PERSEPSI DAKWAH KAMPUS

Da’wah Kampus, tidak banyak perbedaan dengan da’wah lainnya, da’wah kampus tetaplah da’wah, apa yang dida’wahkan tetaplah sama, da’wah yang satu, yaitu da’watunnas ilAllah, da’watunnas ilal khoir (Islam). Da’wah kepada Allah dan Islam, sampai kapanpun pengertian da’wah tidak boleh berubah dan bergeser, yaitu mengajak manusia untuk ta’at kepada Allah dan mengajak manusia untuk memahami Islam dengan benar (Islam sebagai sistem yang sempurna) sampai ia menerapkannya dalam kehidupan individu dan bertekad untuk menegakkannya sebagai sistem hukum. Yang membedakan da’wah kampus dengan da’wah yang lain hanyalah pada segmentasi objeknya, yaitu orang-orang yang berada di lingkungan kampus, khususnya para sivitas akademika (mahasiswa, dan dosen).

Berbicara mengenai objek, maka yang harus diperhatikan adalah prosesnya, karena objek mempunyai karakteristik. Objek yang berbeda karaktersitiknya tentu harus mendapatkan proses yang berbeda, sebagai analogi sederhana, 4 orang yang sama-sama ingin membuat kursi mendapatkan 4 bahan baku yang berbeda yakni batang kayu, rotan, bambu, dan plastik, pastinya mereka membuat kursi dengan menggunakan proses yang berbeda-beda dan nantinya akan sama-sama menghasilkan kursi yang juga mempunyai karakteristik yang berbeda, bahwa pada akhirnya output nya pun akan mempunyai karaktersitik yang berbeda, tetapi tetap tidak melenceng dari tujuan utamanya, yaitu sebuah kursi. Dari analogi tersebut bisa kita lihat bahwa karakteristik objeklah yang menentukan proses seperti apa yang cocok (applicable), dimana proses tersebut akan sangat menentukan hasil.

Karakteristik kampus atau perguruan tinggi adalah bahwa ia terdiri dari sebagian besar kaum muda (mahasiswa), terpelajar, dan kental akan nuansa ilmiah. Muda identik dengan semangat, ketegasan, dan keberanian (independen, hanya berpihak pada kebenaran, terbuka, jujur, apa adanya), terpelajar identik dengan kepandaian, dan ilmiah identik dengan fakta, eksperimen, analisa, dan logika. Maka da’wah kampus sebagai sebuah proses seyogyanya memperhatikan karakteristik dari objeknya tersebut di atas sehingga akan mendapatkan sambutan (penerimaan) yang baik dan proses akan menjadi lebih efektif. Penerimaan yang baik akan da’wah kampus dapat tercapai jika kita dapat menghargai kepandaian mereka, kemandirian mereka, semangat mereka, dan nuansa ilmiah yang ada. Bahwa Da’wah kampus seyogyanya lebih kental dalam pemikiran, memperbanyak kajian, forum-forum diskusi, dan eksperimen, menghargai karya tulis (yang merupakan buah dari ide dan gagasan), menanamkan budaya egaliter (sehingga tidak membatasi kreatifitas dan eksplorasi pemikiran), ekspresif, dan menunjukan independensi.

Karakteristik Da’wah Kampus:
1. Membawa Da’wah Islam yang orisinil (Aqidah, Ibadah, dan Sistem), setiap aktifitas Da’wah Kampus berorientasi pada penyebaran fikroh
2. Objek utama da’wah kampus adalah Sivistas Akademika: mahasiswa dan dosen
3. Menghidupkan nuansa ilmiah: aktifitas da’wah kental dengan pengungkapan fakta dan sejarah, studi ilmiah, eksperimen, forum diskusi, dan tulisan-tulisan.
4. Gerakan yang wajar: independen dan mandiri (tidak ter-kooptasi dengan elemen/lembaga eksternal terlebih lagi partai politik), mekanisme pencerdasan, mobilitas yang natural.
5. Oposan terhadap pemerintahan yang zhalim
6. Melatih Kepemimpinan: mendukung aktualisasi dalam berorganisasi, menghidupkan aktifitas sosial dan pelayanan, memimpin keteladanan (dalam hal ibadah, akhlaq, pengetahuan agama, nilai akademis)

Pemahaman terhadap fikroh Islam secara utuh dan orisinil, menjadi orientasi utama dalam setiap aktifitas da’wah kampus. Islam itu tinggi karena dia adalah solusi yang tidak akan pernah terealisasi tanpa penerapannya sebagai sistem yang utuh (dalam konteks negara). Tetapi tidak hanya syi’ar yang sebatas teori tentang negara, tapi juga tentang nilai, aqidah, ibadah, dan ilmu yang semuanya secara menyeluruh merupakan pengejawantahan ketaqwaan dan ketundukan manusia yang sesungguhnya kepada Zat yang maha Agung, Allah Azza wa Jalla. Sesuai dengan inti da’wahnya da’watunnas ilAllah, da’watunnas ilal khoir (Islam).
Bahwa da’wah yang seharusnya adalah da’wah yang terang benderang (fasda’ bima tu’maru…Al-Hijr: 94), tidak ada kebenaran yang disembunyikan, terlebih lagi kampus adalah ladang da’wah yang sangat kondusif untuk itu. Di sana terdapat banyak pemuda yang terpelajar, berani, fair, dan cerdas, juga terdapat nuansa ilmiah yang sangat kondusif. Ketika kita yakin bahwa fikroh dan manhaj ini benar, maka kampus adalah lahan da’wah yang sangat sempurna untuk menyebarkan fikroh dan manhaj itu secara akseleratif, tempat dimana para ADK dapat melakukan berbagai eksperimen, mengembangkan pemikiran, dan berani menguji pemikiran tersebut secara ilmiah dihadapan sivitas akademika secara umum bahkan dihadapan publik. Ketika yang dihandalkan hanyalah gerakan yang bersifat kultural, khawatir akan merendahkan intelektualitas dan budaya ilmiah yang ada di kampus.

Kami ingin berterus terang kepada semua orang tentang tujuan kami, memaparkan dihadapan mereka metode kami, dan membimbing mereka menuju dakwah kami. Di sini tidak ada yang samar dan remang-remang. Semuanya terang. Bahkan lebih terang dari dari sinar mentari, lebih cerah dari cahaya fajar, dan lebih benderang dari putihnya siang…..
Dakwah ini tidak mengenal sikap ganda. Ia hanya mengenal satu sikap totalitas. Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama dakwah dan dakwah pun melebur dalam dirinya……
Kami mengajak manusia kepada suatu ideologi. Ideologi yang jelas, definitif, dan aksiomatik. Sebuah ideologi yang mereka semua telah mengenalnya, beriman padanya, dan percaya akan kebenarannya. Mereka juga tahu bahwa ideologi itu merupakan jalan menuju pembebasan, kebahagiaan, dan ketenangan dalam kehidupan ini. Sebuah ideologi yang telah dibuktikan oleh pengalaman dan disaksikan oleh sejarah akan keabadian dan kelailannya dalam menata dan menyejahterakan kehidupan manusia…….
(Hasan Al-Banna, Da’wah Kami, Risalah Pergerakan)

Kaum muslimin pada periode awal tidak pernah mengenal dan mengimani Islam dengan pemahaman seperti ini (parsial). Islam menurut mereka adalah agama dan daulah, mushaf dan pedang…..Jika dikatakan kepada kalian, “Ke mana kalian mengajak?” Katakanlah, “Kami mengajak kepada Islam yang diturunkan kepada Muhammad saw. Pemerintahan adalah bagian darinya dan kemerdekaan adalah salah satu (kewajiban) di antara sekian banyak kewajibannya.” Jika dikatakan bahwa pernyataan ini berbau politik, maka katakanlah,”Itulah Islam, dan kami tidak mengenal pemilahan-pemilahan yang parsial seperti itu.” ……
Kami bukan partai politik, meskipun politik sebagai salah satu pilar Islam adalah prinsip kami. Kami bukan yayasan sosial dan perbaikan, meskipun kerja sosial dan perbaikan adalah bagian dari maksud besar kami. Kami bukan klub olah raga, meskipun olah raga dan olah rohani menjadi salah
satu perangkat terpenting kami. Kami bukan kelompok-kelompok macam itu semua, karena itu semua diciptakan untuk tujuan parsial dan terbatas, untuk masa yang terbatas pula…..
Namun wahai sekalian manusia, kami adalah pemikiran dan akidah, hukum dan sistem, yang tidak dibatasi oleh tema, tidak diikat oleh jenis suku bangsa, dan tidak berdiri berhadapan dengan batas geografis. Perjalanan kami tidak pernah berhenti sehingga Allah swt. mewariskan bumi ini dengan segala isinya kepada kami, karena ia adalah sistem milik Rabb, Penguasa alam semesta, dan ajaran milik rasul-Nya yang terpercaya……. (Hasan Al-Banna, Kepada Para Pemuda dan Secara Khusus Kepada Para Mahasiswa, Risalah Pergerakan)

Tidak bisa dipungkiri bahwa jama’ah Ikhwanul Muslimin adalah jama’ah yang berkhidmat kepada masyarakat untuk memberikan pelayanan kepada mereka, seperti membangun masjid dan memakmurkannya; membangun sekolah; membangun kantor-kantor dan mengurusnya; mendirikan lembaga-lembaga sosial dan membimbing serta memelihara kelangsungannya. Namun, Ikhwanul Muslimin bukan sekedar itu. Inti dakwah mereka adalah fikrah dan akidah yang ditanamkan dalam jiwa-jiwa manusia, sehingga opini umum di masyarakat terwarnai oleh fikrah dan akidah tersebut.
(Hasan Al-Banna, Da’wah Kami di Era Baru, Risalah Pergerakan)

Tujuan da’wah kampus seyogyanya adalah membentuk pribadi-pribadi yang memahami betul fikroh Islam secara utuh dan orisinil, dan fikroh Islam sebagai solusi yang sempurna menjadi opini umum di dalam kampus dan mewarnai masyarakat hingga dapat membimbing masyarakat sampai mereka menerima dan bersepakat akan fikroh yang utuh dan murni dengan pemahaman yeng jernih dan tulus, sehingga ikut terlibat dalam memperjuangkan penerapan fikroh yang semuanya tentu diawali terlebih dahulu dengan islahu nafsih (perbaikan individu sehingga menjadi pribadi yang Islami) dan takwinu baitul muslimin (pembentukan keluarga yang Islami), sekalipun mereka tidak terikat dengan struktur organisasi. Dakwah kampus memiliki kesempatan yang besar dalam mencapai itu semua, dengan objek da’wah yang haus akan ilmu dan pemikiran, juga lingkungan kampus yang kondusif untuk bertumbuh kembangnya setiap pemikiran yang ada.

Dan kampus (yang notabene terdiri dari mahasiswa, dosen, peneliti dan para ahli) mempunyai peranan yang sangat penting terhadap akselerasi nashrul fikroh di medan da’wah yang lain. Kita bisa melihat, bahwa sampai hari ini para peneliti dan ahli dari lingkungan perguruan tinggi masih menjadi rujukan dalam pengentasan berbagai permasalahan di berbagai macam aspek. Tak terbayang seperti apa pengaruhnya jika seorang rektor perguruan tinggi sekuler ternama melontarkan pernyataan “saatnya Islam dan syari’atnya menjadi solusi untuk Indonesia” yang disampaikan dihadapan publik atau forum-forum ilmiah, lalu dia dapat menjelaskan nya dengan berbagai argumentasi ilmiah.

Bukanlah da’wah yang tergesa-gesa, karena justru dimulai dengan fase paling awal yaitu fase ta’rif.
Ta’rif: Yakni fase penyampaian, pengenalan, dan penyebaran fikrah, sehingga dia bisa sampai kepada khalayak dari segala tingkatan sosial. (Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan)
Di saat Islahul Hukumah sedang populer, di mana banyak yang berbondong-bondong meraih kursi kekuasaan atas nama “Perbaikan”, maka itu bukanlah Islahul Hukumah dalam pengertian yang tepat karena cara tersebut justru banyak melewati marhalah yang belum tuntas. Karena Islahul Hukumah harus signifikan (totalitas dan orisinil), dan itu hanya dapat dimulai dengan terlebih dahulu mencapai ishlahu nafsih, takwinu baitul muslimin, irsyadul mujtama’, dan tahrirul wathon dengan definisi tersendiri yang pernah disampaikan oleh imam syahid Hasan Al-Banna.

Barangkali bisa dipahami jika nasehat dan pengarahan sang pembaharu ditanggapi oleh kalangan eksekutif yang respek terhadap seruan-seruan Allah dan Rasul-Nya. Namun, kenyataannya kini tidaklah demikian. la sebagaimana anda lihat, ibarat syariat Islam yang ada di suatu lembah, sementara pelaksanaannya berada di lembah yang lain. Oleh karena itu, diamnya para pembaharu Islam dari tuntutan diberlakukannya hukum Islam adalah dosa besar yang tidak terampuni kecuali dengan mengambil alih pemerintahan dari tangan mereka yang tidak mau menegakkannya. Ini adalah kalimat yang telah jelas, dan kalimat itu bukan datang dari kami sendiri. Kami hanya mempertegas apa-apa yang telah ditetapkan hukum Islam itu sendiri. Oleh karena itu, Ikhwanul Muslimin tidak menuntut tegaknya pemerintahan untuk kepentingan dirinya dan kelompoknya. Jika Ikhwan mendapati di tengah umat terdapat orang yang siap untuk memikul beban, melaksanakan amanat, dan berhukum kepada sistem Qur’an, mereka siap menjadi tentara, pembela, dan penolongnya. Namun, jika ternyata tidak mendapatkannya, maka tetaplah pemerintahan itu menjadi bagian dari manhaj Ikhwan. Mereka akan terus bekerja dalam rangka membersihkannya dari tangan-tangan penguasa yang tidak mau melaksanakan hukum Allah. Dari itu, Ikhwan berpikir lebih dalam dan lebih jernih dari sekedar bagaimana menjadi pemimpin, sementara umat masih berada dalam kondisi yang tidak menentu. Harus ada tenggang waktu di mana prinsip-prinsip Ikhwan tersebar dan memasyarakat. Kemudian, masyarakat harus belajar bagaimana mendahulukan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Sesungguhnya, khithah perjalanan kalian telah tergambar langkah-langkahnya dan telah jelas batas-batasnya. Saya tidak ingin melanggar batas-batas yang telah saya yakini ini, karena ia merupakan jalan yang paling tepat untuk sampai pada tujuan. Memang, mungkin jalan itu terlalu panjang, namun ketahuilah bahwa tidak ada alternatif yang lain {untuk sampai tujuan) kecuali dengannya. Sesungguhnya, kejantanan itu akan teruji dengan kesabaran, ketabahan, kesungguhan, dan kontinyuitas amal. Barangsiapa yang menginginkan memetik buah sebelum matangnya, atau memetik bunga sebelum merekahnya, maka saya tidak mendukungnya sedikit pun. Lebih baik dia hengkang dari jaringan dakwah ini dan bergabung dengan yang lainnya. Namun, bagi mereka yang bersabar bersama kami sampai benih itu tumbuh, sampai pohon itu berbuah dan sampai tiba waktunya buah itu untuk di petik, sungguh pahalanya hanya ada di sisi Allah. Allah tidak akan sekali-kali melenyapkan pahala orang-orang yang berbuat ihsan, bisa jadi berwujud sebuah kemenangan dan kemuliaan atau anugerah mati syahid dan kebahagiaan abadi di akhirat.
(Hasan Al Banna, Muktamar ke Lima, Risalah Pergerakan)

Dalam kalimat Beliau di atas juga cukup jelas dipaparkan bahwa Ikhwanul Muslimin tidak akan mengambil pemerintahan jika, pertama: tidak ada calon pemimpin yang siap berhukum dengan sistem Qur’an lalu menjadi pembela dan penolongnya, kedua: umat masih berada dalam kondisi tak menentu, jauh dari nilai-nilai Islam, maka harus ada tenggang waktu.

Wallahu ‘alam

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: