bajunya. Semua yang hadir menahan nafas. Banyak yang berteriak sambil menangis. Tak terkecuali, Ukasyah , Ada yang tertahan di dadanya.

Ukasyah segera maju melangkah, melepas cambuknya dan kejadian selanjutnya, tatkala dia melihat tubuh Rasulullah dan tanda kenabian beliau, ia segera mendekap tubuh Nabi sepuas-puasnya berkata sambil berlinang air mata : “Tebusanmu adalah Rohku ya Rasullallah, siapakah yang  sampai hatinya untuk  mengqishas engkau ya Rasul Allah? Saya sengaja berbuat demikian hanyalah karena berharap agar supaya tubuhku dapat menyentuh tubuh engkau yang mulia, dan agar supaya Allah swt dengan kehormatan engkau dapat menjagaku dari sentuhan api neraka.”

Akhirnya berkatalah Nabi saw, “Ketahuilah wahai para sahabat! barangsiapa yang ingin melihat penduduk Syurga, maka melihatlah kepada lelaki ini.” Lantas bangkit berdirilah kaum Muslimin beramai-ramai mencium Ukasyah di antara kedua matanya. semua rasa yang ada dihati mereka yang bercampur aduk, kini menyisakan rasa cinta dan penghormatan yang luar biasa satu dengan yang lainnya.

Allahumma sholli ‘ala Muhammad, Yaa Robbi sholli ‘alaihi wassalim 

 

Adakah diri ini berada dalam barisan itu?

Barisan pengganti qishasmu

Tak relakah diri menyaksikan engkau terluka?

Berdirikah kaki  tuk rela mengganti dirimu?

Keluarkah kata-kata cinta untuk melisankan keinginanku?

Siapkah badan ini menanggung luka demi cinta padamu?

Melelehkah mata ini membayangkan engkau menyerih karena lukamu ?

Iya, ya Rasul

Diri ini siap tuk berdiri memasang badan, berbicara lantang berurai air mata

Menanggung semuanya

Kamilah, barisan pengganti qishasmu

 

Taman Indah Itu…

Setiap kulihat taman

Yang kuperhatikan adalah

Kupu-kupu dan bunga-bunga

Yang  mempesona indah

Bukannya mencari-cari duri yang menyakiti diri

Atau menggali-gali cacing dibawah tanah

Yang sewajarnya ada

 

Begitu pula

Setiap kulihat saudara seiman

Yang kuperhatikan adalah

Senyuman dan inspirasi kebaikan

Yang melekat indah padanya

Bukannya mengumbar kesalahan

Atau mencari-cari  kelemahan

Yang sejatinya, setiap manusia memilikinya

 

Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS. Al Anfal: 63)

Jika belum bertemu, carilah!!
Karena kupu-kupu dan bunga itu, indah…

WANTED!!!

Hendaklah engkau berteman dengan orang yang dengan melihatnya saja akan mengingatkanmu kepada Allah

Kewibawaannya ada dalam hatimu

Ucapannya menambah amalanmu

Amalannya menjadikanmu zuhud terhadap dunia

Engkau tidak bermaksiat selama ada didekatnya

Menasehatimu dengan bahasa amalnya bukan hanya dengan bahasa hatinya

-Teman yang harus dicari, Dzunun Misri, Tabiin-

Orang yang berusaha selalu berkumpul dengan orang shaleh akan mendapatkan berkah dari melihat orang saleh meskipun ia tidak beramal sebagaimana mereka. Sabarkan dirimu dengan melihat mereka sehingga anda mendapatkan pengaruh mereka dan jiwamu menjadi baik dengan melihat wajah mereka. Mereka adalah kaum yang tidak membuat susah orang yang bersama mereka.

Mudah-mudahan selalu ditemani orang-orang shaleh, amin ya Robb

Apa Kabar Jiwa??

Jiwa, mengalami saat-saat bersemangat dan saat-saat loyo sehingga terkadang engkau melihatnya bersemangat mengerjakan ketaatan, amalan-amalan akherat, giat membaca Al-Qur’an, bangun malam, berzikir, berdoa, membaca berbagai macam buku, menulis yang bermanfaat, mengunjungi orang-orang shaleh, memenuhi kebutuhan kaum muslimin, bersegera mengerjakan kebajikan dan sebagainya. Namun, terkadang engkau mendapatinya dalam kondisi tidak bersemangat mengerjakan amalan-amalan tersebut.

Seorang mukmin yang cerdik adalah yang bisa memanfaatkan saat-saat semangatnya dengan sebaik-baiknya dan tidak lengah dengan kesempatan tersebut kapanpun datangnya. Ia juga tidak membiarkan ada peluang bagi setan memanfaatkannya. Kecerdikan semacam ini tidak dimiliki kecuali oleh sedikir orang yang selalu menyibukkan diri mendidik dirinya.

Oleh karenanya, wajib bagi penempuh jalan ini meletakkan pada diri mereka siasat pendidikan yang bijak untuk bisa bermuamalah dengan diri mereka sendiri sehingga bisa mensucikan dan membersihkan hatinya hingga jernih.

-Tarbiyah Ruhiyah Ala Tabi’in-

Tanyakanlah selalu kabar jiwamu, karena ia mudah sekali tertipu, terpedaya dan terlupa dari hakikat keberadaanya

Terasa Indahkah Dalam Hatimu??

Dalam salah satu buku induk gerakan ikhwanul muslimin, majmuatur rasail (risalah pergerakan) yang langsung ditulis oleh ideolognya, hasan al bana, dijelaskan bahwasanya hal yang menjadi prioritas pertama dalam membangkitkan kembali peradaban islam adalah pembentukan pribadi muslim. Beliau memberikan 10 muwashofat (karakter) yang seharusnya dimiliki seorang muslim dalam rangka pembentukan pribadinya. Isitilah karakter memang sedang booming, apalagi pemerintah kita satu dasawarsa terakhir terus mensosialisasikan istilah pendidikan karakter ini, dengan objektif, bisa dikatakan pemerintahan kita keduluan 80-an tahun dari pendidikan karakter (muwashofat) yang gerakan ikhwanul muslimin lakukan. Belum lagi dengan pendidikan karakter yang pemerintah kita adopsi, terlihat masih gamang dan setengah-setengah, wajar saja hal ini terjadi jika pendidikan karakter tidak digali dari alquran dan sunnah.

Kesepuluh karakter tersebut adalah :

  1. Berfisik kuat
  2. Beakhlak kukuh
  3. Berwawasan luas
  4. Berusaha mandiri
  5. Beraqidah luruh
  6. Beribadah benar
  7. Mengekang hawa nafsu
  8. Mengatur waktu
  9. Disiplin dalam segala hal
  10. Bermanfaat bagi orang lain

Dalam tulisan ini tidak akan dibahas panjang mengenai tahapan prioritas maupun kesepuluh muwashofat diatas, semua bisa dibaca langsung dibuku risalah pergerakan beliau ataupun buku RUKUN AMAL karya ali abdul halim mahmud, insyaAllah masih relevan dengan kondisi kekinian dan sudah dalam pembahasannya.

Membentuk karakter-karakter tersebut diatas memang tidak semudah menggaruk kepala yang gatal, melainkan memerlukan proses yang panjang, sulit dan terkadang berliku. Oleh karenanya diperlukan suatu sistem dan proses yang baik dan terukur agar karakter tersebut bisa terwujud. Salah satu keluaran nyata (output) dari karakter-karakter diatas adalah amalan harian (amalan yaumiah) yang kemudian dikontrol dengan seksama (mutabaah). Mengapa kita harus tahu mengenai hal ini? Karena eh karena, kontrol yang paling utama dan pertama, sebenarnya, terletak pada MASING-MASING INDIVIDU SENDIRI.

 

Kinerja, Standar dan Potensi dalam Amalan Pribadi Muslim

Dalam melakukan kontrol harus dilihat dulu apakah amalan harian tersebut diukur secara kualitatif (mutu) ataukah secara kuantitatif (jumlah). Umumnya, pengukuran secara kuantitatif jauh lebih mudah daripada kualitatif. Pengukuran ini berpengaruh terhadap kontrol yang dilakukan.

Setidaknya ada 3 hal yang perlu diketahui dalam melakukan kontrol (mutabaah) amalan harian. Hal yang pertama adalah kinerja. Kinerja bisa diartikan sebagai kondisi eksisting dari amalan harian yang biasa dilakukan. Kedua adalah standar yang diartikan sebagai batas atau kriteria minimal dari suatu amalan harian. Dan ketiga adalah potensi yaitu kenerja maksimal dari setiap amalan yang bisa dilakukan.

Sebagai gambaran mengenai ketiga hal tersebut, bisa dilihat pada contoh dibawah.

Shalat

–          5 waktu jamaah (5*15’)

–          Qiyamullail 11 rakaat (30’)

–          Rawatib 12 rakaat (6*3’)

–          Dhuha 4 rakaat (15’)

Zikr dan alquran

–          Tilawah 1 juz (45’)

–          Murajaah hafalan (30’)

–          Alma’rsurat (2*15’)

Membaca (paralel)

Infaq sedekah (paralel)

Menjaga Wudhu (paralel)

Shaum sunnah (2*paralel)/pekan

Majelis ilmu (2*120’)/pekan

Pembinaann (5*90’)/pekan

Riyadoh (2*60’)/pekan

Menulis (1*120’)/pekan

Mabit (1*180’)/bulan

Toko buku (1*120’)/bulan

Pengukuran kualitatif bisa dilakukan dengan menghitung frekuensi amalan yang dilakukan maupun dengan durasi dari amalan tersebut. Misalnya, amalan-amalan diatas adalah STANDAR yang kita tetapkan, standar yang kita tetapkan sebaiknya tidak terlampau jauh dengan kinerja eksisting yang biasa kita lakukan (biar tidak kaget), dan ketika standar yang ada dirasa kurang mengakomodir setelah kurun waktu tertentu (misal pertiga bulan), standar yang ada bisa kita tingkatkan terus. Bukankah ini yang kita sebut istiqomah?

Sedangkan contoh kinerja yang dilakukan adalah sebagai berikut.

Shalat

–          4 waktu jamaah 1 munfarid (5*15’)

–          Qiyamullail 5 rakaat (15’)

–          Rawatib 10 rakaat (6*3’)

–          Dhuha 4 rakaat (15’)

Zikr dan alquran

–          Tilawah 0,5 juz (30’)

–          Murajaah hafalan (30’)

–          Alma’rsurat (2*15’)

Membaca (paralel)

Infaq sedekah (paralel)

Shaum sunnah (1*paralel)/pekan

Majelis ilmu (3*120’)/pekan

Pembinaann (5*90’)/pekan

Riyadoh (1*60’)/pekan

Menulis (2*120’)/pekan

Mabit (1*180’)/bulan

Toko buku (1*120’)/bulan

Hal ini berarti, ada beberapa kinerja amalan yang masih di bawah standar dan ada yang sudah diatas standar. Memang, musuh utama mengejar standar yang kita tetapkan adalah diri sendiri ( sifat malas) seolah-olah tidak yakin dengan janji-janji yang Allah berikan dan tidak mengetahui keutamaan setiap amalan. Padahal, jika dihitung berdasarkan durasi dibagi rata perhari, contoh standar diatas hanya menghabiskan waktu sekitar 6,5 jam dari 24 jam waktu kita, waktu yang mungkin jauh lebih sedikit dari waktu on line didunia maya.

Sedangkan potensi yang bisa dilakukan adalah pengukuran nilai maksimal dari setiap amalan yang ada, selama nilai tertinggi tersebut masih sesuai dangan aturan main (syariat) yang berlaku, tidak berlebihan.

Terasa Indahkah dalam Hatimu?

“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalangan kamu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti (kemauan) kamu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu akan mendapat kesusahan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekefiran, kefasikan dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.”

(QS. Al-Hujurat (49) : 7)

A : ustad, kenapa walaupun kita tahu terkait keutamaan-keutamaan suatu amalan, namun terkadang berat untuk melaksanakannya?

Z : (dibacakan surat alhujurat :7  diatas), mungkin iman yang antum punya belum terasa indah dihati, sebab bagi mereka yang merasakan keindahan iman dalam hatinya akan bersegera dalam setiap kebaikan yang terhampar didepannya.

A : *dan ternyata memang demikian

 

Yaa Allah,..Yaa Robb,..

Wahai Sang Penguasa Hati

Jadikanlah hati kami cinta terhadap keimanan

Dan jadikanlah iman itu terasa indah dihati kami

Serta jadikanlah hati ini benar-benar benci

Benci terhadap segala bentuk kekafiran, kefasikan dan kedurhakaan

Sehingga kami bisa semakin dekat

Dan berharap Engkau akan mendekap erat

Dengan rahmat dan karuniaMu yang senantiasa kami harap

Betapa inginnya seperti mereka yang mampu menetapkan standar yang tepat pada dirinya, memiliki kinerja yang memuaskan atas apa yang diyakininya serta terus mengembangkan potensi dirinya dalam menghamba, ahh seandainya semudah menggaruk kepala yang tak gatal ini.