ISLAMKU ISLAMMU ISLAM KITA 3

Angin kehidupan terus bertiup

Waktu selalu setia menemaninya berjalan

Menghias kekompakan siang dan malam

Dan Matahari yang tak lelah iringin putaran bulan di planet ini

Dan aku masih belum bisa memberikan apa – apa

Hanya ingin tetap berusaha ikhlas

Dan coba tuk selalu tegar melawan setiap badai

Dan inilah, masa tranformasi total dalam keislaman yang saya lalui. Benar-benar merubah segala-galanya. Banyak yang nyebutnya taubat, tapi saya lebih suka nyebutnya ketiban hidayah. Inilah dia kawan,  masa SMAku.

Sebagai seorang yang mengedapankan logika dan strategi, wajar jika dari jaman SMP sudah mengatur rencana kira-kira ngapain aja nanti pas SMA. Semua strategi kejahiliahan yang bakal dilakukan pas SMA pun dibuat. Mulai dari PDKT limit mendekati jadian sampai ngapel malam mingguan. Apalagi kemudian diterima di salah satu SMA favorit dikota, makin menjadi aja bayang-bayang ‘kebahagiaan’nya. TETAPI, atas berkat rahmat Allah dan dengan diiringi keinginan yang luhur, semua rencana dan strategi tersebut luluh lantak dihantam badai kepahaman dan kesadaran diri. Inikah yang disebut baligh aka mukallaf??mungkin…

Cerita dulu dikit ya, karena merasa sudah terlalu aktif pas jaman SMP, kegiatan ekstra belajarnya sedikit dieliminir. Galau organisasi. Tapi, karena suatu dorongan, entah dari mana, saya memutuskan untuk masuk ke dalam barisan Al iman, DKM di SMA. Bisa dibilang factor terbesar yang mempengaruhi saya untuk masuk DKM adalah pembinanya yang sekaligus guru agama saya saat kelas X. Namanya pak wirto, biasa dipanggil abah oleh kami.

Beliau adalah salah satu sosok guru agama sekaligus ustad dahsyat yang pernah saya temui. Tak terhitung siswa yang kemudian bertobat dan belajar menjadi muslim yang baik dan benar ditangannya. Tak terhitung pula siswi yang telah dibuatnya berkerudung setelah menangis tersedu dan dalam. Sebagai penggambaran, saya yang cowo saja merasakan ketidakenakan hati yang teramat sangat, saking pedasnya beliau bicara tentang hijab, apalagi teman-teman saya, kaum hawa yang menjadi objek utamanya. Nunduk, mungkin malu belum berjilbab, mungkin juga merenungi tiap perkataannya, ada yang menangis, dan ada yang mungkin berujar, tak akan pernah lagi mendengarkan hal-hal kayak gini.

Luar biasa dahsyatlah. Harus diakui, ditangan beliaulah pemahaman tentang keislaman saya banyak berubah. Sampai sekarang, saya masih ingat materi pembinaan utamanya, ta’lim mutaalim. Betapa pentingnya ilmu, mencari ilmu, dan adab-adabnya dalam mencari ilmu. Dan beliau ini bukan kader suatu partai atau golngan tertentu, mungkin itu yang menyebabkan pancaran keikhlasannya lebih berbinar. Bukan berarti yang menjadi kader tertentu tidak ikhlas lo ya.

Dari pembinaan dan ilmu yang diberikannya, saya yang malas shalat ke masjid. Mencoba belajar untuk shalat di masjid. Walaupun awalnya hanya shalat maghrib dan isya, karena memang shalat jamaah ini yang paling banyak partisipannya. Awalnya, ada rasa malu, teman-teman yang mengalami hal yang sama mungkin paham. Ada yang bilang pak haji lah, ada yang bilang tobat lah, bahkan ada yang bilang kerasukan apaan tuh bocah jadi rajin kemasjid. Sudah puas dengan hal-hal kayak gitu. Dan ini pointnya kawan, awalnya memang banyak yang mencibir, tetapi melihat konsistensi dan perubahan sikap yang kita lakukan, mereka sendirilah yang akhirnya malu. Sebenarnya lebih berharap menjadi inspirasi bagi mereka juga sih. MENIKMATI PROSES,EMANG MENGASYIKAN. Asem manis nona-nonalah pokoknya.*yang bener nano-nano fer…–_____–‘

Setiap ‘cibiran’ semakin menambah semangat saya untuk menjadi muslim yang lebih baik lagi. Pas SMA Shaum sunnah tetep dijalankan, selain mendapat tambahan ilmu tentang keutamaannya, ada alasan lain yang membuat semangat untuk shaum sunnah, apakah itu?? Pas ntu ada yang nemenin. Setidaknya ada teman ‘sependeritaan’ sekaligus, mungkin, teman satu pintu masuk surga. Semoga kita tetap istiqomah kawan!!!

Karena memang materi pembinaan seputar pentingnya ilmu, itu yang membuat saya menjadi lapar akan ilmu. Baik dari buku maupun ta’lim langsung dengan ustad dan syaikh, yang ternyata banyak sekali di kota wali.  Waktu itu, yang paling saya sukai adalah ustad-ustad dari muhammadiyah, markasnya di masjid Teja suar, salah satu nama masjid di Cirebon.  karena saya lihat, cendikiawan muhammadiyah banyak yang memiliki pendidikan yang tinggi, sehingga penjelasannya, menurut saya, lebih enak dan cenderung kekinian. Walaupun saya lebih seneng pakai sarung kalo shalat, hehe.  Adapula belajar dari seorang syaikh, yang tua, namun memiliki tingkat pemahaman alquran dan hadits luar biasa, seorang mufti, dahsyat sekali ternyata tempatku lahir ini, banyak ulama berilmu tinggi bersemayam.

Dan mungkin yang tak terlupakan. Pada saat inilah saya mencoba belajar untuk tidak lagi bersentuhan dengan yang bukan mahrom. Apalagi yang usianya berdekatan. Awalnya susah minta tolong, bagi saya yang dulunya terkenal mudah bergaul dengan wanita, berlipat pangkat lagi susahnya. *disini bahasanya bergaul dengan yah, bukan menaklukan.^^ Ketika jarak tabrak harus dijaga dan bersalaman layaknya bertapa kemudian dipasang didepan dada, seru banget lah prosesnya, kalau diinget-inget jadi mesem-mesem sendiri. sebuah bagian dari keinginan berislam dengan baik. (bersambung aja ya…)

*jangan dikira pas SMA, bahkan sampai sekarang, hidup saya lempeng2 aja, tetep sama, kadang tersandung juga bahkan terpeleset dijalanan rata. tapi saya yakin setiap jalan yang kemudian Allah berikan merupakan bagian dari tarbiyah kepada saya untuk bisa lebih memaknai arti hidup dan kehidupan. bersyukur banget deh intinya atas segalanya. dan menjadi pribadi yang selalu belajar untuk berubah menjadi lebih baik adalah cita-cita sepanjang hayat dari yang nulis tulisan ini. bukan hanya saya deh kayaknya, kawan-kawan semua juga kan??

Karena ku yakin

Hidayah adalah mutlak milik-Mu

Sang Maha Pembolak-balik hati

Karena menurutku

Hidayah adalah

Ketika Engkau memberikan

Pengetahuan tentang nilai-nilai

Kebaikan, kebenaran dan keindahan islam

Dan ketika Engkau

Menggerakan hati kami

Untuk menunaikan

Setiap pengetahuan yang Engkau Anugerahkan

dengan disertai keikhlasan

Maka tiap saat ku berdoa

Semoga Engkau senantiasa

Memberikan Rahmat dan Hidayah-Mu

Kepada kami, semua

 

Karena aku tahu rizki ku takkan mungkin di ambil orang lain, karenanya hatiku tenang
Karena aku tahu amalku takkan mungkin dilakukan orang lain, maka aku sibukkan diriku beramal
Karena Allah maha mengetahui dan melihat, maka aku malu bila Allah mendapatiku bermaksiat
Karena aku sadar kematian selalu menantiku, maka persiapkanlah bekal sebelum kita berjumpa dengan sang khalik
(hasan al basri)

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: