Pintu yang Selalu Menanti

Semalam sudah sampai kepenghujungnya
Kisah seribu duka kuharap sudah berlalu
Tak ingin lagi kuulangi kembali
Gerak dosa yang mengiris hati

Diriwayatkan dari ibnu abbas bahwa rasullullah mengirim utusan untuk menyeru wasyi masuk islam, setelah menerima dakwah itu, wahsyipun terkejut dan menyampaikan pesan kepada rasul , “wahai muhammad bagaimana mungkin engkau berdakwah kepadaku?, padahal kau menyatakan bahwa siapapun yang membunuh, berbuat syirik atau berzina pasti akan berdosa dan kelak dihari kiamat akan dilipatgandakan siksanya sebelum dimasukkan ke dalam neraka selama lamanya. sementara aku sudah melakukan dosa itu, apakah kau menemukan keringanan untukku?

Allah menjawab pertanyaan wahsyi dengan menurunkan ayat yang berbunyi , “kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka itu diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-furqon: 70)

Setelah mendengar jawaban itu, wahsyi kembali berkata, “wahai muhammad, syarat yang kau sampaikan itu terlalu berat, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shaleh. jangan-jangan aku tidak dapat melakukan itu?”.

Tapi Allah kemudian menjawab pertanyaan wahsyi dengan menurunkan  surat Annisa ayat 48, Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

Setelah mendengar jawaban itu, wahsyi berkata, “wahai muhammad, ternyata aku baru diampuni jika tuhanmu memang berkenan melakukan itu. sungguh aku tidak tahu apakah aku diampuni ataukah tidak. apakah ada pilihan selain ini?”.

Allah sekali lagi menjawab pertanyaan wahsyi ini dengan menurunkan ayat yang berbunyi, Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS Az-zumar:53)

Setelah mendengar ayat ini, barulah wahsyi berkata, “baiklah”. Dan diapun masuk islam.

(alhaitsam, majma zawaid)

Demikianlah akhirnya, wahsyi, seorang bekas budak yang telah membunah hamzah dan mengaku melakukan perbuatan dosa yang lain, akhirnya bergabung dengan para sahabat rasul yang mulia yang selalu kita sandingkan nama nama mereka dengan gelar radyallahuanhu.

Kisah wahsyi tak akan lengkap jika tidak menceritakan tentang hamzah. Sedikit backflash, Hamzah adalah paman rasul yang membela dengan sangat gigih risalah yang diemban oleh keponakannya. Hamzah syahid setelah tombak yang dilemparkan wahsyi berhasil mengenai dadanya. Setelah perang selesai rasul duduk disisi jasad hamzah yang telah dirusak sambil menahan tangis, tapi akhirnya tangis rasul pecah juga tak kuasa menahan pilu kematian manusia istimewa itu.

Beberapa tahun kemudian, wahsyi yang masih terasa berlumur darah hamzah diulurkan kepada rasullullah untuk berbaiat. Dengan lapang dada rasullullah menjabat tangan wahsyi dan mengucapkan selamat atas keislamannya.

Namum, setelah wahsyi masuk islam, rasul berkata kepadanya, “apakah kau dapat menyembunyikan wajahmu dariku?”. Rasul sadar, dirinya tidak pernah sanggup melihat wajah wahsyi. sebab setiap kali bersitatap dengan sahabat yang satu ini, hatinya selalu merasakan perih karena teringat akan hamzah. Rasul khawatir hal ini akan membuatnya membenci wahsyi sebagai sahabatnya yang seharusnya dapat diperlakukan seperti sahabatnya yang lain.

Disatu sisi wahsyi sangat menyadari posisinya. sebagaimana sahabat rasul yang lain, dia selalu mematuhi perintahnya tanpa banyak tanya. Entah berapa lama wahsyi menunggu panggilan yang kedua itu. setiap kali dirinya berbaris di tengah pasukan muslim. Wahsyi selalu mencuri pandang ke arah rasul sambil berharap perkataan rasul yang membolehkan dirinya bertatapam dengannya.

Namun harapan tersebut tak kunjung terwujud, sampai akhirnya wahsyi mendengar kabar jika rasul meninggal. Hati wahsyi benar-beanr remuk. panggilan yang ditunggu sekian lama itupun akhirnya sungguh lenyap ditelan waktu.

Sejak rasul wafat, wahsyi terus terbenam dalam penyesalan atas dosanya membunuh hamzah. Sampai pada perang yamamah dimasa abu bakar, wahsyi bergegas menyambut panggilan jihad untuk bergabung bersama pasukan muslim dibawah pimpinan panglima besar khalid bin walid. Inilah saat yang ditunggu- tunggu, wahsyi bertekad untuk tidak menyianyiakannya. Bayangan dosa hamzah, yang sebenarnya telah diampuni, benar-benar membuat wahsyi terbebani. Akhirnya, suatu kesempatan telah terbuka lebar untuknya yaitu membunuh musailamah al kadzab musuh terbesar kaum muslimin saat itu. Menjelang keberangkatan, wahsyi menenteng tombak yang sama dengan tombak yang pernah dia lemparkan ke dada hamzah menuju medan pertempuran yamamah.

Singkat kisah, perang berkecamuk. Pertempuran berlangsung sengit sampai pasukan musailamah terdesak. Nabi palsu dari yamamah itupun berusaha kabur. Saat itulah seorang prajurit muslimin berteriak ke arah wahsyi, “itu dia musuh Allah”. hal yang memang dipesankan wahsyi kepada prajurit muslimin. Buru-buru wahsyi melangkah mendekati musailamah, dalam hitungan detik tombak meluncur deras dan tepat mengenai dada musailamah hingga dia jatuh dari kudanya dan tewas roboh ke tanah.

Wahsyi langsung sujud syukur dengan air mata menetes membasahi pipi. “wahai rasullullah, apakah sekarang aku sudah boleh menghadap padamu?”, kiranya lirih ini yang mengalir bersama air matanya.

Inilah dakwah rasullullah, beliau berdakwah bahkan kepada orang yang sebenarnya nyaris tak sanggup beliau maafkan kesalahannya. Lalu bagaimana dengan kita? Apa yang kita fikirkan kepada manusia diluar sana yang belum mengenal islam, mengumbar aurat sambil joget-joget sampai batas yang tidak masuk logika atau kepada manusia yang menurut kita para pendosa?
Yakinlah, banyak pihak yang menantikan sentuhan dakwah kita.

Lalu bagaimana jika kita yang berada dalam posisi wahsyi, dengan masa lalu yang penuh akan dosa, segudang kesalahan, terikat kuat dengan maksiat dan terjerumus dalam kedurhakaan?. satu yang harus kita yakini, pintu taubat senantiasa terbuka bagi siapa saja, selama nyawa belum sampai ditenggorokan. Lalu apa lagi yang kita tunggu? apakah tiga ayat taubatNya masih kurang untuk kita berlari menuju ampunan dan rahmat-Nya?

Tuhan dosaku menggunung tinggi
Tapi rahmat-Mu melangit luas
Harga selautan syukurku
Hanyalah setitik nikmat-Mu di bumi

Tuhan walau taubat sering kumungkir
Namun pengampunan-Mu tak pernah bertepi
Bila selangkah kurapat pada-Mu
Seribu langkah Kau rapat padaku

(mengemis kasih)

Ramadhan, bulan reorientasi dakwah, bulan kembali padaNya dan mudah-mudahan bulan air mata,.

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: