Arsip untuk Agustus, 2011

sendiri

samudra angkasa terlalu luas untuk diarungi
sendiri…
dunia terlalu indah untuk dinikmati
sendiri…
bukit dan lembah terlalu sunyi untuk dijelajahi
sendiri…
pantai putih itu terlalu panjang disusuri
sendiri…
dan sekarang berharap untuk tidak lagi
sendiri…Allah is always by your side,..

Iklan

ANTARA FITNAH DAN PERHIASAN TERINDAH 2

Pernah ada suatu masa ketika kaum wanita

Dianggap  penyabab segala penderitaan dan musibah yang menimpa manusia

Jangankan untuk diakui, bahkan untuk makan kalian tidak duduk semeja

 

Pernah ada suatu masa ketika kaum wanita

Memilih begitu saja siapakah laki-laki yang berhak menggaulinya

Dan justru merekalah yang dianggap terkemuka dikaumnya

 

Pernah ada suatu masa ketika kaum wanita

Berhak dibunuh begitu saja oleh suaminya

Bahkan hak hidupnya hilang ketika suaminya mati mendahuluinya

 

Pernah ada suatu masa ketika kaum wanita

Diasingkan dan dianggap najis luar biasa

Justru pada saat masa rapuh dan masa labilnya

 

Pernah ada suatu masa ketika kaum wanita

Mandi  dengan laki-laki bersama dikolam terbuka

Dilihat pasangan mata yang justru senang melihatnya

 

Pernah ada suatu masa ketika kaum wanita

Tidak mendapat warisan dari keluarganya

Bahkan dianggap racun kebahagiaan dan perusak harta

 

Pernah ada suatu masa ketika kaum wanita

Dianggap budak dan laki-laki sebagai raja

Kalian dianggap  sumber kesalahan dan penyebab kemunduran moral

 

Pernah ada suatu masa ketika kaum wanita

Ibarat  barang tak berharga yang dapat dibeli dipasar-pasar

kalianlah satu pintu dari jahanam karena dituduh menggerakan dan membawa kepada dosa

 

Pernah ada suatu masa ketika kaum wanita

Dianggap biang dari kemaksiatan dan akar dari kejahatan

Kalian dianggap keburukan yang tak dapat dihindari

 

Pernah ada suatu masa ketika kaum wanita

Dianggap memalukan keluarga

Hingga harus dikubur hidup-hidup saat masih dalam buaian ibunya

20 tahun, itulah waktu yang diperlukan bagi seorang abdul halim abu syuqqoh untuk menyusun masterpiecenya, buku KEBEBASAN WANITA. Walau kemudian beliau cukup kecewa karena ada beberapa ulama yang menolak bukunya dijadikan referensi bagi kaum wanita. Padahal isinya, luar biasa lengkap dan menginspirasi.

Kaum wanita memang memiliki peran dan posisi tersendiri dalam kehidupan. Tidak kalah dengan kaum laki-laki. Namun sayangnya, banyak dari kaum wanita sekarang yang gamang bahkan mungkin tidak tahu betapa mulianya mereka, apalagi setelah islam datang dalam hidupnya. Sungguh sangat disayangkan.

Dan kiranya, satu hal saja yang ingin saya sampaikan pada kalian,

STANDAR KUALITAS BIDADARI SURGA TIDAK AKAN  TURUN KARENA MASA

MAKA MENDEKAT DAN BELAJARLAH DARI MEREKA YANG TELAH MENUNJUKKAN PADA DUNIA

BAHWA WANITA ADALAH PERHIASAN TERINDAH KEHIDUPAN

Rada-rada susah memang ketika yang lebih banyak kita ketahui adalah para artis dan biduan-biduan. Baik kelas local sampai internasional. Malas saya nyebutinnya. Namun taukah kalian, dibalik setiap keglamoran mereka, setiap kehidupan hedon mereka. Tersimpan suatu hal yang mengiris tipis-tipis sisi fitrah mereka. Ada baiknya kita belajar dari seorang wanita yang ketenarannya bahkan melampaui jamannya, namun sayang, kehidupannya berakhir tragis. Ia bunuh diri dengan membawa sejuta sesal. Resapi setiap nasehat terakhirnya ini, yang ditujukan bagi kalian, kaum wanita:

Hati-hatilah dengan sanjungan

hati-hatilah terhadap setiap orang yang menipu dirimu dengan gemerlapnya ketenaran

Sesungguhnya akulah wanita yang paling malang di dunia ini

Aku tak dapat hidup sebagai ibu

Aku adalah wanita yang gagal dalam berumah tangga

Alangkah indahnya kehidupan rumah tangga yang mulia dengan segala hal

Sesungguhnya kebahagiaan wanita sejati

Adalah hidup dalam rumah tangga yang mulia dan suci

Bahkan sebenarnyalah kehidupan rumah tangga

Adalah kunci bagi kebahagiaan seorang wanita dan seluruh manusia.

(Maryline mondrow)

Sesungguhnya wanita-wanita dinegeri timur senantiasa dikekang keinginannya dan disana dibedakan serta dipisah-pisahkan antara lakilaki dan perempuan dan hal itu dikembalikan kepada agama islam dan perannya dalam menghalangi jalan kebangkitan para wanita dan kesamaan hak antara wanita dan laki-laki.

(salah satu klausal ketetapan PBB)

Maka, lihatlah kebangkitan yang mereka suarakan ini, lihatlah keadaan dan kehidupan wanita disana. Lihatlah dengan baik-baik kawan. Dan sadarkah, kalian sekarang sedang digiring menuju kesana. Silahkan cari di mbah gugel, statistic simgle parent disana, angka virginitas pranikah disana dan jumlah aborsi disana. Dan jangan kaget, ketika Negara kita, sekarang, telah menyumbang angka yang cukup besar.

Sesungguhnya kebebasan menurut persangkaan mereka dan juga persamaan hak yang mereka gembar-gemborkan yang mereka tawarkan kepada para wanita modern adalah kebebasan bagi laki-laki untuk mencumbunya sementara hak-haknya ditelantarkan serta membunuh hati nuraninya yang seharusnya berusaha menjaga kehormatan dan kemuliannya.

(ust Muhammad jamal)

SUNGGUH BERUNTUNG KALIAN YANG MENGENAL ISLAM, SUNGGUH SANGAT-SANGAT BERUNTUNG.

Kewajiban kita adalah untuk memperalat wanita, kapan saja mereka siap mengulurkan kedua  tangannya kepada kita sehingga mereka menghiasi yang haram dan memporakporandakan pahlawan islam.

(Masonic agent)

Namun,

Pernah ada masa

Ketika peran dan posisi wanita

Ditempatkan kedalam posisi terbaiknya

Hingga menjadi partner sejati membangun peradaban ilahi

 

Namun,

Pernah ada masa

Ketika hak-hak wanita ditunaikan sempurna

Bahkan menjadi kebanggan keluarga

Dan teladan bagi masyarakatnya

 

Namun,

Pernah ada masa

Ketika  wanita diperlakukan dengan begitu indahnya

Dijaga layaknya permata terindah keluarga

Dan hanya boleh dibawa

Oleh mereka yang berani dengan gagah menghadap walinya

dan masa ini, akan hadir kembali

 

Dan inilah masa-masa

Ketika wanita menjadi fitnah terbesar kaum laki-laki didunia

Ketika wanita menyuarakan emansiapasi bablas

Dan wanita lantang mengatakan kebebasan tak terbatas

 

Dan inilah,satu nasehat sederhana yang ingin saya berikan

Standar kualitas bidadari surga tidak akan turun karena masa

Karena memang, merekalah, wanita pilihan sang maha Rahman

Yang memberikan teladan dan perbaikan bagi dunia yang sekarat

Dan inilah, alasan utama kalian juga di ibaratkan perhiasan dunia terindah

Maka belajarlah dari mereka

Para bidadari surga yang kepleset kedunia

 

Khadijah binti khuwailid, Saudah binti zamah, Aisyah binti abu bakar, Hafshah binti umar, Ummu salamah, Ummu habibah, Zainab binti jahsy, Shafiyah binti huyay, Juwatiyah binti alharits, Mainumah binti alharits, Zainab alkubro, Ruqoyyah, Fathimah azzahra, Ummu kultsum, Asma binti abu bakar, Fathimah binti alkhattab, Ummu kultsum binti ali, Shafiyah bin abdul muthalib, Sumayyah binti khayyat, Asma binti yazid bin sakan, Ummu sulain binti malham, Ummu haram binti malham, Ummu warokah, Asma binti umais, Asysyifa bin lharits, Ummu aiman, Hindun binti uthbah, Immu syuraik, Ummu fadhl, Rubai binti maudz, Alkhansa, Khaulah binti tsalabah, Ummu ruman, Ummu imarah, Ummu mahjan,.

Sumber:nisaa haular rasul karya Mahmud mahdi al istambulli dan musthafa abu nashr asy-syalabi

Inspired by: SNSD,7 icon,cherrybelle,konser dangdut,ingatan saat disingapur dan hongkong serta chat ringan dengan beberapa sahabat

karena inspirasi seorang anak sepanjang hidupnya adalah seorang ibu

Psikologi Wanita adalah keteladanan

Dalam konten psikologi Islami, semangat dari psikologi wanita adalah keteladanan. Cara ini dengan mudah untuk dipahami, karena kita dapat melihat realitas yang ada dari tokoh muslimah yang memberikan contoh berakhlak yang baik sebagai wanita. Dalam kesempatan ini, penulis coba akan mengangkat Ummi Khadijah binti Khuwailid RA sebagai jalan menemukan itu.

Istri nabi Muhammad yang pertama ini diangkat semata-mata telah memberikan tafsiran ulang mengenai arti seorang wanita bagi kita semua. Wanita yang tersudutkan terhadap definisi kecantikan dan muda secara empirik, namun terlempar dari fakta keteladanan bagi dinamika kehidupan. Ummi Khadijah bagai dahaga bagi kaum muslim, karena walaupun secara umur jauh diatas Nabi Muhammad dan dapat dibilang sedang melewati masa tua, namun api jiwa enerjiknya terus menyala walau telah dihantam berbagai ujian. Ini penting bagi kita yang justru menaruh makna masa tua sebagai menurunnya aktivitas dan spirit.

Asam Garam seorang Istri

Beliau adalah seorang sayyidah wanita sedunia pada zamannya. Dia adalah putri dari Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab al-Qurasyiyah al-Asadiyah. Dijuluki ath-Thahirah yakni yang bersih dan suci. Sayyidah Quraisy ini dilahirkan di rumah yang mulia dan terhormat kira-kira 15 tahun sebelum tahun fill (tahun gajah). Beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mulia dan pada gilirannya berkembang menjadi wanita cerdas dan agung. Ummi Khadijah RA juga dikenal sebagai seorang yang teguh dan cerdik dan memiliki perangai yang luhur. Karena itulah, tak heran banyak laki-laki dari kaumnya menaruh simpati kepadanya. Tidak hanya berhenti pada fase mengagumi, tapi juga menikahi.

Sebenarnya, pada mulanya beliau dinikahi oleh Abu Halah bin Zurarah at-Tamimi dan membuahkan dua orang anak yang kemudian diberi nama Halah dan Hindun. Tatkala Abu Halah wafat, Ummi Khadijah kemudian dinikahi oleh Atiq bin ‘A’id bin Abdullah al-Makhzumi hingga beberapa waktu lamanya namun akhirnya mereka cerai.

Setelah itu babak abru dijalani. Banyak dari para pemuka-pemuka Quraisy yang menginginkan beliau, tetapi Ummi Khadijah RA lebih memprioritaskan perhatiannya dalam mendidik putra-putrinya. Pun saat itu Ummi Khadijah berada pada basis waktu yang sibuk mengurusi perniagaan dimana beliau melambung menajdi wanita kaya raya berkat kesuksesan bisnisnya.

Sampai suatu ketika, beliau hendak mencari orang yang dapat menjual dagangannya, maka tatkala beliau mendengar tentang Muhammad sebelum bi’tsah (diangkat menjadi Nabi), yang memiliki sifat jujur, amanah dan berakhlak mulia, maka beliau meminta kepada Muhammad untuk menjualkan dagangannya bersama seorang pembantunya yang bernama Maisarah. Akhirnya, beliau memberikan barang dagangan kepada Muhammad melebihi dari apa yang dibawa oleh selainnya. Sejak itu Muhammad memasuk fase baru dalam karir niaga pada konteks Arab waktu itu

Muhammad al-Amin pun menyetujuinya dan berangkatlah beliau bersama Maisarah, dan Allah menjadikan perdagangannya tersebut menghasilkan laba yang begitu melimpah. Sontak Ummi Khadijah merasa gembira dengan hasil yang banyak tersebut karena usaha dari Muhammad. Akan tetapi disamping itu semua, pada kenyataannya ketakjuban Ummi Khadijah RA terhadap kepribadian Muhammad lebih besar dan lebih mendalam dari sekedar kumpulan harta yang ada. Maka mulailah muncul perasaan dan biduk aneh yang berbaur dibenaknya, yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Dalam pandangan Ummi Khadijah, pemuda ini yang tak lain Muhammad, tidak sebagamana kebanyakan laki-laki lain yang ada.

Kepercayaan Diri seorang Wanita

Suatu kali Ummi Khadijah merasa pesimis; apa mungkin pemuda tersebut mau menikahinya? Mengingat umurnya sudah renta, bayangkan 40 tahun? Apa kata orang-orang nantinya karena Ummi Khadijah sendiri telah menutup pintu bagi para pemuka Quraisy yang sebelumnya telah gigih melamarnya.

Maka disaat Beliau bingung dan gelisah karena problem yang menggelayuti pikirannya itu, tiba-tiba muncullah seorang temannya bernama Nafisah binti Munabbih. Selanjutnya dia ikut duduk dan berdialog hingga kecerdikan Nafisah mampu menyibak rahasia yang disembuyikan oleh Khodijah tentang problem yang dihadapi dalam kehidupannya. Nafisah layaknya konselor mencoba membesarkan hati Ummi Khadijah RA dan menenangkan perasaannya dengan mengatakan bahwa Khadijah adalah seorang wanita yang memiliki martabat, keturunan orang terhormat, memiliki harta dan berparas cantik. Terbukti dengan banyaknya para pemuka Quraisy yang melamarnya.

Selanjutnya, tatkala Nafisah keluar dari rumah Khadijah, dia langsung menemui Muhammad al-Amin hingga terjadilah dialog yang menunjukan kelihaian dan kecerdikannya seorang Nafisah melempar dadu cinta Ummi kepada lelaki terpercaya itu:

Nafisah : Apakah yang menghalangimu untuk menikah wahai Muhammad?

Muhammad : Aku tidak memiliki apa-apa untuk menikah .

Nafisah : (Dengan tersenyum berkata) Jika aku pilihkan untukmu seorang wanita yang kaya raya, cantik dan berkecukupan, maka apakah kamu mau menerimanya?

Muhammad : Siapa dia ?

Nafisah : (Dengan cepat dia menjawab) Dia adalah Khadijah binti Khuwailid

Muhammad : Jika dia setuju maka akupun setuju.

Nafisah pergi menemui Khadijah untuk menyampaikan kabar gembira tersebut, sedangkan Muhammad al-Amin memberitahukan kepada paman-paman beliau tentang keinginannya untuk menikahi sayyidah Khadijah. Kemudian berangkatlah Abu Tholib, Hamzah dan yang lain menemui paman Khadijah yang bernama Amru bin Asad untuk melamar Khadijah bagi putra saudaranya, dan selanjutnya menyerahkan mahar.

Maka jadilah Sayyidah Quraisy sebagai istri dari Muhammad al-Amin dan jadilah dirinya sebagai contoh yang paling utama dan paling baik dalam hal mencintai suami dan mengutamakan kepentingan suami dari pada kepentingan sendiri. Manakala Muhammad mengharapkan Zaid bin Haritsah, maka dihadiahkanlah oleh Khadijah kepada Muhammad. Demikian juga tatkala Muhammad ingin mengembil salah seorang dari putra pamannya, Abu Tholib, maka Khadijah menyediakan suatu ruangan bagi Ali bin Abi Tholib radhiallâhu ‘anhu agar dia dapat mencontoh akhlak suaminya, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

Di sinlah letak keberanian dan bentuk PD seorang wanita yang tidak harus dipusingkan dengan kecantikkan dan melulu ingin merasa muda secara fisik. Karena bagi Ummi segalanya adalah kedewasaan hati dan keikhlasan atas potensi diri yang membuatnya yakin bahwa Muhammad adalah pilihan terbaik dan mau meminangnya.

Sebuah Komitmen Teguh

Jika Sternberg memberi sinyal komitmen adalah bagian inti dari cinta sejati, namun tak ada orang selain Khadijah yang memberikan komitmen melebihi garis yang didefinisikan Sternberg. Suatu ketika Allah Ta’ala menjadikan Muhammad al-Amin ash-Shiddiq menyukai Khalwat (menyendiri), bahkan tiada suatu aktifitas yang lebih ia sukai dari pada menyendiri. Beliau menggunakan waktunya untuk beribadah kepada Allah di Gua Hira’ sebulan penuh pada setiap tahunnya. Beliau tinggal didalamnya beberapa malam dengan bekal yang sedikit jauh dari perbuatan sia-sia yang dilakukan oleh orang-orang Makkah yakni menyembah berhala dan lain –lain.

Sayyidah ath-Thahirah tidak merasa tertekan dengan tindakan Sang Suami yang terkadang harus berpisah jauh darinya, tidak pula beliau mengusir kegalauannya dengan banyak pertanyaan maupun mengobrol yang tidak berguna, bahkan beliau mencurahkan segala kemampuannya untuk membantu suaminya dengan cara menjaga dan menyelesaikan tugas yang harus dia kerjakan dirumah. Apabila dia melihat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pergi ke gua, kedua matanya senantiasa mengikuti suaminya terkasih dari jauh. Bahkan dia juga menyuruh orang-orang untuk menjaga beliau tanpa mengganggu suaminya yang sedang menyendiri.

Ketika Rasullullah mulai mendekam di Gua Hira dan mendapatkan wahyu yang membuat Rasululah ketakutan dengan minta untuk diselimutkan. Maka Istri yang dicintainya dan yang cerdas itu menghiburnya dengan percaya diri dan penuh keyakinan, berkatalah ia: “Allah akan menjaga kita wahai Abu Qasim, bergembiralah wahai putra pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi yang jiwaku ada ditangan-Nya, sugguh aku berharap agar anda menjadi Nabi bagi umat ini. Demi Allah, Dia tidak akan menghinakanmu selamanya, sesungguhnya anda telah menyambung silaturahmi, memikul beban orang yang memerlukan, memuliakan tamu dan menolong para pelaku kebenaran.

Maka menjadi tentramlah hati Nabi berkat dukungan ini dan kembalilah ketenangan beliau karena pembenaran dari istrinya dan keimanannya terhadap apa yang beliau bawa. Sebagai istri, Ummi Khadijah tahu betul psikologis Rasulullah SAW dan apa yang diinginkan sang suami jika mendalami situasi mencekam yaitu sifat menghibur dan memberi situasi nyaman.

Ummi Khadijah akhirnya merubah mindset bagi kita, jika istri tidak lantas menjadi redup jika sang suami mengalami kesulitan. Akan tetapi, situasinya harus melengkapi danUmmi Khadijah melalukan itu dengan terkesan menjadi “suami” bukan istri dalam definisi sempit. Inilah sebuah pencerdasan paradigma perempuan untuk bersama-sama kontrukstif dalam bingkai rumah tangga. Tidiak lantas surut ketika situasi sang suami ditimpa musibah. Karena suami bukanlah segala-galanya, ia juga makhluk lemah, bisa sakit, dan sewaktu-waktu bisa meninggalkan kita semua. Sudah siapkah para perempuan? Belajarlah dari Ummi Khadijah RA. Allahua’alam

Oleh, Muhammad Pizaro Novelan Tauhidi

Satu Rindu

Ini tentang kerinduan

Yang mungkin tak terbayarkan

Mungkin karena yang dirindukan enggan bertemu

dan yang pasti

Karena sang perindu yang terlalu malu untuk bertemu

Sangat berharap bisa bertemu denganmu

Melihat wajah bercahayamu

Senyum meneduhkanmu

Lembut bicaramu

Dan pendar-pendar syafaat darimu

Namun, sekali lagi

Sang perindu terlalu malu untuk bertemu

Dan yang dirindukan belum tentu enggan bertemu

Adalah setiap maksiat dan dosa yang membuat sang perindu menjadi malu

Padahal segalanya telah disampaikan dengan indah oleh yang dirindukan

Bagaimana mungkin sang perindu mengindahkan perkataan yang dirindukan??

Mungkin satu jawabnya

Rindu sang perindu adalah palsu

Namun, yang ku tahu

Satu senyum yang dirindukan cukup membuat sang perindu berderai air mata

Bahkan mungkin, kata-kata kerinduan tak akan bisa terucap dari sang perindu

hanya air mata

hanya air mata

hanya air mata

Yang keluar deras tak tertahan

Saat yang dirindukan berpaling padanya dan memanggil

Berdirilah bersama disampingku

Dan minumlah ditelaga alkautsar bersamaku

Sebuah keinginan sederhana seorang perindu

bagian dari doa di bulan penuh berkah

inspired by: the chosen one by maher zain & yaa rasullullah by raihan

I’ll try to follow your way
And do my best to live my life
as you taught me
I pray to be close to you
On that day and see you smile
When you see me

Jangan Percaya Pada Cermin Dirumahmu

Hari itu gerimis basahi bumi Jakarta. Heni termenung sunyi, pupus sudah rasanya harapannya. Sejak tiga hari yang lalu dia terlilit kecewa. Yudhi kakak kelas di sekolahnya ternyata lebih memilih Rina untuk di jadikan kekasihnya.

Hatinya bagai tersambar petir dan tak ada yang mampu menahan duka yang kian menumpukan ara dalam hatinya yang terasa makin rapuh. Semangat hidupnya luntur, wajahnya bagai tercoreng dalam rasa malu yang begitu dalam. Yudhi adalah primadona sekolah. Wajah yang begitu putih dan halus, tinggi dan sering di bicarakan hampir seluruh gadis di sekolah. Dan begitulah kisahnya suatu ketika Heni memercayakan ukuran cintanya kepada cermin di rumahnya. Ia berharap bisa selaras dengan ukuran cermin di rumah Yudhi sang idola kasat mata jiwanya yang terlanjur terjebak dalam angan – angan perasaan jiwa dari sudut pelataran harapan yang sebenarnya belum pasti.

Dari mata turun ke hati, dari situlah cinta biasanya mulai menghadirkan spektrum perasaan dan getaran dalam hati dan urat nadi kita, bersinergi dalam saraf – saraf otak. Mata kita!..itulah permasalahan awalnya. Di sinilah letak rekayasa kegundahan itu tercipta dengan atau tanpa kesadaran. Seringkali mata telah membuat kita melihat sesuatu yang sebenarnya tidak perlu kita lihat. Hingga akhirnya ia mampu menyakinkan kita untuk memilih dari tuntunan keterbatasan kita sebagai manusia. Lalu setelah itu kita biarkan ia mendikte kita untuk lebih percaya kepada cermin daripada kepada hati nurani kita sendiri.

Lupakanlah Heni, Yudhi atau Rina..karena hari ini ada begitu banyak parasit perasaan telah sesatkan cinta menuju gundah tak berkesudahan. Hanya karena mata telah membiarkan perasaan kita untuk lebih percaya kepada cermin dalam mendefinisikan ukuran awal sebelum kita membaca sebuah teka – teki yang kita sebut cinta.

Tapi cinta yang seperti apakah yang bisa dijelaskan oleh sebuah cermin. Apa yang kau harapkan dari gambaran sebuah cermin yang tidak akan pernah mampu mendewasakanmu. Cermin tidak akan pernah mampu membelamu dan menghiburmu apalagi menghapus air matamu kala ia menetes basahi polos pipimu, yang mungkin pipi itu sempat menjadi saksi pengorbanan cinta dan perasaan setia akan indahnya harapan hidupmu atau menyimpan sejarah ketika patahan cinta pernah berkabung dalam sebuah episode penantian cinta yang tak kunjung menyapa. Karena cermin terlalu lugu untuk memahami dunia, begitulah berikutnya ia sering terkesan menipu.

Ya…ia memang terkesan menipu atau memang ia justru sering tertipu. Karena cermin hanyalah teman sejati dari mata yang telanjang. Mata yang hanya mampu menilai keindahan dari sampul – sampul luar sebuah pakaian kepribadian. Dan sampul hanyalah sebuah kosmetika marketing yang tidak semuanya dibangun karena kualitas harga jual sebuah nilai kelas tinggi. Maka begitulah cermin memang tidak akan pernah mampu menjelaskan kepadamu tentang apa yang terbaik bagi hidupmu. Karena cermin memang bukan sahabat dari nurani, karena cara ia memandang memang berbeda.

Disitulah kita sepatutnya harus mulai belajar, untuk tidak pernah mencurahkan semua perasaan gelisah dan gejolak hati kita pada cermin di rumah. Jangan pernah menggantungkan harapan cintamu pada paras dari lukisan yang diberikan oleh kasat matamu. Karena ia hanyalah bayangan semu dan terlalu lemah untuk mengalahkan waktu dan susunan alam yang pasti akan memuai keriput – keriput juga kepalsuan. Karena cermin tidak pernah sempurna menyimpan kepercayaan kita. Karena cermin juga bisa pecah dan hancur berkeping – keping ditelan getaran zaman.

Walau memang getaran itu adalah sesuatu yang menjadi fitrah bagi setiap manusia. Yang ujungnya dimulai dari kedewasaan hati dalam mengakomodir arah mata. Agar ruas harga dirinya terjaga dan tidak terjatuh dalam fatamorgana dan mimpi – mimpi yang membutakan kita pada kenyataan. Sekelebat ia lewat. dan sedikit saja celah kita biarkan ia menghantui ruang – ruang kosong dalam hati kita. Maka sejak itu perangkapnya akan merubah fitrah menjadi nestapa dan penyesalan. Maka sejak saat itu cermin tidak akan pernah mampu menjelaskan kepada kita tentang nurani dan iblis yang berkecamuk di dalam jiwa kita yang penuh dengan keterbatasan.

Sembunyikanlah gundahmu, lukamu atau kisah yang mungkin pernah membuat engkau menyimpan foto – foto dan kisah – kisah kemesraan itu, mengoleksi sejarah dan mengkhawatirkan keberadaannya dibalik setiap lapisan waktu yang tak pernah berhenti berdetak. Lalu setelah itu akalmu-pun akan ikut mati dalam jarak simetri di antara ruang – ruang duka dan suka. Kau coba merubah semua kedalam pilihan yang kedua. Untuk membangun setetes harapan dan mimpi akan kebahagiaan. Walau kau coba berkali – kali memastikan tanda tanya. Mencari jawaban yang sebenarnya kau sudah mengetahui jawabannya. Namun mau berapa lagi kita biarkan diri kita tertipu, ketika setiap haluan definisi kegundahan itu harus berakhir dari nasehat bisu cermin di rumahmu. Lalu kita biarkan diri kita terseret ke dalam harapan dari oasis di antara sahara hidup yang membuatmu seakan melihat kesegaran dan nafas yang penuh kenyamanan.

Ingatlah, cinta sejati selalu dijaga bersama sang ksatria waktu dalam medan perang yang penuh kesabaran dan pengertian panjang. Yang keseluruhannya menimbulkan energi pembelajaran untuk menjadi lebih baik dengan kedewasaan. Dan itulah hal yang tidak mampu di jelaskan oleh cermin di rumahmu. Ia hanya mampu membisu. Ketika engkau bertanya. Ia hanya berdiam diri mengikuti bahasa bibirmu. Mengikuti aura dirimu menemani senyum atau airmatamu. Ia tidak mampu jujur kepadamu tentang hal – hal lain yang perlu dikuatkan dalam dirimu.

Ia tidak berani mengingatkanmu atas kelemahan dan kesalahanmu, karena ia takut pecah dan hancur karena ketidaksiapanmu mensyukuri keberadaanmu yang sebenarnya. Suatu ketika ia akan selalu membiarkan kebohongan menemani rekayasa batin yang tidak mampu keluar dari setiap keterbatasan diri. Karena cermin hanya mampu menunjukan jerawat di salah satu sisi wajahmu, atau sekumpulan panu yang tersembunyi dibalik penutup auratmu tanpa mau bicara bagaimana cara mengobatinya. Karena cermin tidak akan pernah mampu menuntunmu keluar dari setiap masalah hidupmu, karena memang ia sendiri tidak mampu mengenali dirinya sendiri.

Ia memang mampu menciptakan bara yang menerangi dimensi kesunyian hatimu dengan nostalgia Cinderella. Ia bagaikan lilin dalam gelap harapanmu, meneranginya sejenak sambil membakar dirinya sendiri. Hingga tak ada lagi harapan yang tersisa selain puing – puing sesal setelah tepian waktumu habis bersama gelisah. Begitulah jamuan awalnya dimulai dengan tipu daya, praduga yang menitipkan asa pada sketsa wajah yang menghayutkan rasa sadar kita pada level dimana nalar terlanjur terjebak dalam samudera hati yang penuh dengan buaian semu syair – syair cinta yang episodenya dimulai dari hasrat kedagingan.

Sahabatku…apa yang kau harapkan dari besi yang pasti akan tenggelam bersama karat lalu keropos tanpa identitas dan tak pernah mampu meninggalkan mutiara bagi pilar – pilar sejarah hidupmu. Begitulah cermin di rumah hanya mampu menunjukan kepadamu refleksi keistimewaan dari plagiat ruang bisu yang takkan pernah mampu bersandung abadi bersama waktu, dan takkan pernah mampu bertahan menembus zaman yang sarat dengan kesah dan peluh.

Nurani tidak melihat sampul luar terlebih dahulu, sedangkan cermin selalu dimulai dari sana, dari pelataran yang jauh dari kerendahan hati. Tapi untuk hati yang bersinar dalam kejujuran nurani, maka ia selalu bersemi dalam keikhlasan hidup yang bermuara dari samudera paradigma yang jauh lebih berharga dari harga sebuah sampul yang paling mahal didunia ini. Jangan!…jangan sekali lagi engkau percayakan cinta kepada apa yang di katakan cermin di rumahmu.

**Dari Salah Satu Buku Terbaru Thufail Al Ghifari(tulisan ini tidak melewati proses edit)

Dunia, Enyahlah!

Hai dunia..
Hai dunia..
Apakah engkau menginginkan diriku?
Atau kepadaku engkau rindu?

Mustahil, mustahil!
Perdayakanlah orang lain..
Aku telah menceraimu tiga kali..
Tidak ada jalan untuk kembali..

Umurmu sedikit, hidupmu hina dan bahayamu besar..
Aduhai betapa sedikit bekal, dan betapa jauhnya perjalanan dalam kesepian di jalan..

Imam Ali bin Abi Thalib ra.