Maaf, saya juga ambisius

 

Bismillah,
Lihatlah dia berjalan kesana kemari dengan pakaiannya yang baru. Dia turun, lalu berjalan dengan gayanya yang khas. Gaya berjalan yang didambakan oleh banyak gadis untuk bisa mempelajarinya. Jika dia melewati suatu tempat, lalu kita mendatangi tempat tersebut sesudahnya, niscaya kita mengetahui bahwa dia baru melewatinya karena aroma parfumnya yang berniali seribu dirham.

Kadang-kadang dia tertinggal shalat karena menata rambutnya. Kemewahan yang dia rasakan ini diungkapkannya dengan perkataan, “ saya tidak memakai baju lalu orang-orang melihatnya kecuali saya anggap bahwa baju itu telah usang”.

Datanglah suatu hari dimana dia menerima tampuk khilafah. Maka dia beralih ke fase kehidupan yang baru. Dia telah mengubah mentalnya, melepas masa lalu dengan segala nikmat dan kemewahannya. Pikiran, hati dan perasaannya telah bangun. Dia menumbuhkan pada dirinya hakikat muroqobah. Padahal biasanya, orang yang berpindah ke martabat itu, yaitu tampuk kekuasaan, kebanyakan malah lebih bersifat congkak dan sombong. Tetapi dia membantah anggapan itu. Dia memulai hidup barunya yang bersinar.

Setelah dia menerima khilafah, dia berkhotbah menjelaskan politiknya yang baru. Orang-orang terkejut. Diakah itu, atau orang lain yang meminjam bentuknya?
Dimana gaya berjalannya yang terkenal itu?
Dimana parfumnya yang semerbak itu?
Dimana bajunya yang panjang itu?
Dimana??dimana??

Dia memulai langkah-langkah nyata setelah slogan-slogannya. Dia membatalkan kezaliman-kezaliman yang dimulai dari keluarga penguasa.

Sahabat, apakah engkau mengenalnya??

Dialah Umar bin abdul aziz, sang khulafaur rosyidin kelima.

Lihatlah saat dia berdialog dengan istrinya tentang realita kehidupannya yang baru, “fatimah, masalah ini telah menimpaku, saya menanggung beban berat. Saya akan dimintai pertanggungjawaban terhadap orang mulia atau rendah dari umat Muhammad. Tugas ini tidak bisa ditunaikan sambil lalu dalam diriku, tidak pula dari waktuku, dimana saya menunaikannya dan menunaikan hakmu atasku. Saya tidak menginginkan wanita, saya tidak ingin berpisah denganmu, dan saya tidak mementingkan siapapun didunia ini melebihi dirimu. Tetapi saya tidak mau menzalimi dirimu dan saya takut dirimu tidak kuat menaggung model kehidupan yang saya pilih. Jika kamu mau, saya bisa memulangkan kamu kerumah ayahmu”.

Fatimah menjawab,”apa yang akan kamu lakukan?

Umar berkata, ”harta yang kita miliki ini, yang dimiliki saudara-saudaramu dan kerabatmu telah diambil dari harta kaum muslimin. Saya akan mengambilnya dari mereka dan mengembalikannnya kepada kaum muslimin. Saya akan memulai dari diriku. Saya tidak akan menyisakan kecuali sepetak tanah yang telah aku beli dengan uangku sendiri. Saya akan hidup dari hasilnya. Maka jika engkau tidak kuat hidup sulit setelah sebelumnya hidup mewah, pulanglah ke rumah ayahmu”.

Fatimah menjawab, “apa yang mendorongmu melakukan itu?

Umar menjawab, “wahai fatimah, saya mempunyai jiwa yang ambisius, saya tidak memperoleh sesuatu kecuali saya menginginkan yang lebih baik. Saya ingin jadi gubernur dan saya mendapatkannya. Setelah saya mendapatkannya, saya ingin jadi khalifah. Ketika saya mendapatkannya, saya berambisi meraih yang lebih darinya, yaitu surga”.

Fatimah menjawab, “lakukanklah apa yang ingin engkau lakukan, saya bersamamu. Saya tidak akan menyertaimu dalam kenikmatan, lalu meninggalkanmu dalam kesusahan. Saya ridha terhadap apa yang kamu ridhai”.

Langkah rillpun dimulai

Dia memerdekakan para hamba sahayanya
Dia melepaskan para pelayan
Dia meninggalkan istana
Segala isinya dia kembalikan ke baitul mal
Dia tinggal dirumah mungil disebelah utara masjid

Fatimah seperti orang kebanyakan dalam pakaiannya, rumahnya, tawadhunya, makan dan minumnya, yang tertinggal dari fatimah hanyalah perhiasannya saja.

Umar berkata kepadanya, “Fatimah, engkau mengetahui bahwa perhiasanmu ini diambil ayahmu dari harta kaum muslimin dan ia menghadiahkannya kepadamu. Saya tidak suka ia bersamaku dirumah ini. Pilihlah, mengembalikannya kepada baitul mal atau izinkan aku berpisah denganmu”.

Fatimah menjawab, “tidak, saya memilihmu daripadanya. Bahkan yang lebih banyak darinya, jika seandainya aku memilikinya”.
Perhiasan itu dikembalikan ke baitul mal.

Seorang ibu datang dari mesir ingin bertemu dengan khalifah umar, ibu ini bertanya tentang istananya, lalu ornag-orang menunjukkan rumahnya. Dirumah itu sang ibu melihat seorang wanita duduk diatas tikar yang ditambal dengan pakaian bekas. Dia juga melihat seorang laki-laki yang tangannya berlumpur sedang memperbaiki tembok rumah.

Ibu ini sangat terkejut ketika mengetahui bahwa wanita yang duduk ditikar adalah istri amirul mukminin, Fatimah binti abdul malik.
Ibu itu berkata kepada Fatimah, “ya sayyidati, mengapa engkau tidak berhijab dari tukang batu ini?” sambil tersenyum, fatimah menjawab, “tukang batu itu adalah amirul mukminin.”
Sebuah pemandangan tentang kerendahan hati yang mengagumkan.

Diambil dari qishas minat tarikh, syaikh ali attanthowi, dengan beberapa perubahan.

ijinkan kami bertemu ya robb, suatu waktu kelak

Iklan
    • achmadginanto
    • Januari 25th, 2012

    subhanallah…seandainya presiden RI spt itu…tp sapa yg mau ya? hehehe….salam kenal mas, silahkan mampir ke tempat saya http://mengukirlangkah.wordpress.com

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: