Al Ummu Madrasatul ‘Ula

Bismillah,.

Perasaan seorang ibu kepada anaknya adalah suatu perasaan yang menerjemahkan gambaran nyata menyatunya kehidupan ibu dengan anaknya. Jika anak bersedih, diapun merasakannya. Jika anak berbahagia, sang ibupun ikut merasakan kebahagiaanya.

Mari kita mengenal seorang ibu yang mempunyai gambaran dan perasaan tersebut. Seorang wanita yang menikah dengan laki-laki yang bernama Ismail. Ismail adalah seorang alim yang mulia, murid Imam Malik. Hasil perkawinan yang penuh berkah ini adalah seorang anak yang diberi nama Muhammad.

Tidak berselang lama setelah kelahiran Muhammad, Ismail wafat dengan meninggalkan harta yang berlimpah untuk istri dan anaknya yang masih kecil.

Setelah meninggalnya sang suami, sang ibu mulai menanamkan pendidikan islam yang baik kepada anaknya, Muhammad. Dia berharap putranya menjadi salah seorang ulama kaum muslimin. Sang ibu memiliki pandangan yang jauh kedepan terhadap anaknya.

Tetapi sangat disayangkan, ada sebuah penghambat. Penghambat yang sangat berat.

Apakah itu??

Ternyata sang putra, Muhammad, tidak bisa melihat sejak lahir. Pada saat tidak bisa melihat, tentu akan menyulitkan dalam mencari ilmu, dari satu syaikh ke syaikh yang lain, dari satu tempat ke tempat yang lain. Sang ibupun sangat sedih.

Lalu apa solusinya??

Solusi atas keinginan mulianya itu??

Solusi atas azzam dan cita-cita mulia sang ibu terhadap anaknya ini??

Apa solusinya kawan??

*sejenak berfikir, kira-kira hal apa yang kita lakukan

Tepat!!!

Inilah solusinya,inilah jawabannya. Suatu jalan yang tidak akan pernah tertutup.

DOA, selalu dibuka oleh Robbul ‘alamin.

Coba tunjukkan padaku siapakah gerangan yang dapat menutup pintu ini sepanjang sejarah?? Tidak ada bukan??

 

Sang ibu memilih doa

Dia mulai berdoa kepada robbnya, pencipta dan yang mengadakannya, pemberi nikmat kepadanya yang tidak terhitung.

Sang ibu berdoa kepada-Nya dengan hati yang suci dan niat yang baik.

Siang dan malam, hari demi hari, bulan demi bulan.

Dan akhirnya.

Pada suatu malam ketika ibu ini sedang tidur, tiba-tiba dia melihat dalam mimpinya sang al khalil ibrahim ‘alaihissalam.

Ibrahim berkata kepadanya,”wahai Ibu, Allah telah mengembalikanpenglihatan putramu berkat doamu yang terus menerus.”

Dan dipagi hari sang ibu melihat buat hatinya bisa melihat. Allahuakbar…

 

Setelah Muhammad bin ismail dapat melihat, sang ibu mulai mengarahkannya kepada ilmu.

*hmmm,ngebayangin seorang ibu yang mengajarkan alif ba ta tsa kepada anaknya (kangen banget ama ibu euy)

Akhirnya sang anak pun, dikemudian hari, menulis sebuah kitab yang merupakan salah satu kitab tershahih didunia setelah kitabullah.

Shahihul bukhari, itulah nama kitabnya kawan. Dialah Muhammad bin ismail al-bukhari. Tentu kita semua mengenalnya.

Allah telah memberikan ilmu dan keluasan hafalan padanya. Dia telah menghafal buku beberapa ulama semenjak usia 16 tahun. Dalam usia semuda itu, dia memulai perjalan panjangnya dalam mencari ilmu, dengan ditemani ibu dan saudara-dsaudaranya. Dia memulai perjalanann dengan perjalanan ke baitullah. Dari sana diapun mengelilingi pusat-pusat ilmu dan hadits didunia islam pada masa itu.

Dia mengecap kelelahan dan kesulitan. Memikul resiko bahaya dan kesengsaraan dalam rangka mengumpulkan hadits nabi dan menyebarkannya kepada kaum muslimin. Sebuah pekerjaan yang teramat berat.  Teramat berat karena harus ada ketelitian terhadap para perawi hadits, sanad ( jalur riwayat), dan matannya (redaksi hadits). Dia telah memberikan ilmunya kepada kita dan kepada kaum muslimin sejak ratusan tahun lalu. Kaum muslimin telah mengambil banyak manfaat dari hadits-hadistnya dalam pengambilan dalil menyangkut bermacam-macam hukum fikih dan yang lainnya.

Inilah albukhari, dengan keutamaan-keutamaannya dan perhatiannya yang tinggi terhadap penyebaran ilmu dikalangan kaum muslimin.

Inilah albukhari, salah satu hasil dari jerih payah sang ibu yang tidak kenal lelah berdoa agar Allah mengembalikan penglihatan anaknya.

Inilah albukhari, contoh nyata betapa PENTING dan DAHSYATnya peran seorang ibu, Al ummu madrasatul ‘ula.

 

Dan terkhusus para calon ibu, bersungguh-sungguhlah mengangkat martabat anakmu nanti. Martabatnya dunia dan akherat. Ini memerlukan usaha dan pengorbanan terbaik. Azzam dan hati yang ikhlas. Serta doa yang tak pernah putus.  Dan yakinlah, dengan tarbiyah yang benar dan arahan yang baik dibawah payung Al-Qur’an dan sunnah nabawiyah, bukhari-bukhari abad 21 akan lahir dan memberikan kebermanfaatan yang besar bagi umat muslimin.

Sesungguhnya Allah Maha Malu, Maha Dermawan dan Maha Pengasih. Dia merasa malu jika seseorang mengangkat kedua tangannya kepadaNya, lalu dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong.(HR abu dawud, ibnu majah, at-tirmidzi) (shahihul jami’ush shahir,juz 2,no 1753)

Sampai sekarang, masih yakin jika kunci perubahan perbaikan peradaban islam ada pada para pemuda dan kaum wanita.

Apalagi terhadap wanita yang masih muda yang memiliki keinginan besar untuk peradaban islam.^^

KALIANLAH KUNCINYA!!!

Referensi: Imam albukhari sayyidul huffazh wal muhadditsin, syaikh taqiyudin an-nadawi azh-zhahiri

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: