Arsip untuk April, 2012

Akankah bisa melihat wajahMu?

Tahulah kita semua

Bahwasanya kenikmatan tertinggi di akhirat kelak

Ialah melihat wajah Allah ta’ala

 

Ianya mengalahkan semua kenikmatan yang ada disana

Istana-istana bertembokkan emas beratap zamrud merah delima

Buah-buahan ranum, manis dan mudah mengambilnya

Sungai-sungai yang mengalirkan susu, madu,  arak dan air tawar istimewa

Bahkan bidadari-bidadari setia bermata jeli nan tak berubah karena masa

 

Namun, bagaimana caranya?

Bagaimana caranya mendapatkan nikmat akhirat tertinggi itu?

 

Dan, ternyata…

Jawabannya sangat sederhana, layaknya makna kehidupan bagi yang telah mengenalinya

 

Kenikmatan tertinggi itu…

Adalah balasan yang Allah ta’ala berikan

Bagi manusia  yang merasakan kenikmatan tertinggi di dunia

 

Bukankah sangat sederhana?

Merasakan  kenikmatan akhirat tertinggi didahului dengan mendapatkan  kenikmatan dunia tertinggi?

Lalu apakah kenikmatan dunia tertinggi itu?

Kenikmatan yang seharusnya kita cari dan dapatkan dengan usaha tak kenal lelah

 

Ianya adalah…

Kesempurnaan dan kemanisan iman

Kecintaan sempurna dan kerinduan bertemu dengan-Nya

Perasaan tenang ketika mendekatkan diri

Serta, bahagia tatkala berzikir kepada-Nya

inspirasi dari : Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam “Ighaatsatul lahafaan

 

… tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, sebagai karunia dan nikmat dari Allah. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS Al Hujurat 7-8)

Namun rasanya,.

Iman ini masih jauh, sangat-sangat jauh dari dua kata itu

Tidak akan seperti ini pula keadaan seorang pecinta dan perindu

Ketenangan dan kebahagiaan yang adapun terasa semu

Melihat wajahMu, mungkinkahku??

Iklan

Hidup : Rangkaian Ujian

Hidup penuh liku-liku
ada suka ada duka
semua insan pasti pernah merasakannya
jalan hidup rupa-rupa
bahagia dan kecewa
baik buruknya sudah pasti ada hikmahnya

(sebuah lirik lagu dangdut)

Bismillah,.

Bada tahmid dan shalawat.

Ini adalah salah satu hal yang saya pikirkan terkait hidup dan kehidupan, setidaknya kehidupan saya sendiri.

Hidup adalah rangkaian ujian yang harus sesempurna mungkin terselesaikan. Ujian yang menimpa kadang berupa rangkain seri yang datang bertubi-tubi tanpa henti. Kadang juga berupa rangkaian paralel, yang sekalinya datang bersamaan membuat sesak pikiran dan hati. Ujian yang adapun bisa berupa ujian, yang menurut kita, ujian yang menggembirakan dan membahagiakan. Ada pula ujian, yang sekali lagi, menurut kita, menyengsarakan.

Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, maka dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”.

(Al fajr : 15-16)

Banyak orang yang mendefinisikan jika ujian hanya berupa kesempitan hidup dan kesengsaraan kehidupan, namun pada dasarnya tidak demikian. Ujian bukan hanya kekurangan dalam sandang, pangan, papan serta ketakutan dan kekhawatiran kita akan keberlangsungan hidup dan masa depan, seperti masalah pendidikan, keluarga, percintaan, pekerjaan, pertikaian dengan orang lain serta masalah – masalah yang disebabkan diri sendiri dan sebenarnya ada dalam hatinya sendiri (galau mungkin salah satunya). Bukan hanya hal ini. Tetapi, melimpahnya harta bermilyar dollar, kendaraan dan rumah mewah, jabatan eksekutif dan kedudukan informal serta anak istri yang menyejukkan hati adalah bentuk ujian pula.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
(Albaqarah : 155-157)

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku.” Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.
(Azzumar : 49)

 

Karakteristik ujian

Ujian bersifat universal

Setiap individu manusia yang ada dimuka bumi, pastinya mengalami ujian. Dari yang hidup di pedalaman hutan terdalam sampai manusia yang hidup dihiruk pikuk kota metroplitan. Pun manusia yang paling primitif sampai manusia yang paling modern sekalipun. Semuanya mengalami ujian, dari yang hidup di jaman batu sampai sekarang hidup di jaman pentium i7 . Namun, ada yang berbeda bagi seorang yang beriman, karena ujian yang didapatkannya adalah sarana untuk mendekatkanya kepada Sang Maha Kuasa. Allah, Robbul alamin

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?  Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

(Al ankabut : 2-3)

Jadi, ujian yang dianugerahkan Allah  adalah sebuah konsekuensi logis akan keimanan yang bersarang dihati hambanya. Dan,  mudah saja membuat parameter bagi seorang mukmin dalam menjalani ujian hidupnya ini. Cukup SATU PERTANYAAN : Apakah setiap ujian yang datang semakin membuatnya bertambah DEKAT kepada Allah, atau justru sebaliknya, balik kanan dan menjauh. Simpel sekali bukan? Tinggal dijawab masing-masing.

 

Ujian bersifat unik dan eksklusif

Setiap individu, memiliki ujian yang berbeda-beda, baik dari kadar maupun intensitasnya. Sangat variatif. Satu individu dengan individu yang lainnya tak ada yang sama jenisnya karena memang Allah Maha Mengetahui kapasitas individu dan beban yang pas yang mampu individu itu pikul. Dan sebagai seorang muslim, kita harus sangat-sangat meyakini jika ujian yang diberikan Allah tak akan pernah melebihi kapasitas kita. Dan kita harus sangat-sangat yakin pula, jika ujian yang diberikan pada kita adalah TERBAIK yang Allah berikan. 5W + 1H nya sudah superpresis, ga mungkin tertukar apalagi salah.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

(Al-Baqarah : 286)

 

Ujian ada sampai nafas terakhir kita

Tak akan pernah berhenti ujian yang diberikan Allah karena sebegitu sayangnya Allah pada hamba-Nya, pada kita semua. Pembebanan yang diterima dari masa baligh akan terus ada sampai detik terakhir hidup kita. Setidaknya pembebanan sebagai ‘ibadullah,pembebanan sebagai khalifah fil ard dan pembebanan sebagai pengemban amanah dakwah.  Tak akan pernah berhenti. Dan ini masalahnya, kita tidak akan pernah tahu, ‘soal ujian’ yang mana yang merupakan soal terakhir yang Allah berikan. Karena mungkin saja, tulisan ini adalah ujian terakhir bagi sang penulis dan tak ada lagi ujian setelahnya. Serta 1001 kemungkinan soal ujian terakhir lainnya. Dan dari ujian-ujian yang telah Allah berikan, jika dicoba dihitung-hitung, ternyata, harus diakui dengan jujur, tidak semua ujian bisa selesai. Bahkan gagal total. Dan kemungkinan terpeleset dalam ujian selanjutnya terbuka menganga. Kiranya bukan karena rahmat dan ampunan Allah, entah bagaimana cara remedial ujian-ujian tersebut. Semoga saat mengerjakan ujian terakhir itu, bisa mengerjakannya dengan baik dan penuh kesungguhan. Khusnul khatimah ya robb, amin.

Ya Allah, Ya Robb

Kiranya setiap anugerah ujianMu padaKu

Semakin mendekatkanku padaMu

Sehasta demi sehasta

Selangkah demi selangkah

 

Hingga bisa kumerapat

Dan sangat berharap

Engkau akan sudi mendekap erat

Dalam kasih sayangMu

Dalam Rahmat ampunanMu

Dan jika rapotnya dibagikan nanti, berharap, dengan sangat, kita mampu mengambilnya dari tangan kanan kita dengan muka yang menyemburatkan cahaya indah keimanan